Rabu, 17 September 2014

#17

Beberapa hal selayaknya diakhiri sebelum ia dimulai. Seperti perang dan juga perasaan kita. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang aku benci, sementara kau tak mungkin menyakiti orang yang kau cintai. Kita diikat oleh banyak kebencian-kebencian masa silam yang bahkan aku tak paham rupa wajahnya. "Kita hanya sekedar menunggu mati, sementara keabadian yang kau sebut duka adalah karibku selama ini," katamu pada satu siang yang penuh dengan hujan.

Aku percaya perasaanku ini jujur, tapi aku juga percaya perasaanku ini sementara. Bahwa yang aku sebut cinta ini bisa tidak lebih penting dari perdamaian dunia, atau tentang tumpukan sampah yang mesti segera dibersihkan, atau bahkan tentang wangi subuh yang kita hidu seusai tidur. Perasaanku adalah bunyi egois dari kesunyianku sendiri.

Aku jatuh cinta pada segala kesederhanaanmu, seperti usahamu membaca buku atau menyingkirkan jaring laba-laba di sudut kamarmu. Tentang caramu berdoa saat misa, juga caramu menyingkirkan dengan sabar biji anggur sebelum memakannya dengan yogurt dingin, atau caramu memiringkan wajah ketika kau bingung akan sesuatu.

Segala tentangmu adalah perayaan tentang rindu. Tentang sebuah perasaan yang semestinya tidak ada. Aku dan kamu bukan siapa-siapa, bukan kekasih, hanya sepasang orang asing yang bertemu pada irisan nasib yang kepalang brengsek. Kita dipertemukan hanya untuk membuatku tersiksa dengan kerinduan-kerinduan yang tidak perlu.

Ah yang aku sebut rindu, barangkali ia serupa tatapan matamu yang marah. Ketika kau dibalik kacamatamu yang tebal, dengan warna bola mata seindah lumpur sawah itu, menatap mataku dengan dingin. Kemarahanmu adalah azan subuh, barangkali ia pengingat yang malas. Tapi bukankah kita belajar untuk menjaga perasaan? Untuk tetap diam dan bekerja dengan baik. Karena dalam ruangan ini, cinta, amarah dan juga sengketa rindu adalah remeh temeh yang tak lebih baik daripada sisa kulit pisang. 

"Murakami adalah dewa. Ia selayaknya menerima pulitzer, booker prize dan Nobel sekaligus," katamu seusai Alice Munro dikabarkan memenangkan Nobel. Tapi hidup tidak sesederhana itu sayangku. Kita membenci kesederhanaan, kita membenci segala yang jelas dan terang. Kita terlalu lama terpaut dan jatuh cinta pada kerumitan hingga segalanya menjadi tidak sederhana. Kau dan aku selalu memandang dekat, mencuri waktu untuk mengagumi kegelisahan masing masing, tapi aku dan kau tahu itu tidak selayaknya dilakukan. Ia tidak boleh dilakukan. 

Beberapa hal selayaknya diakhiri sebelum ia dimulai. Seperti teluh dan kebencian, perasaanku padamu semestinya dihentikan.

Kamis, 11 September 2014

#16

Ini bukan perpisahan. Ini pamit akan sebuah jarak yang harus kita ciptakan agar tetap waras. Kamu dengan lelakimu, aku dengan kesendirianku. Tidak perlu ada drama yang dibesar-besarkan. Ini sikap orang beradab yang memahami kalau cinta itu bisa jadi sekedar dorongan impulsif hormon. Tentu aku ingin memilikimu, mendekap erat kamu, dan berpelukan hingga pagi tiba seperti dulu. Tapi aku tahu kamu tak mau, dan aku sadar aku tak bisa. Ini adalah permohonan pamit, bukan sebuah perpisahan.

Peristiwa ini jangan kamu terjemahkan sebagai sebuah pedih. Karena kamu dan aku tahu, segala yang asing telah kita resapi sebagai percakapan tentang kegilaan masa muda. Tentu ada ngilu saat aku mengingatmu begini. Tentang sajak-sajak yang tak selesai, catatan akan kenangan, rasa rindu, atau bahkan perbincangan mengenai filsafat ruang yang memakan energi terlalu banyak daripada yang diperlukan.

Tapi bukankah ini yang membuat kita saling jatuh cinta sayangku? Tentang kita yang selalu mencoba merumuskan masa depan. Namun waktu meningkahi kepongahan kita atas rencana-rencana yang kita bisikan pada Tuhan, yang tentu saja Ia tertawakan. Kita pernah sangat bahagia, aku menghidu wangi tubuh telanjangmu. Menelusuri lekuk tubuhmu, berbagi beban dan kisahmu. Juga tentang ketakutan-ketakutan yang tidak kita pahami keberadaannya.

Maka ada baiknya segala kegelisahan ini kita akhiri saja. Karena serupa mazmur yang berakhir pada pasal-pasal pengampunan. Aku menunggumu untuk bahagia, dengan menjaga jarak ini.