Jumat, 03 Juli 2015

Masa Muda Dan Hal Hal yang Tak Selesai

Bagaimana merayakan masa muda? Chairil dalam puisinya bercerita tentang egoisme, perayaan akan hidup, tentang Aku yang kumpulan terbuang dan ingin hidup 1000 tahun lagi. Tapi sebenarnya apa yang membuat masa muda layak dijalani? Keterasingan, pemberontakan, rasa kantuk di sekolah, tekanan kawan juga keinginan untuk menunjukan eksitensi diri. Pada satu titik, ia direpresentasikan dengan kata angst. Ketercerabutan identitas diri yang mencoba keluar dari norma dan kepantasan mapan

Bedchamber, sebuah band asal Jakarta, merayakan eskapisme itu dengan sempurna. 2014 lalu mereka merilis Extended Play (EP) perdana mereka yang bertajuk Perennial yang dirilis oleh Kolibri Rekords. Band yang beranggotakan Ratta Bill Abaggi (vokal dan gitar), Abi Chalabi (gitar), Smita Kirana (bas), dan Ariel Kaspar (drum) memainkan lagu-lagu yang bukan hanya jujur namun tulis merayakan perasaan. Anda tidak harus berusia belasan tahun untuk merasakan kegelisahan dalam lagu lagu mereka.

Bedchamber baik didengar oleh mereka para remaja. Label remaja sebenarnya mereduksi banyak hal, namun mendengarkan Perennial akan membuat anda merasakan ekstase sebuah periode waktu. Saat-saat ketika anda abai, apolitis, merengut, mudah bosan dan meledak-ledak. Bedchamber secara estetik menggambarkan proses tumbuh dewasa dengan bernas. Melalui permainan gitar yang sederhana, vokal yang malas, dentuman bass yang repetitif dan tabuhan drum yang efektif, band ini purwarupa dari malaise anak muda Jakarta.

Perennial adalah musim panas yang tidak pernah kita rasakan di Jakarta, namun sering kita akrabi di film-film niche holywood. Segala suara, ketuk nada juga peluh keringat yang dirasakan dalam album ini adalah tentang musim panas. Saat dimana gelora perasaan memuncak, kegelisahan berganda dan pemberontakan sedang galak-galaknya. Meski demikian ia menyimpan perasaan-perasaan paling jujur, tentang jatuh cinta lantas berpisah, atau tentang berharap lantas kecewa.

EP ini dibuka dengan lagu Derpature. Sebuah perayaan nisbi akan kata-kata, instrumen merayakan kebebasannya, untuk kemudian vokal malas Ratta perlahan masuk. Suara Ratta tidak dominan, ia redup, memberikan ruang pada suara drum dan gitar untuk mengisi lorong-lorong sepi dalam lagu ini. Serupa gapura gang sempit di kampung-kampung Jakarta, Departure menyediakan ruang untuk beradaptasi. Ia mengingatkan anda pada peristiwa kedatangan yang secara ironis membawa melankolianya sendiri.

Lagu kedua sekaligus single yang menjadi andalan mereka, Youth merupakan anthem dari liburan panjang setelah kuliah yang membosankan. Single ini radio friendly, punya potensi untuk membuat siapapun yang mendengarnya jatuh cinta, terutama jika anda menyukai kesendirian. Lagu ini mengingatkan saya pada mereka yang bosan, di sepanjang perjalanan kereta atau transjakarta yang penuh sesak dengan manusia.

Petals akan mengingatkan anda pada ending muram dari kisah 1.000 kunang-kunang di Manhatan milik Umar Kayam. Ia, barangkali, adalah lagu tentang identitas. Proses mencari jati diri yang kerap kali melelahkan dan membuang waktu. Seperti dalam kisah Umar Kayam, seseorang mesti pergi jauh ke negeri yang lain, untuk menyadari bahwa dirinya adalah satu individu yang terikat oleh rumah. Petals menguliti perasaan anda dengan perlahan dan bengis.

Bedchamber secara komikal merepresentasikan secara negatif lagu masyur Oma Irama, Darah Muda. Mereka bersenang-senang dengan cara mereka sendiri, tidak ada pretensi menjadi snobs dalam Perennial, sejauh ini hingga lagu ketiga yang bertajuk Myth. Myth menjadi sebuah lagu yang membawa anda pada tahap muram kesadaran masa silam. Bahwa menganggap masalah selesai dengan kepura-puraan adalah bentuk lain kedunguan.

