Rabu, 27 Agustus 2014

Membincang Hap!

Tentang puisi sederhana dari penyair sosial media.

Bertahun lampau Chairil pernah berseloroh, bahwa yang bukan penyair tak boleh ambil bagian. Puisi, baginya, adalah sebuah peristiwa suci dimana tidak semua orang boleh mencipta dan membuat puisi. Puisi adalah karya adiluhung, suci, kalis dan kerapkali merupakan hal yang kudus. Seloroh ini menjadi sebuah tantangan, pernyataan sikap, sehingga banyak yang kemudian menantang dan berusaha untuk melawan.

Saat kemunculan Puisi Mbeling, puisi yang bukan puisi atau puisi yang melawan segala otoritas puisi. Remy Silado menjadi salah satu punggawanya, mengatakan bahwa puisi terlalu agung untuk dinikmati dan diciptakan oleh satu kelompok orang. Puisi tidak melulu soal rima, soal bentuk atau soal pesan. Puisi boleh jadi tak berarti apapun, puisi boleh jadi tidak punya keindahan kata tapi punya keindahan bunyi. Puisi dalam hal ini sengaja diciptakan untuk melawan otoritas penyair.

Kemunculan Internet dan Media sosial lantas melahirkan pesohor-pesohor baru. Mereka yang mampu mengolah kata menjadi satu kalimat estetik, menahbiskan diri sebagai penyair. Apakah ini salah? Tidak, setiap zaman punya rohnya masing masing. Mereka yang mencecap pesan sebuah zaman menafsirkan sendiri citraan dan semangatnya sendiri. Di sini, media sosial menjadi tuhan yang melahirkan mesiah-mesiah dengan kata-kata Indah.

Tentu Media sosial melahirkan onggokan tragedi. Mereka yang mampu menjahit keindahan kata, lantas abai kepada semangat pengembangan sastra. Seolah sastra adalah apa yang ada hari ini dan gagap dan menapaktilasi sejarah sastra Indonesia di awal pertumbuhannya. Memang akan sangat basi dan membosankan, bahwa bersastra atawa berkesenian seseorang dituntut untuk paham sejarahnya. Namun rupa puisi, sebagai satu karya sastra, punya satu linikala pertikaiannya sendiri.

Melalui pemahaman yang baik perihal sastra akan ada apresiasi yang serius terhadap sastra sebagai peristiwa kebudayaan. Meski jikalau harus mengurai seluruh peristiwa sejarah sastra tentu merupakan hal yang sangat membosankan. Puisi adalah peristiwa yang personal, dekat dan intim. Ia tak bisa diinstitusionalisasi serupa badan arsip sejarah. Di sini Puisi sebagai peristiwa aktualisasi diri adalah sebuah hal yang mutlak mesti diberikan kebebasan.

Radhar Panca Dahana dalam sebuah kesempatan, mengatakan bahwa puisi muncul dari keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan. Ini mungkin terlalu rumit untuk dimaknai oleh masyarakat kebanyakan, sehingga diktum Chairil perihal yang bukan penyair menjadi tepat.

Namun menikmati dan mencipta puisi bukanlah monopoli seorang penyair. Yang bukan penyair pun berhak menikmati dan mencipta puisi, mereka yang jatuh cinta, mereka yang berduka dan mereka yang bahagia. Di sini Andi Gunawan, seorang penulis dan juga penyair, menghadirkan Hap! Sebuah kumpulan. Ia melawan eksklusifitas penyair penyair kontemporer yang berusaha keras menjadi elitis. Dengan kredo puisi untuk semua, Andi Gunawan berusaha menjadikan puisi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dekat.

Saya membenci produk kebudayaan yang dilahirkan oleh media sosial. Mereka, bagi saya adalah sekumpulan sampah buatan bacin yang dicitrakan hebat. Namun membaca Andi Gunawan, dan segelintir penulis dari jagat media sosial, membuat saya menafsir ulang kebencian saya. Apa beda buku puisi dengan laman twitter? Atau apa beda majalah sastra dengan kolom notes facebook? Jika ia memiliki unsur estetik puitik, mengapa tak diapresiasi positif?

