Selasa, 24 Maret 2015

Sluman Slumun Slamet

Kediaman Slamet Abdul Sjukur berada di sebuah gang kecil di pusat kota Surabaya. Untuk masuk ke dalam rumahnya, pengunjung harus memasuki gapura tua dengan lorong yang digunakan sebagai masjid. Mobil dan motor tak bisa masuk dalam tempat ini, jika ingin mampir anda harus turun dan berjalan kaki ke dalam gang yang serupa labirin.

Warga sekitar tempat tinggal SAS, begitu ia disapa, mengenalnya sebagai musisi. Tak jelas musisi apa, yang jelas SAS kerap dianggap mengerti musik. “Pak Slamet yang maen musik itu ya?” kata tetangganya saat kami bertanya alamat tempat tinggalnya. Rumahnya sederhana, sebagian besar ruangan di kediaman SAS kosong tanpa perabotan. Hanya beberapa lemari yang ditempeli gambar, foto, poster dan puisi.

Tahun ini SAS berusia 79 tahun. Wajahnya yang dipenuhi kerutan dan beberapa uban di rambutnya tidak mengubah jalang semangat di matanya. Bahkan dalam usianya yang memasuki senja, karya dan aktivitasnya dalam bermusik tidak bisa dihentikan. Tapi siapakah sebenarnya Slamet Abdul Sjukur ini?

“Saya tu komponis, komponis itu pengarang musik,” katanya. Ia mengatakan bahwa komponis bukan profesi yang dikenal masyarakat banyak. Kebanyakan dari kita memaknai komponis sebagai pekerjaan yang dianggap tidak ada. Untuk memudahkan pemahaman bagi khalayak umum, SAS menyebut dirinya sebagai pemusik saja. “Saya pernah dianggap penyanyi,” katanya.

Slamet Abdul Sjukur lahir di Surabaya, 30 Juni 1935. Pada mulanya SAS hanya sekedar belajar alat musik piano ”Saya kebetulan saja belajar musik,” katanya. Ia pertama kali belajar musik pada usia 9 tahun sampai kemudian mencapai Sekolah Musik Indonesia SMIND (saat ini ISI Yogyakarta). Saat itu guru piano SAS ditunjuk menjadi pengajar di sekolah itu. “Saat itu menjadi masalah, orang tua saya keberatan,” katanya.

Pada saat itu belajar musik adalah pekerjaan yang tidak punya masa depan. Sampai hari ini menguasai alat musik sekedar sebagai hobi dan ketreampilan belaka. “Sampai hari ini orang banyak yang percaya bahwa yang menguasai alat musik adalah orang yang punya wahyu dan jenius,” katanya.

SAS mengkritik bahwa di negeri ini proses penciptaan karya musik berpihak pada industri ketimbang pada pengembangan minat dan bakat. Ia mencontohkan keberadaan lembaga hak cipta. Profesi komponis sampai sekarang masih belum umum diakui. “Tapi kita ada badan hak cipta, itu kan aneh, yang dipikirkan bukan keseniannya tapi fulus (uang)” kata SAS. Ia melihat Indonesia sebagai sebuah negeri dongeng yang punya banyak keanehan.

SAS tak punya guru komposer, ia hanya belajar musik dari guru pianonya. Namun perihal komposisi musik ia mengaku mendapat inspirasi dan belajar secara otodidak dari majalah sastra Zenith. Dalam majalah tersebut ada artikel tentang musik, kritik musik dan partitur dari musisi Indonesia yang terkenal. Dari sana ia lantas menyusun dan membuat komposisi awalnya secara mandiri. “Dalam majalah itu saya kena Amir Pasaribu, dia idola saya,” kata SAS.

Ketika sekolah di Jogja, SAS bertemu dengan Amir Pasaribu. Ia menunjukan salah satu komposisi awal yang dibuatnya berjudul Tobor. Amir Pasaribu menyukai dan mengagumi karya SAS ini dan bertanya kepada siapa dalam komposisi ini. Menurut Amir Pasaribu seorang komposer harus memiliki guru. Sejak saat itu Amir Pasaribu memandang sedikit berbeda kepada Slamet yang dianggapnya tidak punya kejelasan karya. “Saya bonek saja bikin komposisi ini,” kata SAS.

