Senin, 02 April 2012

Nusa Barong Dalam Pusaran Sejarah

Karang Tolik (Mentol Cilik) dahulu merupakan karang raksasa. Namun semakin kecil karena gerusan ombak

Sri Margana dulu pernah menulis dalam salah satu desertasinya yang berjudul Nusa Barong on Fire tentang perlawanan rakyat di pulau terluar Jember itu. Sejarah samar-samar tentang pulau ini pernah menjadi kerak yang terlupakan. Namun perjalanan ekspedisi Nusa Barong 2012 yang diadakan oleh Balah Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bidang III Jember, sedikit banyak mampu membuka tabir misteri yang menyelimuti pulau tak berpenghuni ini.

Dalam pandangan masyarakat Puger sendiri, Pulau Nusa Barong dipercaya sebagai pulau yang dihuni oleh para demit (bangsa mahluk halus), sehingga tak akan ada penduduk yang berani tinggal didalamnya. Namun asumsi ini dibantah oleh Walidin, warga Puger dan mitra binaan BKSDA, yang sejak usia lima tahun telah ikut dan bermain dikawasan pulau tersebut. “Tidak ada mahluk halus. Kalaupun ada mereka tak akan mengganggu jika tak diganggu,” jelas Idin, begitu ia disapa.


Sisi samping Pulau Nusa Barong. Karang yang tergerus menunjukan lapisan tanah yang berupa kapur.



Narasi sejarah memang telah menutup jejak jika di tahun 1700-an Pulau Nusa Barong merupakan pulau yang telah dihuni oleh penduduk multi etnis nusantara. Tak hanya itu kawasan ini menjadi tanah perlawanan rakyat bagi mereka yang tak ingin ditindas oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). “Banyak yang bilang begitu, tapi saya tak tahu pasti. Soalnya di dalam pulau atau dipinggir pantai tak ada buktinya (jika pernah ditinggali manusia),”.

Pulau Nusa Barong sendiri merupakan pulau kecil, terletak 3 mil dari pantai Puger. Secara geologis pulau ini bisa dicapai dengan menggunakan kapal laut atau helicopter. Namun pertemuan lautan lepas pantai Australia dan dekat dengan lautan Pacifik membuat pulau ini dikelilingi arus laut yang kuat dan angin yang kencang. “Kalau sidah musim angin (muson) barat. Sudah libur para nelayan. Mau dibalik ombak ya silahkan melaut,”.

            Dalam Nusa Barong On Fire, Sri Margana mengisahkan bahwa sebelum Blambangan ditaklukkan oleh VOC pada tahun 1768. Pulau Nusa Barong secara ekonomi sangat penting bagi Blambangan. Nusa Barong merupakan penghasil sarang burung yang signifikan bagi penguasa Blambangan. Hasil produksi sarang burung itu dikirimkan ke para pedagang Cina. “Sarang burung itu adanya di goa dan tebing pinggir pantai. Tapi sekarang susah dicari. Bahaya,”.

            Saat terjadi perang antara kerajaan Blambangan melawan VOC pada kisaraan 1767-1768, banyak rakyat Blambangan dan Lumajang banyak mengungsi ke Pulau Nusa Barong. Sehinga pada tahun 1772 terdapat 250 keluarga atau 1000-an jiwa yang mengelompok dalam 7 perkampungan di Pulau itu. Semua ini didapatkan oleh Sri Margana melalui penelitian panjang dari sastra lisan dan catatan sejarah yang ditinggalkan VOC.

Teluk Kandangan : Lokasi dimana tim ekspedisi bersandar.


            Lalu pada 1773 perkembangan politik di Nusa Barong menjadi perhatian utama Belanda yang ada di Surabaya. Ekspedisi militer mulai disusun untuk menumpas perlawanan masyarakat Nusa Barong. Namun perlawanan sengit masyarakat pulau itu membuat VOC kewalahan. Hal ini memaksa Gubernur Semarang menyiapkan serangan serentak setelah empat tahun berikutnya, tepatnya tahun 1977.

Akhirnya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1977, pasukan gabungan orang-orang Belanda memulai serangan serentak dibawah komandan Adriaan van Rijk di pulau Nusa Barong. Dalam peperangan yang berjalan tak seimbang tersebut, sebanyak 27 pejuang Nusa Barong terbunuh. Sementara yang lainnya melarikan diri. Benteng-benteng pertahanan dan rumah para penduduk dirobohkan.

Selepas ditumpasnya perlawanan masyarakat Pulau Nusa Barong, pemerintah Hindia Belanda lantas memerintahkan agar pulau itu ‘dibersihkan’.  Dengan menjauhkan lalu lalang para pedagang bebas, serta orang-orang pribumi untuk mengunjungi pulau tersebut. Sampai pada akhirnya pada 11 Juli 1920  Gubernur Jendral Belanda saat itu mengeluarkan keputusan No. 46 Stbl 1920 No. 736 yang membuat pulau itu sebagai sebuah cagar alam.

Vegetasi Pulau Nusa Barong terdiri dari Hutan Hujan, Hutan Payau dan Rawa-rawa

Hal ini lantas diperbaharui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 110/ VIII/1957.  Dheny Mardiono S.Hut M.Sc, salah satu staff BKSDA Bidang HII Jember, menuturkan bahwa perubahan ini meningkatkan status Nusa Barong sebagai Cagar Alam dengan radius satu kilometer dari pantai. ”Nusa Barong ii pulau terluar sisi selatan Jawa. Ini juga merupakan aset karena adanya Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE),”.

Keberadaan Nusa Barong membuat lepas pantai Indonesia bertambah 200 mill ke selatan sehingga menambah luas daerah teritorial Indonesia. Pulau ini menjadi sebuah monumen historis, politis dan ekonomis bagi bangsa Indonesia. Sehingga keberadaanya perlu dijaga dan dilindungi semaksimal mungkin. “Selain itu lokasi ini ideal sebagai perlindungan satwa karena susah dicapai. Kecuali oleh pencuri telur penyu yang nekat,”.

4 komentar:

  1. that's great indonesia island! wow B)

    BalasHapus
  2. salah redaksi, 1777 penyerangannya yah :) nice!

    BalasHapus