Maka, saya pun mulai melirik Hap! Sebagai sebuah kecurigaan. Dan saya tak malu mesti menjilat ludah dan kebencian saya sendiri. Sajak-sajak sepi yang dihasilkan Andi memiliki pesonanya sendiri. Sajak-sajaknya yang menggoda, sederhana dan centil memberikan saya perspektif berbeda tentang proses kreatifitas sastra. Barangkali teks puisi tidak lagi dipikirkan secara berat melalui kertas dan pena dengan berkali kali improvisasi dan koreksi. Puisi bisa saja celotehan bosan di parkiran, atau mungkin ditulis kala bising pening di pesta-pesta.

Sapardi pernah menulis sajak berjudul Tuan yang terangkum dalam Perahu Kertas pada 1982. Sajak itu tertulis Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang ke luar. Sajak ini ditulis pendek, serupa haiku, tentu tanpa ketentuan perihal jumlah kata. Hal serupa juga pernah ditulis Joko Pinurbo dalam sajak Kepada Puisi pada 2003. Andi Gunawan tentu tidak membawa kebaruan, tapi bukan soal kebaruan atau perbedaan yang membuat sajak atau puisi menjadi berbeda dari satu penyair dan lainnya, melainkan bagaimana ia bicara perihal kegelisahaan si penyairnya.

Ada sekitar 69 puisi dalam buku ini yang dibagi menjadi tiga bagian. Dikurasi dan dipilih secara ketat oleh Aan Mansyur, penulis dan sastrawan asal Makasar. Pembabakan yang  terdiri dari Hap!, Air Susu Ibu dan Ia Tak Pernah Bepergian. Masing-masing babak memberikan nuansa, rasa dan tafsir yang berbeda-beda. Namun pada tiap puisi ada satu benang merah yang membuatnya menjadi satu ikatan yang sama. Kesederhanaan diksi dan juga aku liris yang mudah dipahami.

Membaca Hap! Adalah usaha memahami puisi sebagai parodi. Puisi Andi bekerja seperti usaha nakal menyindir. Ia mendekonstruksi pemahaman mapan puisi sebagai sesuatu yang sakral dan serius. Andi membongkar tabu puisi dengan menempatkan diri sendiri sebagai duta besar kegelisahan. Semisal pada sajak pakansi, Andi menulis Pada setiap hari minggu / aku membayangkan hangat dadamu / tempat berlibur dingin nadiku. Aku tidak lagi mengambil jarak dengan menjadikan sosok metaforis, tapi dengan keberanian ditunjukan sebagai satu sosok utama yang mencoba bangkit keluar.

Parodi adalah usaha untuk menjaga diri tetap waras. Jika dipadukan dengan puisi, maka parodi adalah sebuah diplomasi. Misalnya pada sajak Aku, Andi menulis peristiwa penciptaan yang sakral, menjadi sebuah usaha pencarian. Aku adalah anak / terlahir memecah katup / membaru di antara kutub-kutub / mencari jalan. Kita bisa melihat bahwa peristiwa kelahiran adalah hal yang haru namun juga muram. Andi seolah masih bertanya tentang mengapa ia dilahirkan, bertahun kemudian setelah ia dewasa.

Andi Gunawan memang sangat piawai menjahit kata-kata sederhana untuk dikemas menjadi megah dan penuh arti. Aan Mansur menyebut Andi sebagai penyair yang gelisah. Ia berisik namun menjadi begitu pendiam dihadapan sajak-sajaknya. Selain itu sebagai penulis karyanya tersebar dalam banyak kumpulan puisi seperti Merentang Pelukan, Elegi Anjing dan Antalogi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2012. Selain itu karyanya yang berbentuk cerpen juga tertuang dalam kumpulan cerita Pindah.

