Beberapa Hal Yang Berharap Bisa Saya Ceritakan Pada Ibu Tapi Terlalu Takut untuk Saya Utarakan.

3
2680

Ibu. Apa kabar? Aku rindu. Malam ini, seperti malam-malam yang lain, aku lembur. Berharap agar bisa menyelesaikan banyak pekerjaan agar besok bisa lebih santai. Tapi seperti malam-malam yang lain, aku berakhir menghabiskan waktu di media sosial. Melihat foto-foto lucu perempuan-perempuan yang aku berharap bisa kenal dan berharap mau padaku, tapi tentu saja, seperti malam-malam yang lain semuanya berakhir sekedar harapan.

Bu, malam ini aku kangen. Seperti kebanyakan anak bandel yang tidak tahu diri. Aku hanya mengingatmu ketika aku susah. Ketika aku senang, aku hanya memikirkan diriku sendiri, perempuan yang aku suka dan teman-temanku. Ketika aku kaya aku ingin membeli ini itu lalu lupa, bahwa Ibu di kampung, barangkali sedikit kesusahan, kurang uang makan atau sedang butuh tambahan belanjaan. Tapi bukankah kita semua begitu bu? Kita hanya mencari mereka yang sayang kepada kita saat butuh dan melupakan mereka ketika sedang bahagia. Meski aku tahu Ibu bukan orang yang demikian.

Bu, bolehkah aku bercerita? Sekedar berbagi, barangkali ini sekedar omong kosong, sekedar basa basi yang tidak penting atau bahkan sebuah igauan panjang yang tak punya arti. Ibu selalu senang ketika aku bicara, di rumah kau selalu membuatkanku teh hangat manis, lantas ketika aku bercerita keriput di sela-sela matamu itu muncul. Seperti bersiap dengan takzim mendengar ceritaku. Tak pernah sekalipun aku ingat dalam sejarah hidupku yang pendek ini, Ibu memotong ceritaku, ibu selalu mendengarkanku sampai selesai.

Tapi bu, tahukah kau? ada beberapa hal yang aku takut untuk ceritakan kepadamu. Terlalu sungkan aku tanyakan kepadamu. Bukan, bukan karena aku pengecut, Ibu tidak melahirkan dan mendidik pengecut, aku tak sampai hati bertanya atau bercerita hal ini. Aku takut pertanyaanku akan menyakitimu, atau bahkan kata-kataku ini tidak berkenan bagi ibu. Aku memilih menghantam mukaku sendiri dengan besi panas ketimbang harus menyakiti hati ibu lagi.

Seperti fakta bahwa aku tak pernah suka kuliah, aku lebih suka menulis dan membaca, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk nonton film dan berdebat dengan kawan-kawanku soal apa itu posmodernisme. Aku juga tak mungkin jujur pada ibu bahwa aku tak pernah suka sholat subuh di masjid. Aku suka tidur, tapi senyum ibu setelah aku pulang dari masjid tak mungkin aku tukar dengan tidur berhari-hari tanpa bangun. Ibu adalah surga sebenar-benarnya dan ia tidak terletak di telapak kakimu.

Tapi bolehkan Bu aku cerita? Berharap sekedar berangan angan, barangkali ini akan ibu dengar kelak, atau bahkan tak pernah ibu ketahui sama sekali. Maukah ibu mendengarnya?

Bu, perbedaan bukanlah kutukan. Kutukan adalah merayakan dusta dan kebohongan. Hanya karena seseorang beribadah dengan cara yang berbeda dengan kita tidak membuat ia menjadi sesat. Hanya karena ia memiliki cara berbeda dalam berkeyakinan tidak membuat ia boleh disakiti. Tuhan maha kuasa, jika ia mau, menyeragamkan cara ibadah dan kepercayaan adalah hal yang mudah. Tapi melalui perbedaan Tuhan ingin mengajarkan kita menghargai hal hal yang kita miliki. Bukankah Ibu juga percaya ini? Lantas mengapa ibu melarangku bergaul dengan orang-orang syiah?

Bu, tidak semua orang terlahir dengan iman yang kuat. Beberapa masih berusaha mencari. Bukankah Ibu dulu tidak langsung mengenakan hijab? Ibu mendapatkan pencerahan juga keinginan menutup aurat karena proses keimanan ibu sendiri. Sesuatu yang ibu cari secara perlahan, melalui proses berpikir yang panjang dan juga pergulatan pemikiran yang keras. Lantas mengapa ibu menghakimi mereka yang tidak menutup aurat sebagai seseorang yang hina? Bukankah ibu yang pertama kali mengajariku untuk tidak pernah menghakimi?

Bu, tidak semua hal yang diceritakan televisi atau ustad ustad atau buku buku atau pesan pesan yang ibu baca serta dengar adalah kebenaran. Tidak semua hal yang ingin kita dengar adalah kebenaran tunggal yang tidak terbantahkan. Berhenti menjadi kritis adalah membuat diri kita tunduk pada perbudakan dan penindasan. Bukankah ibu yang selalu mengajarkanku untuk terus berpikir dan bertanya? Lantas mengapa ibu diam saja ketika mereka berkata Ahmadiyah halal darahnya?

Bu, mencintai bukan dosa. Menyebar kebencian adalah dosa. Mencintai sesesorang, apapun orientasinya, semestinya adalah berkah. Seorang pria yang mencintai seorang pria lainnya bisa jadi benar, ketika kita dipaksa memilih pria itu menyakiti manusia yang lain. Orientasi seks semestinya memberikan kita kesempatan untuk belajar pada yang berbeda. Bukankah ibu yang berkata, semua manusia sama di hadapan Tuhan? Lantas mengapa ibu memvonis mereka semua masuk neraka?

Bu, tidak semua perempuan ingin menjadi ibu. Beberapa perempuan ingin sendiri, tidak ingin menikah dan meraih pendidikan tinggi. Beberapa perempuan tidak mau menjadi sekedar istri dan menolak memiliki anak. Mereka adalah individu yang telah merdeka dan kukira itu adalah hak mereka. Perempuan tak harus di dapur bu, meski Ibu tahu aku selamanya akan takluk dan tunduk pada masakanmu, hanya saja kukira tidak semua perempuan harus dipaksa menikah. Bukankah ibu sendiri yang berkata, jika bisa memilih ibu ingin menjadi insinyur menjadi perempuan yang berpendidikan tinggi? Lantas mengapa ibu memaksaku mencari istri yang bisa tinggal di rumah mengurus anak saja?

Bu, pernahkah ibu benar benar jatuh cinta hingga merasa pedih? Merasa bahwa cinta membuat ibu mesti memilih menyakiti satu orang atau menyelamatkan yang banyak? Kemanusiaan mengenal hak asasi, ia yang membuat kita menjadi manusia. Seseorang yang dipaksa tak memiliki rumah ibadah karena ketakutan-ketakuan menjadi murtad. Bukankah ibu yang berkata bahwa islam adalah rahmat seluruh alam? Lantas mengapa ibu merasa takut dengan berdirinya sebuah gereja?

Bu, kukira mencintai seorang yang berbeda keyakinan seperti itu. Ia adalah kebaikan yang diberikan Tuhan. Bukankah Ibu sendiri yang dulu mengajarkanku, cintai manusia bukan karena apa yang ia punya? Lantas mengapa ibu melarangku jatuh cinta dengan mereka yang memanggil tuhan dengan cara yang berbeda?

Bu, terima kasih mengajariku hal hal ini. Doa baik untukmu.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here