Di bawah pohon bodhi, Gautama mencapai pencerahan yang sempurna. Tapi benarkah demikian? Herman Hesse menyebutnya sebagai Sidharta atau ‘ia yang mendapat segalanya’. Ditulis dalam keriuhan new age masyarakat barat yang merindukan spiritualisme timur. Hesse si orientalis berusaha menjelaskann hal yang dulunya ditampik sebagai sesuatu yang tak masuk akal, tidak sains dan hanya sekedar gimmick kosong. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam caranya bertutur, bagi Hesse, Sidharta adalah anak anak yang bermain lantas menyudahi segala nikmat dan pergi tanpa pamit.

Pada kisah yang lebih sederhana kita mengenalnya sebagai putra paduka yang mulia Sudhodana. Tapi dari sudut manapun kisah itu dimulai Sidharta selalu dilahirkan sebagai mahluk fana bernama manusia. Ia tidak serta merta menjadi suci dan tercerahkan. Ia bukanlah sebuah dialog klise film yang mengatakan isi adalah kosong dan kosong adalah isi. Hidup Sidharta jauh lebih rumit daripada itu. Baginya. proses menjadi manusia adalah proses menuju kesempurnaan itu sendiri.

Tapi apakah Sidharta tercerahkan? Pencerahan bagi saya adalah kata yang terlampau congkak. Ia bicara seolah kehidupan fana adalah kehinaan. Menjadi tua, menikmati nafsu atau tunduk pada kenikmatan. Keriangan hanya melahirkan kepedihan. Tapi apakah kepedihan itu? Sebuah momen dimana sebagai manusia kita tak lagi bisa merasa bahagia? Apa sesederhana itu? Saya kira tidak. Pencerahan yang didapat Sidharta bukan usaha untuk meniadakan penderitaan. Tapi menikmati penderitaan itu sebagai sebuah fase hidup. Sebuah dharma yang lekang dan abadi.

Beberapa waktu lalu umat Buddha di Indonesia melaksanakan puja bakti Waisak 2557. Saya tak paham benar makna perayaan itu. Selain kemuliaan ritus itu ditelan oleh hujan yang turun, keberadaan polah tingkah para turis, nihilnya usaha untuk menarasikan cerita Waisak turut melunturkan sakralitas perayaan itu. Seorang kawan yang juga umat Buddha menjelaskan bahwa Waisak adalah momen untuk meneladani sifat-sifat Buddha dan melaksanannya sebagai sebuah perilaku bajik. Sambil berkelakar ia juga berkata bahwa Waisak belakangan cuma jadi “acara kumpul bersama keluarga dan teman supaya ingat masih punya agama”.

Sidharta Gautama adalah manusia tercerahkan yang kemudian melahirkan ajaran baru. Ia tidak menerima wahyu ataupun mendapat perintah siapapun. Karen Armstrong, teolog paling populer saat ini, menulis Sidharta sebagai manusia yang merindukan kebebasan yang murni dan utuh atau yang ia sebut “seperti kulit kerang yang disemir”. Sebagai putra mahkota Kerajaan Kapilawasthu, Sidharta  memiliki segala yang bisa diharapkan sebagai manusia. Namun ia menampik segala itu sebagai kehidupan yang disebutnya “terlalu hiruk pikuk dan berdebu”.

Pertanyaan yang lahir kemudian adalah apakah relevan menghindari kehidupan yang hiruk pikuk dan berdebu itu? Pada zaman ketika mufakat normatif dipegang oleh segelintir manusia kerdil dibalik gajet dan keyboard. Bahwa etika hanya sebatas pada meminta izin, tak berpakaian terbuka dan lebih dangkal daripada pemahaman ritus itu sendiri. Armstrong dalam bukunya Buddha telah menelaah detik demi detik peradapan dari zaman besi dalam upayanya menentukan apa hidup yang mulia itu. Kesimpulannya mengejutkan, bahkan setelah Buddha, kesempurnaan itu tidak pernah ada.

Kita tahu dunia bagi Sidharta sudah tidak lagi menarik. Siklus melahirkan, menderita, sakit dan kematian adalah keniscayaan yang terlalu “biasa” untuk bisa dilewati dalam satu masa kehidupan. Pada sebuah film dokumenter berjudul Samsara siklus hidup dan inti ajaran Sidharta digambarkan dengan sangat profetik oleh duo Ron Fricke dan Mark Magidson. Ada anomali di sini, sebuah kebijaksanaan timur dimaknai dan dibahasakan dengan sempurna oleh orang barat dengan segala teknologi yang mereka miliki.