Lantas apa yang membuat buku puisi ini begitu penting untuk dibaca? Andi menjawab tantangan banyak sastrawan mapan hari ini, yang menduga sosial media dan internet membunuh estetika sastra. Andi yang seorang komik (pelaku stand up comedy) juga seorang pesohor media sosial. Ia kerap kali menjadikan twitter sebagai satu medan sastranya. Andi kerap membuat puisi-puisi yang indah, subtil dan sederhana dalam batasan 140 karakter.

Heru Kurniawan , Eksistensialisme Makna Karya Sastra, menuliskan bahwa pengertian makna konotasi-implisit pada bahasa emotif dalam karya sastra, dalam hal ini puisi, tidaklah sesederhana hanya bergerak pada wilayah semantik (internal teks) saja. Karena persoalan sastra bukan hanya mengacu pada dunia yang dikonstruksi oleh struktur puisi seperti diwacanakan oleh kaum strukturalisme atau persoalan intern bahasa, namun juga satu realitas yang lain.

Kebencian saya kepada sastrawan-sastrawan karbitan media sosial adalah kegagalan saya pribadi untuk membaca bahwa terkadang praktik sastra adalah "realitas imajiner" yang dikonstruksi sebagai refleksi "realitas masyarakat".  Sehingga penciptaan karya sastra tidak wajib dan harus lahir dari satu lembaga sastra adiluhung serupa Utan Kayu atau Salihra, namun juga bisa lahir dari media sosial yang entah dari mana asalnya. Andi Gunawan adalah satu dari sedikit sekali penyair yang saya kenal dari media sosial, namun punya kualitas dan cita rasa estetik sastra yang otentik.

Pada puisi Epitaf misalnya, ia menuliskan peristiwa kenangan sebagai kegiatan yang lekat dan mesra. “Aku berhenti jadi pelupa, sejak kepalaku jadi batu. Di atasnya: namamu”. Sementara pada puisi berjudul Hap!, Andi menggali peristiwa sedih sebagai satu keberanian hidup. “Kau patahkan hatiku berkali-kali dan aku tak mengapa. Hatiku ekor cicak.” Ada yang nakal dan main main, ia memainkan elegi sebagai komedi yang indah.

Tapi itulah yang membuat puisi menjadi menarik. Setiap bait dan kata yang ada harus dicurigai memiliki makna ganda. Maman S Mahayana dalam Menikmati Puisi, Menafsiri Tempuling menyebutkan perlu ada ketelitian dalam pilihan kata para penyair. Kita harus curiga dan skeptik perihal pilihan kata Andi Gunawan. Apakah kata-kata tersebut menegaskan satu peristiwa estetik, bebas makna hanya pada keindahan bunyi, atau sebagai peristiwa puitik, sebuah usaha untuk membalut peirstiwa dengan metafora.

Pada sajak Ode buat Pak Guru, sekali lagi parodi nakal ditunjukan sebagai sebuah peristiwa puitik yang komikal. Andi dengan cerdas bermain-main dengan kata untuk menciptakan imaji adegan. Sulit untuk tidak tersenyum pada sajak ini. Kemejamu basah celanaku gerah / berjalan kau ke almari dalam kamarmu / mengganti kemeja dengan pelukanku / yang tiba-tiba. Sajak ini sensual dalam kazanahnya sendiri, ia tidak cabul, namun memberikan sensasi genit yang sehat dan segar.

Puisi ini juga menjadi satu kanal bagi Andi Gunawan untuk membebaskan dirinya sendiri. Ia yang mengagumi sosok Subagio Sastrowardoyo, mengaku sulit untuk bisa berbaur dengan banyak orang. Ia hidup di mana norma dan kepatutan sosial menjadi penjara. Puisi adalah salah satu cara baginya untuk mengekspresikan diri dan berupaya menunjukan eksistensi diri. Dalam sajak Nasib ia berusaha untuk bercerita mengenai penjara yang ia tinggali, “Lampu kota dan aku adalah sepasang senasib, kedinginan dalam nyala yang harus.”

