Rabu, 12 Agustus 2015

Menulis Manusia


Anda bisa memulai menulis tentang isu-isu kemanusiaan setelah mampu menjawab satu pertanyaan ini. Mengapa hak asasi manusia itu penting? Jawaban yang anda berikan harus dapat memuaskan semua orang, baik mereka yang tidak terdidik, mereka yang terdidik, mereka yang bebal, mereka yang peduli atau bahkan mereka yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia itu sendiri.

Jika tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tuliskan alasannya.

Alasan-alasan itu bisa menjadi satu tulisan lain mengapa kemanusiaan itu penting. Setidaknya anda bisa mengajak orang yang pada mulanya tak peduli, menjadi peduli walau hanya sebentar saja. Setelah mendapatkan perhatian orang lain, meski sedikit, anda harus bisa meyakinkan ia mengapa tulisan anda penting, atau pada satu titik perlu dibaca.

Ada jutaan tulisan yang lahir tiap harinya, baik di internet maupun di media cetak. Informasi berlebih, sementara kapasitas manusia untuk peduli (apalagi paham) sangat-sangat terbatas. Kecuali anda bisa meyakinkan pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan anda, maka sekeren atau sebagus apapun tulisan anda menjadi tidak relevan.

Tiap-tiap pembaca memiliki jenis bacaan yang ia anggap penting dan menarik. Menuliskan masalah kemanusiaan bisa jadi perkara memilih jenis tulisan yang sesuai dengan pembacanya. Jika anda pernah membaca buku Seno Gumira Ajidarma, ketika Jurnalisme dibungkam Sastra harus Bicara, maka anda sadar. Melalui fiksi kebenaran atau masalah kemanusiaan bisa disebarkan. Permasalahannya adalah, berbeda dengan artikel non fiksi, anda tidak harus memiliki tanggung jawab untuk menyajikan fakta. Sementara fakta dalam usaha menyebarkan kepedulian tentang masalah kemanusiaan adalah satu hal yang sangat penting.

Bisakah menuliskan fakta namun tidak membosankan?

Tentu, namun sejauh mana anda akan bernegosiasi dengan karakter tulisan yang hendak disampaikan? Tulisan non fiksi memiliki ragam jenis yang berbeda. Anda bisa menuliskan opini, menuliskan satire atau bahkan menuliskan kolom komedi.  Tiap-tiap jenis tulisan memiliki karakteristiknya sendiri, kekurangannya sendiri dan memiliki pembacanya sendiri. Tidak semua orang gemar membaca opini, tidak semua orang dapat memahami satire dan tidak semua komedi akan dipercaya.

Saya mendorong anda untuk menulis dengan pendekatan gaya penulisan feature, yang menggunakan kata ganti orang pertama dalam melihat fenomena. Ini akan membuat tulisan menjadi lebih ramah, dekat dan personal. Seringkali feature akan menujukan sisi lain yang jarang bisa dituliskan dengan esai atau opini. Meski saya tidak menafikan bahwa esai atau opini lebih mudah ditulis karena menggambarkan realitas berdasarkan pandangan pribadi.

Feature akan sangat hidup karena anda mesti dekat dengan objek tulisan, pembaca juga akan menjadi lebih dekat dengan fenomena yang sedang dikisahkan dalam teks. Feature akan menguji baik mentalitas maupun kepekaan anda. Sejauh mana anda akan berani menulis dan sejauh mana anda akan berani melakukan investigasi. Feature akan membawa anda ke garis depan sebuah peristiwa, ia bisa jadi menyenangkan bisa jadi sangat berbahaya.

Saya teringat sebuah situs menarik yang bernama lentera timur. Panduan penulisan mereka begitu sederhana namun begitu taktis. Beberapa poin mereka seperti

  • ·         Otentik. Jangan pernah melakukan plagiasi
  • ·         Jangan menulis sesuatu yang tidak Anda ketahui atau tempat yang belum pernah Anda kunjungi
  • ·         Tidak melakukan vonis atau streotip atas budaya atau kelompok etnis tertentu
  • ·         Jujur, jelas, dan detail (jika hendak melakukan abstraksi atas sebuah fenomena, jangan menjadikannya sebagai perspektif utama)
  • ·         Informatif
  • ·         Sebisa mungkin hindari menggunakan kata sifat, dan eksplorasilah dengan kata kerja
  • ·         Tidak perlu menjelaskan semua hal secara detail selain apa yang menjadi perspektif utama Anda
  • ·         Hindari akronim
  • ·         Apa pun yang Anda tulis, gunakanlah perspektif kesetaraan dan pluralisme, lalu berjejaklah selalu pada sejarah.


