Senin, 11 Agustus 2014

#13

Mata itu sudah lelah dengan harapan, barangkali kesedihan telah membuatnya percaya bahwa, pahit adalah karib nasib yang paling setia. Kamu pernah berusaha untuk menjadi kuat, tapi bukan untukmu, untuk orang lain yang kau kira mencintaimu. Tapi perlahan kamu belajar, barangkali kengerian paling mutahir bukanlah teror, tapi menyerahkan kepercayaan kepada orang yang dicintai. Ia bisa menikam dengan segala kebencian, atau bahkan menjadi pelindungmu yang paling depan.

Tapi kita semua tentu pernah mengalami kegetiran pengkhianatan. Rasa sakit adalah sebuah kompromi sederhana, barangkali juga jalan hidup paling mudah untuk semuanya. Kamu paham ini, matamu yang lelah itu, yang sudah berkali-kali ditikam harapan, telah meredup dengan kegetiran. Kita berupaya untuk kembali percaya bahwa harapan itu ada, aku pada doa doaku, kamu pada segala kerja kerasmu. Mungkin memang nasib sedang gagap bicara pada kekasih yang jatuh cinta.



Sabtu, 14 Juni 2014

#12

Aku belajar untuk memaafkan, tapi nasib adalah kecemburuan.

Amarah adalah kawan dekat yang membakar akal sehat. Barangkali yang demikian adalah kesunyian yang mesti aku hadapi sendiri. Pada sebuah etalase bernama kenangan aku mengingat diriku yang lalu. Sesosok hangat manusia yang tersenyum lebar. Mungkin aku masih mencintai kamu, masih berharap kita bisa bersatu, tapi tentu ini mustahil, terlalu banyak yang dikorbankan hanya untuk bisa bersama. Kita tak bisa berharap agar dunia selurus garis pada buku halus.

Aku belajar untuk menjadi getir karena pengkhianatan menyuapiku kepahitan. Aku pun terjatuh pada neraka bernama kecurigaan. Demikian seterusnya, berkali kali aku coba untuk kembali percaya, tapi kebencian mengajakku untuk terperosok di jurang yang sama. Perpisahan itu perih, tapi perjumpaan tidak. Ini yang membuatku untuk terus percaya dan berharap. Mungkin aku tidak akan sebaik dulu saat bersamamu, atau mungkin tidak sejahat dulu ketika mengkhianatimu. Waktu membentuk manusia menjadi pribadi yang berbeda tiap detiknya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti puisi, seperti bunyi, seperti sunyi. Tapi semua menjadi rumit ketika kita sadar terlalu banyak perbedaan yang kita miliki. Aku masih merawat sekam dendam diam diam, sementara kau mendapakan kepastian juga kesetiaan. Aku melarung kebahagiaanku pada kebencian, sementara kau ingin diam berlabuh pada kerelaan. Begitu keji nasib mempertemukan dua manusia untuk saling jatuh cinta, lantas dipisahkan karena bersetia.

Tapi bukankah selalu begitu rupa nasib? Ia adalah catatan panjang perpisahan dan luka. Aku pun menyadari bahwa tak ada satupun di antara kita yang luput dari cengkramannya. Aku merindukan masa lalu, demikian juga kamu, tapi kita sadar itu sudah lewat dan segalanya sudah terlambat. Aku mencintaimu hingga detik ini, tapi bukan berarti hidup berhenti. Hiduplah engkau dengan kebahagiaamu dan aku dengan segala kehidupanku. Kita akan saling mendukung dalam diam, saling bertukar kabar saat malam, lalu mendoakan kebaikan.

Tuhan Maha Kasihku di surga, dimuliakan nama Mu dalam rindu. Kerajaan cinta Mu yang maha luas, memberikan harapan pada yang tertindas. Allahu rabbi la sharika lahu, duhai yang maha tunggal, aku bersetia pada cintaku, mengagungkan namamu dalam perbedaan. Jagalah ia yang aku tinggalkan. Hingga saat usia kami selesai dan dunia tanpa perbedaan hadir, satukanlah kami tanpa ada akhir.