Iman yang baik bagi saya lahir dari keraguan. Ia harus muncul dari pergulatan yang hebat antara kepercayaan, keyakinan, syak wasangka dan rasa ingin tahu. Iman bukan sesuatu yang turun dari langit lalu begitu saja diterima tanpa adanya usaha untuk mengkritisi, membongkar dan mencari tahu. Iman yang hanya disuapkan tak bisa dipertanggungjawabkan oleh diri sendiri karena ia bersumber dari orang lain yang tak pernah kita ketahui darimana berasal. Tapi tentu saja iman yang baik tidak lahir dengan diam. Ia adalah usaha dinamis dari manusia untuk memunculkan hakikat kehidupan sebagai manusia.

Iman melahirkan kekuatan untuk bisa menghadapi hidup. Ia bisa bernama apa saja. Ia bisa bernama agama, sains, estetika atau filsafat. Iman, bagi saya, adalah usaha untuk memperoleh keparipurnaan hidup. Mendefinisikan iman dalam kerangka agama hanya akan membatasi diri kita dan kekuatan yang berasal darinya. Sebagai muslim, iman saya berdasarkan kepada apa perintah Allah dan laku hidup Muhammad. Saya percaya bahwa agama ini adalah agama yang mulia dan dengan sadar bahwa pada faktanya agama ini ditegakan dengan darah, kebencian, manipulasi, politik kotor dan kebencian.

Agama ini adalah agama perdamaian meski banyak yang mengaku memeluk agama ini melakukan sebaliknya. Agama ini adalah agama yang teduh meski banyak pemeluknya lebih suka bersitegang perihal pendapat. Agama ini adalah agama yang santun meski banyak pemeluknya bermuka masam. Agama ini adalah agama yang mulia meski banyak pemeluknya bersikap hina. Agama ini adalah agama yang masuk mengutamakan nalar juga nurani meski banyak pemeluknya yang gagal paham.

Iman saya adalah cara saya. saya percaya bahwa beragama tidak harus berwajah muram, memaksa, dan bertikai. Saya percaya bahwa kesalihan laku dan sikap toleran bersama lebih penting daripada zuhud pada ritus yang berujung pada merasa benar sendiri. Saya percaya bahwa sikap tolong menolong dan bersikap adil lebih baik daripada beragama secara membabi buta. Saya percaya bahwa ajaran agama yang bertentangan dengan hati nurani dan akal sehat harus ditentang dengan cara mengkritisinya. Saya percaya bahwa Allah dan Nabi Muhammad tak akan mengajarkan keburukan, sehingga jika ada keburukan pada ajaranya saya harus mencari tahu sendiri dan membuktikan bahwa hal itu tidak benar.

Keimanan tidak boleh dipaksakan. Ia harus lahir dari rahim pemikiran dari kepala masing-masing manusia. Ia tidak boleh disebarkan dengan kekerasan dan pemaksaan. Ia tak boleh diberikan sebagai sebuah perintah yang tunggal tanpa menyediakan ruang perbedaan tafsir. Ia harus lahir dari usaha kebaikan bersama dan pemahaman bersama. Karena tidak ada satu manusiapun, dan tak akan pernah ada satu manusiapun, yang berhak menghakimi yang lain dengan label sesat atau keluar dari ajaran karena perbedaan faham.

Agama yang saya pahami lahir dari usaha saya sendiri. Bukan dari doktrin dan paksaan dari orang lain. Saya mencari dan belajar, saya meragu dan bertanya, saya kecewa dan tertegun, saya marah dan menunggu, semua itu melahirkan apa yang saya yakini sebagai Islam. Saya percaya setiap manusia menanggung dosa dan pahalanya sendiri-sendiri. Jika seseorang tersesat karenanya biar Allah yang menghakimi tindakan itu bukan manusia. Jika seseorang terselamatkan karenanya biar Allah yang memberinya hadiah itu dan bukan manusia.

Saya berusaha mencari tahu sejarah agama saya. Memahami konteks dan teksnya. Karena saya percaya keselamatan tidak melulu lahir dari doa-doa. Keselamatan bisa didapat dari usaha mencari tahu. Usaha untuk memahami usaha untuk mengerti. Saya percaya dengan memahami sejarah saya akan lebih memahami keyakinan saya. Saya percaya bahwa sejarah akan membentengi kita dari masa depan. Agar bisa belajar dari petuah masa lalu dan kesalahannya agar tak terulang di masa depan.

Beriman pada satu agama bukan berarti tertutup dan menjadi statis. Keimanan berkembang dari usaha untuk terbuka dan belajar dari yang lain. Ia bisa saja sains, filsafat, seni dan sastra. Ia bisa saja berasal dari agama lain atau bahkan mereka yang tak beragama. Kebijaksanaan yang lahir dari banyak sumber akan menjadi kekuatan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Sementara ekslusifitas hanya akan memberikan kita dogma buta dan kaca mata kusam yang membuat masa depan menjadi muram.

Semoga yang demikian ini adalah jalan kebenaran dan semoga yang ini membawa saya pada keselamatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here