Rabu, 08 Oktober 2014

#19

Kadang kamu bisa begitu kagum dengan bagaimana sebuah kenangan datang dan membuat sisa harimu berakhir. Tentang perasaan-perasaan sentimentil yang kamu kira telah hilang, tentang kerinduan-kerinduan klise yang terlampau murahan untuk diingat, tapi kamu mengingatnya dengan detil-detil yang begitu jelas. Kamu lantas terdiam, menyadari betapa waktu berlalu begitu cepat, dan kesibukan-kesibukan kita untuk hidup, pelan-pelan, telah membuat kita menjadi robot yang melupakan sisi kemanusiaan kita.

Ingatan itu sederhana. Tentang kamu yang menempuh jalan belasan kilometer, dengan sepeda angin, menelusuri pohon-pohon asam sepanjang jalan, di tengah malam. Hanya untuk mengirim pesan kepada gadis yang kamu sukai. "Selamat ulang tahun, coba tengok ke luar jendela," meski pada akhirnya kamu mesti ditampar kenyataan bahwa gadis yang kamu sukai sudah tidur, dan ia tidak menyukai hal-hal, yang kau kira, romantis semacam ini. Tapi bukankah ini yang membuat kita hidup? Tentang memenuhi ekspektasi-ekspektasi diri, meski kemudian dihadapkan dengan kegagalan, tapi kita tak pernah menyesal. Kita tahu hasilnya, kita pernah mencoba.

Kamu masih di sini, di satu waktu dimana masa depan masih terlampau jauh, dan masa lalu berada di ujung belokan tadi. Mengingat bagaimana kamu berkejaran dengan waktu, menggunakan jam peralihan kelas, pura-pura sakit perut hanya untuk mencari momen melihat gadis yang kamu suka di lorong jalan sekolah. Ia dengan seragam olah raganya yang kebesaran, senyum canggung dan alis mata yang tebal. Saat itu, kamu merasa jantungmu akan meledak, lalu menjalani sisa hari di sekolah dengan senyuman paling bodoh yang bisa kamu buat.

Kenangan itu adalah semangkuk bakso. Di tengah hujan, sepulang sekolah, bersama seseorang yang kamu sukai. Ia yang tak pernah berani kamu ajak bicara, namun saat itu, pada momen itu saja, tuhan begitu murah hati padamu. Ia mempertemukan seseorang yang kau kira belahan jiwamu, tengah terjebak hujan di sebuah warung bakso. Bersamanya kamu akhirnya memutuskan untuk berani bicara. Sepotong kata "halo," yang akhirnya membuat kalian kemudian dekat, selamanya, meski bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai seseorang yang lebih mengerti daripada seorang sahabat.

Mungkin kamu hanya ingin kembali ke masa itu. Ketika kamu tak perlu pusing perihal hutang, ketika kamu tak perlu tertekan memikirkan cicilan. Masa masa di mana kamu hanya memikirkan dia yang kamu sukai. Masa ketika kamu masih menjadi manusia.

Senin, 06 Oktober 2014

#18

Dadaku penuh sesak dengan kecemburuan. Kecemburuan yang sebenarnya tidak berhak ada dan tidak boleh ada. Perasaan-perasaan konyol yang muncul karena rasa ingin memiliki yang terlalu. Padahal berulang kali aku sudah berjanji, kepadamu aku tak mau memiliki. Kamu bukan benda. Kamu manusia. Aku mencintaimu sebagai manusia, sebagai sesosok individu yang memiliki kehendak merdeka dan punya hak untuk ada. Aku tak mau menjadikanmu lebih rendah dariku dengan melabelimu milikku.

Aku menginginkanmu untukku sendiri, ini egois, aku ingin membebaskanmu. Aku sudah pernah berjanji bukan? Dalam hubungan ini aku tak menuntutmu bersetia, aku menuntutmu bahagia. Aku menyadari diriku sendiri, siapalah aku yang menginginkanmu untuk diriku sendiri, siapalah aku yang hendak memaksamu tunduk. Ini bukan perkara siapa yang lebih superior dari siapa. Ini perkara komitmen membahagiakan, dan kepadamu yang aku cintai dengan parang di hulu leherku, aku tak bisa memaksa.

Perasaanku dipenuhi dengan kemarahan, dipenuhi dengan amarah, dan sesak oleh kedengkian. Aku mencintaimu dengan segala kelemahanku, yang sialnya adalah sifat cemburu yang dibakar amarah. Aku menginginkanmu sekarang, saat ini, untuk selalu ada. Mengecup keningmu lantas berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Aku ingin menggandeng tanganmu, menatap lekat matamu lalu diam. Sekedar diam dan menyigi nasib kita masing masing dalam kesunyian.

Aku mencintaimu. Sayangku.