Ben Anderson Itu siapa?

0
1079
Ilustrasi: Istimewa
Ilustrasi: Istimewa

Dia itu siapa? Kok banyak betul yang berduka, minta maaf, memuji sampe-sampe sebut dia itu orang hebat? Dia itu siapa? Apa hebatnya Ben Anderson? Emang dia nulis apa sampe banyak betul penulis yang merasa kehilangan, banyak benar intelektual yang merasa perlu memberikan komentar dan kenang-kenangan terhadap sosoknya? Dia itu siapa?

Seharian ini media sosial ramai dengan nama Ben Anderson. Beberapa orang bertanya siapa sosoknya, seseorang mencibir kenapa tiba tiba banyak orang yang sok kenal, yang lain berkomentar, emang sudah baca buku Ben? Dan beberapa mahasiswa yang saya kenal, merasa benar benar kaget, karena baru beberapa hari yang lalu ia berjumpa dengan sosok Ben Anderson.

Jadi begini. Baiknya, sebelum berkomentar tengil dan nakal, misal berkata “Sok kenal dengan Ben Anderson,” ada baiknya bung dan nona sekalian cari tahu. Siapa Ben Anderson dan bagaimana karyanya bisa mempengaruhi banyak intelektual terbaik Indonesia, yang konsekwensinya juga, mempengaruhi banyak mahasiswa dari berbagai generasi.

Duka, pun saya kira, tak mesti harus mengenal keakraban. Anda tidak perlu bertemu, kenal atau dekat dengan seseorang untuk merasakan duka. Apalagi, jika orang yang meninggal itu, satu sosok pemikir/intelektual yang mempengaruhi cara berpikir anda. Penulis yang karyanya membuat anda jadi terpukau dan demikian tercerahkan.

Tapi tak apa. Tak semua orang suka membaca dan tak semua orang suka berpikir. Barangkali yang merasa sedih, merasa duka dan merasakan kehilangan Ben Anderson adalah orang orang yang suka membaca, atau suka berpikir, atau cara pandangnya dipengaruhi karya brilian Ben. Bukankah untuk tahu seseorang brilian atau tidak, kita perlu membaca teks atau mencerna pemikirannya? Dan seperti yang saya ketahui dan yakini, bangsa ini masyarakatnya selain malas membaca juga kerap malas berpikir.

Itu tak penting. Tak pernah penting dan tak harus jadi beban. Untuk memahami Siapa Ben, barangkali kamu bisa membaca beberapa karya singkatnya. Kita mulai saja dari Revolusi Pemuda untuk tahu bagaimana pandangan Ben terhadap Indonesia. Lalu, jika kamu masih tertarik, dan ingin membaca lebih banyak, kamu bisa lanjut membaca Imagined Communities. Itupun kalau anda merasa perlu mencari tahu tentang Ben.

Apa hebatnya Imagined Communities? Itu kan cuma utak atik gatuk soal ide kebangsaan dan nasionalisme. Lho tentu itu utak atik gatuk. Tapi, jika kamu belajar tentang kolonialisme, relasi kuasa, dan bagaimana bahasa bekerja. Imagined Communities adalah sebuah kerja jenius dari intelektual yang berusaha mendedah, menyigi dan menjelaskan bagaimana bangunan nasionalisme bisa menjadi kebengisan yang demikian keji.

Seseorang di Papua sana saat ini barangkali dipaksa menerima merah putih sebagai simbol kebangsaan. Seseorang di Papua sana barangkali sedang dipaksa untuk menerima bahwa Diponegoro adalah pahlawan, sementara Filep Karma adalah pelaku makar. Nasionalisme, ide yang memaksa kita untuk menyatu sebagai entitas, bisa jadi sebuah kutukan. Imagined Communities menyediakan pisau analisis tentang kutukan itu.

Lalu Mitologi dan Toleransi Orang Jawa akan menunjukan bagaimana relasi mitos membentuk konstruksi pikir orang jawa. Ini merupakan satu di antara banyak karya lain Ben. Tentu, karya-karya ini jadi tak penting dan tak akan pernah penting, bagi mereka yang tak suka membaca dan tak peduli bagaimana cara memahami bangsa ini.

Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia akan memberimu pandangan tentang lanskap budaya politik di Indonesia terutama pada periode Orde Baru. Bagaimana konsep kekuasaan bagi orang jawa akan sama sekali berbeda dengan pemaknaan populer. Dalam buku ini menjelaskan mengapa Orde Baru melarang kedatangan Ben untuk datang ke Indonesia. Tapi cukupkah ini menjadi alasan agar ia dicintai dan dikenang banyak orang?

Dalam esai lainnya The Unrewarded Ben Anderson menjelaskan tentang Pram dan bagaimana raksasa sastra itu kerap luput dari Penganugerahan Hadiah Nobel Sastra. Oh iya, sudahkah kubilang padamu? Ben bisa dengan piawai mencampurkan esai akademisnya dengan sastra, memberinya konteks penting dan membuatnya menjadi relevan sebagai sebuah kajian keilmuan. Bagaiman Ben memandang Pram bisa jadi penting untuk memandang politik sastra dunia.

Ben Anderson juga orang yang dengan panjang lebar menjelaskan mengapa karya “Tjamboek Berdoeri Indonesia Dalem Api dan Bara” itu penting. Selain usaha panjangnya melakukan riset dan penyelidikan hampir sepanjang 40 tahun. Ben memperkenalkan sosok Kwee Thian Tjing, yang hidup dalam tiga zaman dan menjelaskan bahwa orang Tionghoa juga punya andil dalam kelahiran republik ini.

Ben adalah seorang yang piawai menuturkan narasi. Kamu bisa membaca bagaimana ia menghargai dan menghormati Gie dalam obituarinya. Juga bagaimana Ben mampu menunjukan sisi sinis dan gemasnya pada Soeharto melalui obituarinya yang diberi judul Obituary of A Mediocre Tyrant. Kamu bisa lanjut pada karya karyanya yang lain dan barangkali dengan membaca karyanya kamu akan merasakan mengapa ia jadi penting dan dikagumi banyak orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here