Jika anda merasa terlalu berbahaya untuk melakukan reportase dan menulis feature, esai atau opini bisa menjadi salah satu jalan tengah. Esai, kata Isnadi seorang senior saya di kampus dulu, merupakan tulisan yang memfokuskan diri pada pengungkapan akal sehat dan refleksi penulisnya terhadap suatu persoalan/fenomena dengan cara tidak langsung. Tulisan ini tidak terikat waktu dan tidak memiliki kaitan langsung dengan berita. Essay dilahirkan sebagai pencerah kesadaran ditengah gebalau peristiwa dan pertarungan kepentingan beserta rasionalisasi dan sistem operasionalnya dengan menyodorkan motif dan lobang-lobang di dalamnya.

Esai seharusnya tidak bermain dengan argumentasi muluk-muluk. Ia juga tidak berpretensi memberikan pembahasan dan penjelasan panjang lebar. Ia cukup memberikan gambaran dari bahan-bahan sepele dari peristiwa faktual maupun imajinatif untuk menyentil, menyindir maupun menarik pelatuk  kesadaran pembaca.  Ia bergulat dengan pencarian inti persoalan. Layaknya pergulatan pencari mutiara yang tertimbun lumpur. Ia tidak tergoda untuk melayani kegelisahan yang dilekatkan oleh lumpur itu.

Anda bisa menggunakan Esai sebagai jeda untuk melihat kembali apa yang telah terjadi. Sebuah jeda dari kacamata rutin yang terus digunakan untuk menentukan jalannya peristiwa. Jeda untuk melepaskan diri dari kacamata rutin, umum, klise, dan stereotif. Kacamata yang telah menjadi mesin pembaca dan berhala.

Maka tulisan apa yang akan anda gunakan untuk mengkampanyekan hak asasi manusia? Jika anda menggemari fiksi dan percaya bahwa fiksi adalah salah satu jalan terbaik menerangkan tentang kemanusiaan, ada baiknya anda menulis cerpen. Beberapa cerpen lebih mudah disebar, ia relatif lulus sensor (jika rezimnya otoritarian), dan memiliki ruang kreatif yang lebih luas ketimbang esai. Cerpen seperti Haji Syiah karya Ben Sohib, Clara karya Seno Gumira dan Drama itu Berkisah Terlalu Jauh karya Puthut EA memiliki latar masalah hak asasi manusia yang kental.



*ditulis untuk Sekolah HAM Mahasiswa di Kontras 12 Agustus 2015


Jumat, 03 Juli 2015

Masa Muda Dan Hal Hal yang Tak Selesai

Bagaimana merayakan masa muda? Chairil dalam puisinya bercerita tentang egoisme, perayaan akan hidup, tentang Aku yang kumpulan terbuang dan ingin hidup 1000 tahun lagi. Tapi sebenarnya apa yang membuat masa muda layak dijalani? Keterasingan, pemberontakan, rasa kantuk di sekolah, tekanan kawan juga keinginan untuk menunjukan eksitensi diri. Pada satu titik, ia direpresentasikan dengan kata angst. Ketercerabutan identitas diri yang mencoba keluar dari norma dan kepantasan mapan

Bedchamber, sebuah band asal Jakarta, merayakan eskapisme itu dengan sempurna. 2014 lalu mereka merilis Extended Play (EP) perdana mereka yang bertajuk Perennial yang dirilis oleh Kolibri Rekords. Band yang beranggotakan Ratta Bill Abaggi (vokal dan gitar), Abi Chalabi (gitar), Smita Kirana (bas), dan Ariel Kaspar (drum) memainkan lagu-lagu yang bukan hanya jujur namun tulis merayakan perasaan. Anda tidak harus berusia belasan tahun untuk merasakan kegelisahan dalam lagu lagu mereka.