Tobor merupakan karya yang dipersembahkan untuk anaknya. Karya ini terdiri dari beberapa bagian seperti Hyong, Tiring, Dub dan Uklung. “Bagi saya musik itu adalah keindahan bunyi,” kata SAS. Pada saat itu SAS mulai berjejaring dengan sesama seniman lantas berjumpa dengan Utuy Tatang Sontani. SAS dipercaya membuat komposisi musik untuk lakon opera berjudul Sangkuriang.

Ditolak belajar oleh Amir Pasaribu, SAS lantas memutuskan untuk tidak belajar pada siapapun. Ia lantas menginginkan belajar di luar negeri. Pada 1952 ia berangkat ke Perancis untuk mendaftar sekolah. SAS menuju Belanda untuk transit dengan kapal laut selama 30 hari. Sesampainya di Perancis ternyata di sana sedang musim liburan sekolah. Ia lantas tinggal di Amsterdam di kediaman kerabatnya. Pada saat itu SAS ditemani oleh sang ayah. Selama di Belanda SAS juga melakukan pengobatan terhadap cacat kakinya.

Namun karena perang dunia II makin gawat, SAS dipaksa pulang oleh sang ayah dengan naik pesawat terbang. Sepulang ke Indonesia pada 1960 SAS mendirikan “Alliance Francaise” sebagai lembaga persahabatan Indonesia dan Perancis. Kepeduliannya terhadap musik membuat duta besar Perancis kagum. Ia lantas ditawari hadiah buku dan piringan hitam “Tapi saya ngelunjak, ingin belajar di Perancis,” katanya.

Pada 1962 SAS mendapatkan beasiswa ke Perancis dan sekolah di Concervatoire National Superieur de Musique. Bakat SAS yang luar biasa mendapat perhatian dari Oliver Messiaen dan Henri Dutilleux, dua maestro komposer Perancis sampai dengan 1976. Beberapa kali dirayu SAS menolak kembali ke Indonesia karena di Perancis SAS telah memperoleh pengakuan karya yang tinggi.

Namun meski telah diakui karyanya bahkan oleh kalangan profesional di Perancis, dan mendapat penghargaan oleh negara Perancis, SAS tak ingin sombong. “Setau saya banyak orang orang kita sekolah di luar negeri, apalagi cumlaude, merasa lebih hebat dari Gusti Allah,” katanya. Ia masih mau belajar dan berjuang capaian dirinya. Di Perancis ia telah mapan dan menjadi komposer yang diakui.
Namun berkat rayuan Sumaryo Lukman Efendi, seseorang yang sangat dihormati SAS, ia akhirnya pulang. Setelah 14 ahun tinggal di Perancis SAS kemudian kembali di Indonesia lantas mengajar di Institut Keseian Jakarta sampai 1987, lantas mengajar di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) di Solo.

Bagi SAS musik adalah segalanya. Ia pernah dilarang mengajar di IKJ dan dituduh komunis karena menerima penghargaan dari pemerintah Hungaria. Namun karena baginya musik tak ada kaitannya dengan politik jadi ia menerima penghargaan itu. “Saya tak ada masalah, karena kalau sekedar penghasilan murid privat saya lebih banyak daripada jadi pengajar,” ujarnya.

Selepas di IKJ, SAS lantas mengajar di ISI Solo. Di sini ia juga berdebat dan bertikai perihal pola pendidikan kesenian. Baginya institusi pendidikan seni di Indonesia tidak sedang menciptakan pekerja seni tapi malah menciptakan seniman akademis. Seni harus ilmiah, logis dan rasional SAS menolak ini. “Misal menjadi dalang harus punya gelar dalang,” bagi SAS ini adalah hal yang aneh.
Apresiasi bangsa Indonesia terhadap karya seni oleh SAS masih dianggap rendah. “Kita tidak punya kepribadian,” katanya. Ia mencontohkan keberadaan orang Indonesia dari barat berubah kebarat-baratan, atau orang yang baru pulang naik haji yang ke arab-araban. Jika tak punya kepribadian sehingga susah menghargai capaian bangsa sendiri.