Bedchamber praktis hanya menjadi juru bicara kegelisahan anak muda dengan segala masalahnya sendiri. Sentimentil namun banal, klise namun serius dan segala paradoks yang menyertainya. Kita bisa melabeli band ini dengan banyak hal. Indie-pop, surf pop, post punk dan segala hal yang membuat mereka mesti diletakkan dalam kotak genre yang menyusahkan. Namun satu hal yang jelas, band ini layak menjadi bintang.

Perennial menjadi penutup yang indah. Ia tidak berlebihan, cukup, sederhana dan manis. Seperti dua potong puding coklat setelah makan malam yang riuh. Perennial hangat, lirik yang kuat, musik yang cukup asik untuk membuat sepasang anak muda kasmaran untuk berdansa seolah mereka tidak akan pernah putus. Bedchamber bagi saya adalah segala hal bernama bersenang-senang, ia bicara tentang banyak masalah, namun tidak pernah menuntaskannya. Sesederhana karena mereka mudah bosan dan menjadi dewasa adalah pilihan untuk masuk dalam dekade muram tanggung jawab.

Maka jika anda sedang dalam masa pertumbuhan, menjadi remaja, atau masuk dalam fase deasa yang kepalang membosankan, Perennial boleh jadi adalah mercusuar baru untuk mengarahkan anda pada sebuah jalan lain yang lebih segar.

Rabu, 01 Juli 2015

Berusaha Memahami Hobgoblin

Bagaimana melepaskan Sajama Cut, sebuah band dengan eksperesi artistik megah, dari Marcel Thee vokalis sekaligus musisi dengan banyak capaian dalam komunitas musik independen Indonesia? Barangkali jawabannya adalah tidak perlu, tidak perlu disibukan dengan hal-hal rumit semacam itu. Beberapa musik memang asik ditelaah sebagai kajian kebudayaan populer, namun Sajama Cut band asal Jakarta ini, hanya perlu didengar untuk membuat kita jatuh cinta pada musik mereka.

Lima tahun lalu Sajama Cut merilis album Manimal, kali ini mereka kembali menghadirkan album keempat mereka dengan tajuk Hobgoblin yang berisi 11 lagu. Album ini menjadi istimewa karena sempat menggandeng beberapa seniman muda kontemporer untuk membuat ilustrasi huruf dari album Hobgoblin. Tidak hanya itu mereka juga menggandeng Dwi Putripertiwi, seorang penyair muda, untuk menyumbangkan puisi. Hasilnya adalah sebuah promosi brilian yang menurut saya, sukses secara artistik dan juga secara pemasaran.

Band ini beranggotakan Marcel Thee (vokalis yang juga menguasai berbagai alat musik), Dion Panlima Reza (gitar), Randy Apriza Akbar (bas), dan Hans Citra Patria (synthetizer). Saya sendiri pertama kali mendengarkan album Sajama Cut melalui Osaka Journal yang dirilis dalam bentuk Vinyl oleh Elevation Records. Susah untuk mendefinisikan genre musik mereka, namun satu hal yang pasti Sajama Cut memiliki karakteristik yang segar dan sama sekali berbeda dengan band-band kebanyakan di Indonesia.

Pada wawancara bersama Kompas, Marcel mengatakan bahwa Album ini telah direkam sejak lama. "Dari album yang terakhir pada 2010, Manimal, kami langsung rekam draft-draft awal. Prosesnya lama karena banyak penggubahannya sih. Mulai 2011 aku sudah kerjain sendiri aransemen-aransemen awalnya. Mulai 2013 anak-anak masuk dan mulai mengisi," katanya. Hasilnya memang membuat bulu kuduk berdiri, Single pertama yang diluncurkan Bloodsport langsung membuat saya jatuh cinta.

Hobgoblin menyapa anda dengan sebuah avant propos berjudul History of Witches. Dengung synthesizer dan piano yang malas dan suara Marcel yang kelelahan membuka album ini seperti epos panjang rasa bosan yang menemukan akhirnya. Dibanding album sebelumnya Manimal dan The Osaka Journal, Sajama Cut pada album ini terdengar lebih progresif, matang dan penuh kejutan daripada album sebelumnya.

