Yang Tersisa Setelah Nonton Star Wars

0
1231
Photo by Daniel Cheung on Unsplash
Photo by Daniel Cheung on Unsplash

Mungkin ini rindu yang terlalu. Mungkin ini sekedar melankolia. Tentang perasaan yang bertahun-tahun lalu kamu pendam. Kemudian, perasaan itu datang lagi, ia baru, bukan berarti berbeda sama sekali. Ada beberapa yang tersisa dari perasaan lama itu. Tentang bunyi, tentang warna, tentang cahaya, tentang wajah, tentang suara dan segala kenangan yang berkelindan.

Perasaan itu sebenarnya tidak datang tiba tiba. Ia telah pelan pelan mengintip. Memberimu harapan. Apakah ia masih seperti dahulu? Apakah ia masih yang sama seperti kamu melihatnya? Pesona yang membuatmu tunduk, menyerah dan kasmaran. Tentag hitamnya angkasa,tentang suar yang tak henti bersinar, dan kamu terjebak pada keinginan untuk terus bersama.

Lalu kamu ragu. Kamu merasa tidak yakin. Kamu tidak ingin perasaan indah yang bertahun lalu kamu miliki rusak. Bagaimana jika ia berubah? Bagaimana jika ia berganti? Bagaimana jika ia mengecewakan? Bukankah kamu sudah beberapa kali dikecewakan? Bukankah kamu pernah dibuat kesal dengan satu karakter darinya yang menurutmu lemah, tak berguna dan juga menyebalkan?

Tapi disisi lain, perasaanmu tak bisa dibohongi. Kamu masih merindu. Kamu masih ingin bertemu lagi dengannya. Memandangnya pelan. Meski kemudian kamu paham. Kamu akan terluka, kamu akan kembali dibuat berharap, kamu akan dibuat menunggu dan seperti yang telah terjadi, kamu mungkin akan dibuat terluka marah lantas mendendam.

Malam ini kamu meemuinya. Kamu tidak siap. Kamu nampak berantakan. Bahkan kamu tak sempat mandi. Kamu hanya cuci muka. Beberapa kali ke kamar mandi untuk kencing. Kamu gugup, takut kecewa, takut dia akan berbeda, tapi di sisi lain kamu tak sabar untuk berjumpa dengannya. Perasaanmu meluap-luap seperti tak lagi dapat dibendung.

Malam sudah turun, tidak terlalu larut, mendung kamu tahu karena rintik hujan. Jakarta beberapa hari ini, anehnya, terasa dingin. Apakah karena menyambutnya juga pikirmu. Tapi kamu tahu itu tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

Kamu memacu motormu dengan hati hati. Jalanan macet. Kamu tahu, buru-buru tak akan membuatnya pergi. Ia akan menunggumu. Ia akan setia menunggumu untuk menemuinya. Kamu lantas meliuk, menerobos kemacetan mobil. Di ujung sana ia telah bersiap. Kamu akan bertemu dengan dia yang telah lama kamu tunggu. Dia yang telah lama hilang.

Lalu kamu berjumpa dengannya. Gelap. Hanya ada bintang. Lantas perlahan air matamu merembes. Kamu berusaha untuk tidak menangis. Ego primitif patriarkismu masih berkuasa. Laki laki kok menangis pikirmu. Di depan umum lagi. Tapi kamu tak kuasa menahan air mata itu. Ia turun dengan bandel, kamu tahu ia masih di sana. Masih seperti yang kamu rindukan.

Kamu menemukan yang telah lama kamu rindukan. Perasaan bahagia menggebu, kemarahan, dendam, cinta, harapan dan juga kekecewaan. Semuanya bertabrakan, semuanya saling berebut mengisi perasaanmu. Lalu kemudian kamu pelan pelan mengingat alasanmu jatuh cinta padanya. Tentang ketulusan, tentang menjadi yang kamu inginkan, tenang kekuatan yang lahir dari kasih sayang.

Malam itu kamu menumpahkan segala perasaanmu. Ia menerima segala perasaanmu. Semuanya sudah tuntas. Penantian itu. Harapan itu. Kamu bahagia. Lantas sekali lagi menunggu. Perasaanmu kembali berantakan. Kamu ingin bertemu lagi dengannya. Melihat hal-hal lain yang belum diceritakan, yang belum tuntas ditunjukan. Tapi kamu tahu ia mesti pergi lagi, lalu kamu mesti menunggu. Entah kapan, untuk menjumpainya lagi.

Star Wars, ia yang selalu enggan kamu akui sebagai cinta yang tulus. Malam ini, ia menemuimu, dengan segala pengharapan yang kamu bawa. Berbahagialah.

May the force be with you.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here