Hingga saat ini capaian SAS diakui oleh dunia. Seperti: Bronze Medal dari Festival de Jeux d’Automne in Perancis (1974), Piringan Emas dari Académie Charles Cros di Perancis(1975, untuk karyanya berjudul Angklung) dan Medali Zoltán Kodály dari Hungaria (1983). Dalam rangka Tahun Debussy (perayaan 150 tahun komposer legendaris Claude Debussy di tahun 2012), SAS diminta oleh IFI untuk menggarap sebuah proyek musik tentang pertemuan Debussy dengan musik gamelan pada Exposition Universelle di Paris tahun 1889.

Tentang Claude Debussy, SAS punya kisah menarik. Komposer Perancis yang dianggap dipengaruhi oleh gamelan. “Sebenarnya bukan dipengaruhi tapi tertarik oleh gamelan,” katanya. Debussy yang kagum dengan Gamelan merevolusi komposisi musik dunia. “Ada buku pengaruh-pengaruh musik Indonesia terhadap musik abad 20 karya Patrick Revol,” jelasnya lagi.


Sebagai orang Indonesia SAS tak ingin kehilangan jati dirinya. “Bagaimanapun juga, saya tidak bisa berpikir tidak sebagai orang Indonesia,” katanya. Segala capaian dan karya yang ia bikin sedikit banyak adalah citra pengalamannya sebagai orang Indonesia. “Perkara saya diakui oleh Pemerintah Indonesia itu masalah lain,” katanya.

Rabu, 04 Maret 2015

Mau Apa RUU Kebudayaan?

Praktik seni kontemporer di Indonesia kerap berjarak dengan penonton. Ragam seni seperti seni rupa masih dianggap produk adiluhung yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu. Kebanyakan jatuh pada kategori elite yang tak bisa dinikmati masyarakat kebanyakan.

Pada diskusi bersama Koalisi Seni Indonesia diketahui bahwa pemerintah tengah membahas Rancangan Undang-undang Kebudayaan. RUU yang masih setengah jadi itu dinilai Jakarta sentris dan tidak berpihak pada kearifan lokal.

Koalisi berharap jikapun ada Undang-undang Kebudayaan, sebaiknya dibentuk sebagai pendorong terciptanya perkembangan kesenian yang lebih baik.

Selama ini Koalisi berusaha menggalang dan mengelola sumber daya, mendorong kehadiran kebijakan publik tentang kesenian, dan distribusi pengetahuan. Saat wacana perihal RUU Kebudayaan muncul, mereka lembaga yang pertama melakukan kajian serius dan mendalam. Undang-undang kebudayaan adalah hal vital dan pokok bagi seniman dan masyarakat seni, karena menyangkut kehidupan mereka sehari-hari.

Koalisi berupaya berperan sebagai fasilitator dan penengah antara seniman, lembaga pemerintah, masyarakat luas, dan penikmat seni secara khusus. Ade Darmawan, seniman dan direktur lembaga seni Ruang Rupa, menilai praktik kesenian ada di mana saja, namun minim apresiasi. “Lantas, jika seni itu penting, seberapa penting kesenian dalam keseharian?” katanya

Pada manifesto Koalisi Seni Indonesia, mereka percaya seni penting dalam kehidupan sehari-hari. Usaha memberikan penghargaan terhadap seni merupakan penghargaan terhadap kehidupan untuk peningkatan kualitas hidup. “Seni seharusnya tidak berjarak,” kata Ade Darmawan.

Koalisi percaya dengan ikut memelihara iklim kreativitas dan inovasi hari ini akan melahirkan manusia Indonesia yang kreatif, inovatif, dan kompetitif di hari depan. Apa yang mesti dilakukan dan dibahas dari fakta ini?