Lagu berikutnya adalah Bloodsport yang sangat catchy dan melenakan. Ia bisa diputar berkali-kali, berjam-jam, tanpa takut berubah menjadi membosankan. Aransemen yang subtil dengan lirik yang entah apa artinya. Jangan salah, lirik-lirik yang ditulis oleh Marcel butuh dibaca berulang untuk kemudian bisa dimaknai. Meski demikian seperti setiap puisi, barangkali musik dan lirik Sajama Cut tidak harus dipahami dengan kening berkerut, namun dinikmati dengan mata terpejam.

Proses kreatif selama lima tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Setiap personil Sajama Cut membawa bagasinya masing masing, sehingga musik yang dilahirkan benar benar membuat anda mengumpat. The German Abstract adalah lagu yang secara personal memiliki pesona untuk jadi yang terbaik dalam keseluruhan album ini. Dosis masing masing instrumen tertata, bahkan petik bass dan keyboard menjadi begitu harmonis. Sebuah anthem yang mesti didengar oleh mereka yang kelelahan setelah pulang bekerja.

Curtains for Euro dibuka dengan dentum drum yang megah. Seolah menjadi lagu pengukuhan seorang raja muda dari kerajaan yang berada di ujung perang saudara. Pada beberapa bagian lagu ini efek synthesizer menghadirkan imaji tentang paduan suara dari barisan ksatria yang muram. Sementara Beheadings adalah satu dari tiga lagu instrumental dalam album ini. Lagu ini mengingatkan saya pada fragmen Ulysses ketika Buck Mulligan mengucapkan Introibo ad altare Dei. Sakral namun profan dalam saktu waktu.

Dinner Companion sebaiknya tidak didengar oleh sarjana sastra yang tengah risau menyelesaikan skripsi mereka. Entah mengapa lirik pada lagu ini membuat saya membayangkan sebuah kamar kosan seorang sarjana semester akhir yang tengah berkutat dengan skripsi. Di tengah kesuntukan ia memutuskan keluar dari kamar dan melakukan perjalanan yang membawanya pada sebuah pertanyaan. Buat apa kuliah? Serta berbagai pertanyaan hidup yang bekelebat seperti video rusak.

Fatamorgana memberikan anda sebuah puisi tentang sisa hari yang membosankan. “Songs that you sing, we can hope it causes a sound, We can gather the right around, it can be a victory ground," tulis Marcell. Mendengarkan lagu ini di angkot, metromini dan belakang alphard akan menghadirkan sihir yang sama. Sebuah kesadaran akan hidup yang melambat dan sia-sia, namun patut diperjuangkan.

House of Pale Actresses adalah lanskap biru dari Jakarta pada minggu sore. Manusiawi, kalis dan menghadirkan kecintaan pada hal-hal yang selama ini hanya mampu melukai. Nomor instrumental ini lantas dilanjutkan dengan Recollecting Instances sebuah kemegahan yang percuma diterjemahkan dalam kata-kata, ia hanya bisa didengar lantas diumpat karena mampu menggali tiap-tiap elemen emosi kita dengan lirik yang kuat dan musikalitas yang prima.

Compassion adalah lagu insturmental terakhir sekaligus ketiga dalam album Hobgoblin. Ia seperti jeda untuk sebuah badai yang akan datang menerjang dan memang tepat. Rest Your Head on the Day adalah lagu pamungkas yang membuat anda akan berhenti melakukan apapun. Duduk terdiam, menyeringai untuk kemudian dipaksa ambruk oleh suara lembut Marcel yang membaca puisi tentang betapa hidup anda sebenarnya berantakan. Ia tidak sedang berkotbah, ia sedang menunjukan, bahwa barangkali anda butuh waktu untuk merenung serta kembali menyadari betapa nisbi hidup yang penuh kepalsuan.

Sulit untuk menempatkan pada genre apa Sajama Cut mesti diletakkan. Karena label akan mereduksi segala kerja-kerja estetik mereka dalam membuat musik. Marcel mengatakan bahwa Sajama Cut bukanlah band yang pernah dapat dirangkum dengan satu kalimat, baik indie-rock, alternative, punk, shoegaze, lo-fi, atau apapun yang ingin disebut orang. “Di album ini hal itu jadi bukti. Elemen-elemennya begitu banyak, dari rock berbagai era, pop berbagai era, ambient dan punk berbagai era. Kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosankan dan tidak organik," tutur Marcel.