Bedchamber baik didengar oleh mereka para remaja. Label remaja sebenarnya mereduksi banyak hal, namun mendengarkan Perennial akan membuat anda merasakan ekstase sebuah periode waktu. Saat-saat ketika anda abai, apolitis, merengut, mudah bosan dan meledak-ledak. Bedchamber secara estetik menggambarkan proses tumbuh dewasa dengan bernas. Melalui permainan gitar yang sederhana, vokal yang malas, dentuman bass yang repetitif dan tabuhan drum yang efektif, band ini purwarupa dari malaise anak muda Jakarta.

Perennial adalah musim panas yang tidak pernah kita rasakan di Jakarta, namun sering kita akrabi di film-film niche holywood. Segala suara, ketuk nada juga peluh keringat yang dirasakan dalam album ini adalah tentang musim panas. Saat dimana gelora perasaan memuncak, kegelisahan berganda dan pemberontakan sedang galak-galaknya. Meski demikian ia menyimpan perasaan-perasaan paling jujur, tentang jatuh cinta lantas berpisah, atau tentang berharap lantas kecewa.

EP ini dibuka dengan lagu Derpature. Sebuah perayaan nisbi akan kata-kata, instrumen merayakan kebebasannya, untuk kemudian vokal malas Ratta perlahan masuk. Suara Ratta tidak dominan, ia redup, memberikan ruang pada suara drum dan gitar untuk mengisi lorong-lorong sepi dalam lagu ini. Serupa gapura gang sempit di kampung-kampung Jakarta, Departure menyediakan ruang untuk beradaptasi. Ia mengingatkan anda pada peristiwa kedatangan yang secara ironis membawa melankolianya sendiri.

Lagu kedua sekaligus single yang menjadi andalan mereka, Youth merupakan anthem dari liburan panjang setelah kuliah yang membosankan. Single ini radio friendly, punya potensi untuk membuat siapapun yang mendengarnya jatuh cinta, terutama jika anda menyukai kesendirian. Lagu ini mengingatkan saya pada mereka yang bosan, di sepanjang perjalanan kereta atau transjakarta yang penuh sesak dengan manusia.

Petals akan mengingatkan anda pada ending muram dari kisah 1.000 kunang-kunang di Manhatan milik Umar Kayam. Ia, barangkali, adalah lagu tentang identitas. Proses mencari jati diri yang kerap kali melelahkan dan membuang waktu. Seperti dalam kisah Umar Kayam, seseorang mesti pergi jauh ke negeri yang lain, untuk menyadari bahwa dirinya adalah satu individu yang terikat oleh rumah. Petals menguliti perasaan anda dengan perlahan dan bengis.

Bedchamber secara komikal merepresentasikan secara negatif lagu masyur Oma Irama, Darah Muda. Mereka bersenang-senang dengan cara mereka sendiri, tidak ada pretensi menjadi snobs dalam Perennial, sejauh ini hingga lagu ketiga yang bertajuk Myth. Myth menjadi sebuah lagu yang membawa anda pada tahap muram kesadaran masa silam. Bahwa menganggap masalah selesai dengan kepura-puraan adalah bentuk lain kedunguan.

Bedchamber praktis hanya menjadi juru bicara kegelisahan anak muda dengan segala masalahnya sendiri. Sentimentil namun banal, klise namun serius dan segala paradoks yang menyertainya. Kita bisa melabeli band ini dengan banyak hal. Indie-pop, surf pop, post punk dan segala hal yang membuat mereka mesti diletakkan dalam kotak genre yang menyusahkan. Namun satu hal yang jelas, band ini layak menjadi bintang.

Perennial menjadi penutup yang indah. Ia tidak berlebihan, cukup, sederhana dan manis. Seperti dua potong puding coklat setelah makan malam yang riuh. Perennial hangat, lirik yang kuat, musik yang cukup asik untuk membuat sepasang anak muda kasmaran untuk berdansa seolah mereka tidak akan pernah putus. Bedchamber bagi saya adalah segala hal bernama bersenang-senang, ia bicara tentang banyak masalah, namun tidak pernah menuntaskannya. Sesederhana karena mereka mudah bosan dan menjadi dewasa adalah pilihan untuk masuk dalam dekade muram tanggung jawab.

Maka jika anda sedang dalam masa pertumbuhan, menjadi remaja, atau masuk dalam fase deasa yang kepalang membosankan, Perennial boleh jadi adalah mercusuar baru untuk mengarahkan anda pada sebuah jalan lain yang lebih segar.