Kegiatan artistik kreatif merupakan bentuk kesenian juga. Anton Ismael, praktisi pendidikan fotografi, mengatakan ada anggapan seni tidak penting bagi keseharian masyarakat. Yang penting adalah proses dalam kesenian. “Ada kebanggaan dari masyarakat awam saat ikut dalam proses kesenian,” katanya.

Menurut Anton, seni melahirkan refleksi atas hidup dan kebanggaan bagi orang yang melakukannya. Kebanggaan lahir dari karya yang dikembangkan dari proses belajar dan dihargai. Seni tidak terbatas pada ragam tradisional yang dipahami selama ini, seperti lukisan, patung, dan pertunjukan. Tapi seni-seni rakyat yang bisa dilihat sehari-hari, seperti kain penutup warung pecel lele, iklan wartel, iklan agen pulsa, atau bahkan lukis tangan poster film.

Andi Rharharha, seniman kontemporer, menyebut seni sebagai akses terhadap kesadaran. Mereka menjadi bagian dari masyarakat. Ia tidak boleh jauh dari keberadaan sekitarnya. Menjadi kontribusi sosial dan sekitarnya. “Melalui seni bisa membuat pelakunya kepada siapa pun dan mendekati siapa pun yang ada di sekitarnya,” katanya.

Ia menyebutkan contoh, anak-anak butuh ruang baru untuk berekspresi melalui kesenian. Namun tetap ada kendala di mana masyarakat tidak bisa menerima praktik kesenian.

Koalisi juga berperan sebagai penengah ketika praktik kesenian berseberangan dengan kepentingan masyarakat. Kerap kali ada kesalahpahaman antara seniman, praktik seni, dan masyarakat yang belum memahami kesenian sebagai bentuk aktualisasi diri. Ismal, pegiat Jatiwangi Art Factory, pernah mengalami hal lucu ketika memperkenalkan seni kepada masyarakat. “Kami dituduh zionis, karena banyak bule yang datang ke desa,” katanya.

Ismal menyadari apresiasi seni masyarakat masih rendah dan mengangap kesenian hanya hiburan yang tak perlu dianggap keberadaannya. Jatiwangi Art Factory yang bergerak di masyarakat di sekitar pabrik masih menganggap kesenian sekadar waktu luang. Menurut dia, perlu waktu untuk memperkenalkan dan mengapresiasi seni sebagai praktik kebudayaan.

Hasilnya luar biasa, 16 desa di Jatiwangi menjadi satu komunitas utuh dan kesadaran kolektif.

Koalisi berusaha merangkul seluruh komunitas seni untuk bekerja sama. Selain advokasi, mereka melakukan advokasi terhadap undang-undang yang berkaitan dengan kesenian. Seperti mengkritisi wacana pembentukan Komisi Perlindungan Kebudayaan yang tercantum dalam Pasal 74 hingga Pasal 82 RUU Kebudayaan yang tengah dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat.

Pada diskusi “RUU Kebudayaan: Menjamin atau Menyandera”, Ketua Pengurus Koalisi Seni Indonesia Abduh Aziz menuturkan, kekayaan budaya tidak pernah dijadikan aset utama dalam proses pembangunan. Berdasarkan kajian Koalisi, RUU tersebut justru memperlihatkan pengakuan bahwa kebudayaan Indonesia sangat rentan terhadap “hantu” globalisasi.

Dalam analisis Koalisi,  RUU tersebut menempatkan pemerintah sebagai pemeran utama semua aspek pembangunan kebudayaan, mulai dari perencanaan, penyelenggaraan, hingga pengendalian. “Selama ini jantung dari gerak kebudayaan berada di tengah masyarakat melalui inisiatif dan kreativitas,” kata Abduh.

Padahal, selama ini kesenian lokal dan praktik kesenian di komunitas justru menjadi perekat identitas kultural masyarakat. Tiap kesenian punya nilai dan kebudayaan sendiri, sehingga kesadaran bahwa masyarakat lokal punya nilai penting diketahui.

Koalisi Seni Indonesia bersama kelompok praktik kesenian berusaha menggugat dan meminta gar RUU Kebudayaan ditinjau kembali dan dibahas secara hati-hati. Jangan sampai muncul sebagai undang-undang yang asal jadi.