Rabu, 21 Januari 2015

#20

Ada beberapa hal yang semestinya tidak perlu diperjuangkan dan selayaknya dibiarkan mati. Tapi ada beberapa hal yang nyala hidupnya mesti dijaga apapun harganya. Seperti harapan tentang kebahagiaanmu, tentang doa-doa yang aku panjatkan untukmu, juga beberapa janji yang belum aku penuhi padamu. Kita pernah berdiskusi tentang mimpi-mimpi, kita pernah saling menggenggam tangan, memandang petang yang menyebalkan di kota ini. Tapi kita tahu, bahkan kadang doa dan harapan tidak cukup. Ia tidak pernah cukup.

Mari kita bicara tentang hujan. Kita bicara tentang langit yang keruh dan peradaban yang basah. Di mana segala yang muram, kelam dan pekat adalah pertanda kehadiran. Hujan adalah sebuah peristiwa magis, ia menyimpan terlalu banyak cerita, juga kenangan barangkali luka. Tapi siapa yang tidak pernah terluka? Hujan, seperti juga pucat wajah hidup kita, adalah tempat segala dosa dibasuh, doa diperbaharui juga saat di mana pantai-pantai melabuhkan kebencian. Kebencian tentang keadaan yang membuat kita terpisah.

Hujan seperti juga bir, menyediakan ketenangan di ujung getir. Ada sekilas manis ketika tanah basah, melepaskan aroma ketiak ibu bumi. Lalu seusai malam tiba dan sebelum pagi pergi, tanah yang basah, juga genangan-genangan membawakan kita kisah kelam yang mengunduh pergi untuk berharap lagi. "Mungkinkah kita bersama lagi?" tanyamu pada suatu pagi. Siapa yang bisa meramalkan kepastian? Bahkan hujan pernah datang ketika hari sedang terang benderang.

Selalu ada yang tak selesai dibilas oleh hujan. Tidak juga dengan banjir bandang atau bahkan pekat malam yang usang. Apa yang kamu kira selamanya, barangkali tidak akan bertahan lebih dari 10 hari. Keabadian itu adalah hal yang menakutkan, sama menakutkan dengan menjadi dewasa lantas getir dan pahit terhadap segala peristiwa. Tahukah kamu apakah itu getir? Ia adalah ketika kamu tidak lagi mencintai pelangi dan tidak lagi menangis ketika membaca doa.

Sebenarnya apa yang kita cari? Sepertinya pada setiap perjumpaan kita tak pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Kepergian, seperti juga kematian, adalah keniscayaan yang sering kali gagal dimengerti. Tapi apa gunanya mengerti perpisahan? Setiap hari kita bertemu dengan hari yang baru, orang yang baru dan juga masalah-masalah baru. Hidup terlampau rumit untuk menuruti segala melankolia, seperti hujan yang datang tiba-tiba, hidup semestinya dibiarkan begitu saja tanpa dipahami.

Mungkinkah kita bisa melupakan dan merelakan? Sementara terlalu banyak hal yang tidak kita selesaikan. Selalu ada yang tidak selesai diceritakan hujan pada bulan Desember. Tapi apakah meratap dan menunggu akan membuat segalanya selesai? Lanskap perasaan kita begitu rumit untuk bisa dipahami bahkan oleh para filosof. Kengerian-kengerian perasaan kita adalah tentang rindu yang tak terjawab, juga perihal nasib yang pucat.

Hujan, seperti juga rindu, adalah hal yang semestinya kita hindari ketika terang.

Rabu, 08 Oktober 2014

#19

Kadang kamu bisa begitu kagum dengan bagaimana sebuah kenangan datang dan membuat sisa harimu berakhir. Tentang perasaan-perasaan sentimentil yang kamu kira telah hilang, tentang kerinduan-kerinduan klise yang terlampau murahan untuk diingat, tapi kamu mengingatnya dengan detil-detil yang begitu jelas. Kamu lantas terdiam, menyadari betapa waktu berlalu begitu cepat, dan kesibukan-kesibukan kita untuk hidup, pelan-pelan, telah membuat kita menjadi robot yang melupakan sisi kemanusiaan kita.

Ingatan itu sederhana. Tentang kamu yang menempuh jalan belasan kilometer, dengan sepeda angin, menelusuri pohon-pohon asam sepanjang jalan, di tengah malam. Hanya untuk mengirim pesan kepada gadis yang kamu sukai. "Selamat ulang tahun, coba tengok ke luar jendela," meski pada akhirnya kamu mesti ditampar kenyataan bahwa gadis yang kamu sukai sudah tidur, dan ia tidak menyukai hal-hal, yang kau kira, romantis semacam ini. Tapi bukankah ini yang membuat kita hidup? Tentang memenuhi ekspektasi-ekspektasi diri, meski kemudian dihadapkan dengan kegagalan, tapi kita tak pernah menyesal. Kita tahu hasilnya, kita pernah mencoba.

Kamu masih di sini, di satu waktu dimana masa depan masih terlampau jauh, dan masa lalu berada di ujung belokan tadi. Mengingat bagaimana kamu berkejaran dengan waktu, menggunakan jam peralihan kelas, pura-pura sakit perut hanya untuk mencari momen melihat gadis yang kamu suka di lorong jalan sekolah. Ia dengan seragam olah raganya yang kebesaran, senyum canggung dan alis mata yang tebal. Saat itu, kamu merasa jantungmu akan meledak, lalu menjalani sisa hari di sekolah dengan senyuman paling bodoh yang bisa kamu buat.

Kenangan itu adalah semangkuk bakso. Di tengah hujan, sepulang sekolah, bersama seseorang yang kamu sukai. Ia yang tak pernah berani kamu ajak bicara, namun saat itu, pada momen itu saja, tuhan begitu murah hati padamu. Ia mempertemukan seseorang yang kau kira belahan jiwamu, tengah terjebak hujan di sebuah warung bakso. Bersamanya kamu akhirnya memutuskan untuk berani bicara. Sepotong kata "halo," yang akhirnya membuat kalian kemudian dekat, selamanya, meski bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai seseorang yang lebih mengerti daripada seorang sahabat.

Mungkin kamu hanya ingin kembali ke masa itu. Ketika kamu tak perlu pusing perihal hutang, ketika kamu tak perlu tertekan memikirkan cicilan. Masa masa di mana kamu hanya memikirkan dia yang kamu sukai. Masa ketika kamu masih menjadi manusia.