Puisi-puisi Andi yang pendek, dengan tendensi aku lirik, memang menjadi perhatian utama saya. Ia tidak memberi jarak antara perannya sebagai penyair dan perannya sebagai objek sajak. Andi tentu tidak sembarang mencipta puisi, ada yang berbeda dari gayanya menulis sajak. Seolah kegelisahaan dan kecemasan yang ia tulis lahir dari hidup yang getir. Dan memang sebagian inspirasi Andi lahir dari upaya menghadapi lingkungan yang terlalu bising. Andi menggali kegiatan keseharian sebagai tema utama puisi. Baginya hal yang dekat dan tak berjarak adalah puisi yang sangat indah untuk dimaknai.

Pada akhirnya saya harus mengakui, barang kali saya tidak adil menghakimi karya-karya sastra yang lahir dari sosial media. Andi toh terbukti mengobati kerinduan saya akan sajak yang intens membahas kesunyian, keterasingan, keramaian tanpa berteriak dan sederhana. Andi menulis sajak yang jauh dari dari narasi-narasi besar seperti tuhan, negara dan moralitas. Sajak sajak Andi adalah karib lama yang datang membawa pisang goreng dan bakso. Ia mungkin tidak baru, tidak haibat dan berbeda. Namun kita bisa menikmatinya dengan teh hangat, juga pelukan.


Minggu, 24 Agustus 2014

#15

"Ada yang lebih mengerikan dari kematian." katamu perhalan. "Menjadi seseorang yang dilupakan dan ditinggalkan."

Barangkali gerimis gagal bersetia pada hujan yang dibawa mendung. Tapi apakah kita memusuhi becek air yang menggenang sayangku? Kesetiaan hujan adalah jalan sepi, ia dilupakan dan ditinggalkan begitu matahari meninggi. Menguap serupa kenangan kita pada pendakian yang pada akhirnya membawa luka.

"Berbahagialah," katamu padaku.

Tapi apakah bahagia itu? Apakah ia badai yang bersetia pada angin, juga petir dalam kengerian bencana? Ataukah ia embun pagi yang kalis, serupa tangisan jabang bayi? Kesunyian adalah karibmu sayang, tapi aku? Aku hanya menunggu kapan senja lepas dari waktu dan mengabarkan kerikil Rinjani di ujung sepatumu.

Pada gunung, tebing dan deretan hijau hutan aku menitipkan kerinduan. Mungkin ia akan menemanimu dalam kesendirian bersama coklat, botol bir dan linting cannabis yang aku kutuki keberadaannya. Maka pergilah sayang. Pergi dan larung segala bimbangmu ke tengah belantara hutan dan tebing terjal. Sebab apa yang kau lalui kini tak akan terulang, ia adalah nyawa hari ini dan hantu masa depan.

Ruang dan waktu adalah konsep menggelikan dari peradaban. Perasaan kita tak mengenal usia dan lokasi. Ia akan lahir, tumbuh, muncul dan berkembang sesuka hatinya. Mungkin pada sumbing bentuk pantai, atau gagap suara angin di pegunungan. Apa yang bisa menjamin bahwa perasaan kita tak akan larut dalam melankolia kerinduan, yang bahkan tak satu iblis pun mau menanggung bebannya.

"Kerinduanku adalah anak yatim piatu. Bapa ibunya adalah perasaan, yang telah kubunuh selepas perjumpaan," katamu.

Lantas pada bising kereta, deru ombak dan suara parkit kita menyerah. Barangkali nasib memang kutukan. Sementara apa yang kita namakan perasaan tak pernah mampu didamaikan. Lagipula kedamaian macam apa yang lahir dari ketakutan?

Rindu itu adalah janji tuhan sayang. Kelak kita akan sama sama menagihnya dalam ketelanjangan.