Gas dan Kesadaran Etik akan Subsidi

1
712

Sudah saatnya pemerintah tegas dalam pelaksanaan kebijakan energi yang tepat guna. Dalam hal ini saya menyoroti tentang pemanfaatan subsidi untuk bahan bakar gas. Tabung gas 3kg yang sejatinya diperuntukan untuk masyarakat miskin, pada kenyataannya digunakan pula oleh mereka yang mampu. Dalam pernyataannya Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi I Gusti Nyoman Wiratmadja mengatakan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram hanya boleh dibeli oleh masyarakat miskin. Pemerintah menyiapkan tiga skema distribusinya agar subsidi elpiji diterima oleh orang yang tepat.

Ini keputusan yang tepat dan memang seharusnya dilakukan sejak lama. Skema itu disesuaikan dengan kebutuhan dan juga kondisi masyarakat. Skema distribusi yang ditawarkan juga mengerucut ke tiga cara. Pertama, konsumen bakal diberikan kartu khusus pengambilan gas melon tersebut. Cara kedua adalah memberikan uang tunai untuk membantu daya beli gas elpiji. Dan terakhir pembelian terbatas dengan memakai pengenalan sidik jari.

Meski terlambat namun keputusan ini patut diapresiasi positif dann terus diawasi pelaksanannya. Karena seperti yang kita ketahui pada praktiknya mereka yang menggunakan gas elpiji 3kg kebanyakan adalah kelompok masyarakat yang mampu. Tentu tidak adil mensubsidi mereka yang mampu, apalagi jika ini diteruskan bukan tidak mungkin dana subsidi yang ada akan jebol, padahal ia bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lain. Selain itu gas elpiji 3kg yang disubsidi itu semestinya bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan masyarakat miskin apabila mereka yang mampu sadar diri.

Kesadaran akan kelas dan juga tanggung jawab sosial semestinya menjadi radar etis bersama. Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina Ahmad Bambang mengatakan saat ini 20 persen pengguna gas nonsubsidi 12 kilogram berpindah konsumsi ke gas 3 kilogram bersubsidi. Jika semua yang mampu merebut hak orang miskin, lalu orang miskin akan menggunakan apa? Radar moral dan kesadaran kepentingan bersama ini yang mestinya dimiliki oleh kelas menengah yang ngakunya terdidik.

Fakta yang agak mencengangkan adalah hingga Maret tahun lalu lalu, kuota gas subsidi sudah terpakai 0,67 metrik ton dari total kuota sebesar 5,77 metrik ton. Permintaan gas elpiji 3kg diprediksi terus meningkat. Masalahnya konsumsi ini mengancam subsidi, karena mereka yang sebenarnya tak berhak menggunakan gas 3kg ikut ambil karena merasa kemahalan membeli yang 12kg.

Untuk mengatasi hal itu PT Pertamina lantas mencari jalan tengah, yaitu mengeluarkan varian produk gas non-subsidi Bright Gas dalam kemasan 5,5 kilogram (kg). Produk ini diharapkan bisa menjadi pengganti bagi kelas menengah yang keberatan membeli gas 12kg. Artinya, kalau masih pelit dan merasa murahan, bisa membeli gas 5,5 kg ini. Target pasar Bright Gas 5,5 kg adalah konsumen yang membutuhkan gas dalam kemasan ringan, praktis, dengan harga terjangkau.

Bright Gas 5,5 kg, punya tiga kelebihan. Pertama, lebih aman dengan fitur katup ganda yang mengadopsi teknologi Double Spindle Valve System (DSVS) sehingga dua kali lebih aman dalam mencegah kebocoran pada kepala tabung. Kedua, fitur keamanan diperkuat dengan adanya tambahan segel resmi Pertamina yang dilengkapi dengan hologram fitur OCS (Optical Color Switch). Ketiga, produk ini juga bisa dipesan melalui layanan terpusat Pertamina Contact Center 500000 nantinya. Artinya kita tidak akan ada alasan lagi kekurangan gas atau susah menemukan tabung ini.

Secara fisik ukuran bright Gas 5,5 kg ini tentu lebih kecil daripada tabung 12kg. Dengan berat kosong tabung hanya 7,1 kilogram dan total berat termasuk isi hanya sekitar 12,6 kg, Bright Gas 5,5 kg lebih ringan dari segalon air mineral dan mudah diangkat. Sayang bersebarannya masih terbatas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Diharapkan harga jual Bright Gas 5,5 kg di tangan konsumen tidak lebih dari Rp 70 ribu rupiah. Saat ini, harga jual promo Bright Gas 5,5 kg di SPBU dan modern outlet sebesar Rp 66 ribu per tabung. Konsumen juga diberikan kesempatan untuk menukar dua buah tabung 3kilogram dengan satu tabung Bright Gas 5,5 kg.

Ini tentu jalan tengah yang adil. Artinya jika 3 kg merupakan hak orang miskin, kini kelas menengah yang mampu semestinya punya alternatif lain untuk mengkonsumsi gas. Dengan tidak merebut hak orang miskin dengan membeli tabung gas 3kg, subsidi gas bisa dialihkan ke kegiatan produktif lain untuk mengentaskan kemiskinan. Dari data kementrian ESDM terungkap pemerintah menyediakan 26 triliun subsidi untuk elpiji 3kg rata-rata setiap tahunnya. Artinya jika orang kaya dan mampu membeli 3kg ia merebut hak orang miskin dan juga berpotensi membebani subsidi negara.

Konstitusi negara kita hanya mengatur bahwa negara hanya wajib menyantuni fakir miskin dan anak-anak terlantar, bukan kelas menengah mampu tapi pelit beli gas. Pasal 28 UU Migas memang menyatakan bahwa dalam menentukan dan menetapkan harga BBM, pemerintah memiliki tanggung jawab sosial terhadap golongan masyarakat tertentu. Dengan demikian, subsidi gas semestinya harus tepat sasaran.

1 COMMENT

  1. Ane setuju, besok akan menulis juga faktor faktor lain diluar itu yang membuat langka, dan udah ane infestigasi selama beberapa tahun di Jogja, ” wes koyo paparazi wae aku “

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here