Tapi sebenarnya apakah label itu perlu? Sebagai muslim saya memperoleh pendidikan ala barat dan menikmati puisi-puisi karya mistikus katolik. Identitas bagi Sidharta adalah sebuah kesia-siaan. Ia menyekat manusia menjadi satu individu yang berbeda dari yang lain, terikat pada satu hal yang malah membuat manusia lena pada keramaian yang tak perlu. Melepaskan identitas, seperti yang diupayakan dalam satu fragmen monolog robot dalam Samsara, adalah upaya mendapatkan kebahagiaan hakiki. Nihilnya keinginan.

Tapi Sidharta juga manusia yang pernah sangat dhaif. Deepak Chopra dalam kisah lain tentang Buddha melihat dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Ada sebuah fragmen saat ia memutuskan pergi berkelana menjadi brahmana, dengan sembunyi sembunyi melihat istri ia dan anaknya yang baru beberapa hari dilahirkan. Sebagai ayah dan seorang suami tentu kita masih memiliki keterikatan pada norma sosial dan relasi yang menyertainya. Begitu juga dengan Sidharta.

Kita barangkali lupa bahkan para messiah punya sisi manusia yang kerap kita abaikan keberadaannya. Muhammad yang mencintai yatim-piatu, Yesus yang berkarib dengan para pelacur dan pengemis, juga Sidharta yang masih ragu memutus ikatan bernama keluarga. Banyak dari kita menafsirkan perlaku ini sebagai laku ibadah, sebuah ritus fatalis yang memang disabdakan tuhan. Tapi kita lupa, manusia tidak perlu perintah tuhan atau siapapun untuk menunjukan cinta.

Pada sebuah sajak lirih yang ditulis oleh Romo Sindhunata, Buddha digambarkan sebagai sosok kelelahan.  Romo Sindhu menulis ia sebagai the ultimate being, yang juga seperti tuhan pada banyak agama, menyayangkan keberadakan, tindak tanduk dan keberadaan manusia fana. “Dari puncak Borobudur,” tulis Sindhu dalam Air Kata-Kata, “kau pandang dunia, oh Buddha penuh tangis dan air mata,” apakah ia kecewa? Saya kira tidak. Ia melihat jauh kebelakang, seperti dulu Sidharta hidup dengan gelimang nikmat yang tak berkesudahan, manusia hanya perlu menemukan jalan pencerahannya sendiri.

Sajak romo Sindhu memang ditulis dengan getir. Tapi tetap ada semangat yang harusnya kita teladani. Dimanapun kau berada bahkan mungkin dari keheningan Borobudur, Buddha bisa muncul dan mengajarkan arti menjadi bijak. Kita seringkali diikat oleh norma dan kakunya ajaran sehingga lupa bahwa Sidharta menjari sendiri jalan hidupnya. Bahwa “pencerahan pun bisa ditemukan dalam sebuah pantat” karena menafsirkan ajaran Buddha bisa jadi tak lebih bijak daripada meneladani laku hidupnya sendiri.

Tafsir tentang Buddha seringkali memang pelik dan tak sederhana. Meski hal ini tak membuat Ozamu Tezuka patah arang dalam upayanya menginterpertasikan ajaran Sidharta melalui karya visual. Grafik novel Buddha malah berkisah lebih membumi dan sederhana melalui tutur dan pergaulan Sidharta bersama kaum Pariya, kaum yang lebih hina daripada kasta sudra. “Mereka yang terlempar dari tatanan kelas yang bahkan tak lebih mulia dari hewan peliharaan,” kata Sidharta dalam sebuah renungan.

Waisak lewat dan yang tersisa hanyalah foto-foto dan kedengkian. Lantas apa yang lebih baik daripada meneladani Sidharta dalam kisah-kisah yang ditulis manusia lain? Saya kira kita sebagai manusia lupa, ajaran Buddha bukanlah sesuatu yang tertulis dalam teks. Ia seperti juga Muhammad dan Yesus menunjukan laku hidup santun dengan kerja dan bukan tafsir yang dibikin-bikin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here