Bengis

1
1422

Adolf Eichmann, seorang jagal Nazi yang diadili karena kejahatan kemanusiaan, mengutip Immanuel Kant tentang konsep categorical imperative. Bahwa apa yang ia lakukan, membantai ratusan ribu yahudi melalui proyek genosida itu, hanyalah sekedar melakukan tugas. Tidak ada rasa benci atau kemarahan. Ia berdalih, sebagai warga negara dan petugas negara, ia hanya melaksanakan perintah sesuai hukum.

Apa yang dilakukan Eichmann merupakan banalitas kekejian. Ia tidak lagi mengenal konsep empati, kemanusiaan, dan moralitas. Sebagai manusia, ia telah berubah menjadi mesin. Tunduk pada peraturan dan tak peduli apakah peraturan atau hukum itu dibuat sebagai satu sistem opresi raksasa untuk menghabisi satu kelompok masyarakat.

Yahudi, pada saat itu dianggap sebagai sumber masalah dan juga sumber kesengsaraan. Solusi final yang dipilih Nazi adalah satu cara untuk menghabisi masalah tersebut. Penghapusan total ras yahudi di dunia. Mereka mengalami penindasan berdasarkan prasangka, kecurigaan, dan kebencian yang dibangun oleh propaganda dan stereotipe.

Yahudi digambarkan sebagai sosok keji, mata duitan, culas, penipu, kejam, tak bisa dipercaya, dan musuh peradaban. Stereotipe itu sampai hari ini masih ada. beberapa dari kita susah membedakan Yahudi sebagai ras, Judaisme sebagai ajaran, Israel sebagai negara, dan zionisme sebagai gerakan politik. Semuanya dibungkus jadi satu tanpa mau peduli bahwa peradaban mereka tidak monolit dan punya banyak ragam.

Propaganda dan stereotype kerap kali membunuh nalar. Sekali label dilekatkan ia akan memiliki konsekwensi mengerikan. Segala stereotipe, kecurigaan, dan kebencian yang melekat pada label itu akan dilekatkan. Sekeras apapun anda mencoba untuk menjelaskan, mereka yang dibutakan kebencian tidak akan peduli. Tak pernah peduli dan tidak mau peduli.

Sebut saja label komunis di Indonesia. Maka stereotipe seperti anti tuhan, pengkhianat negara, penjagal kyai, dan sebagainya akan ikut dilekatkan. Bahkan jauh setelah partai dan idiologi komunis di Indonesia bangkrut. Di pojok-pojok jalan muncul seruan awas komunisme gaya baru, awas kebangkitan komunis, sesederhana karena anda barangkali menuntut penuntasan kejahatan kemanusiaan tragedi 65.

Hari ini stereotype itu berkembang tak lagi berdasarkan idiologi komunis tapi juga label kelompok. Sekali anda dituduh syiah, maka otomatis segala perkataan anda adalah dusta dan sedang taqiyah. Sekali anda disebut simpatisan ide kilafah, maka anda otomatis dituduh pendukung teroris dan tak berhak punya hak sipil. Sekali anda dilabeli sebagai liberal, maka anda pasti suka seks bebas, membenarkan semua agama dan sebagainya dan sebagainya.

Stereotype dan propaganda adalah mesin keji yang membenarkan kebengisan. Ketika anda mempertanyakan metode penanganan terorisme yang kerap menggunakan kekerasan total, sehingga seluruh pelakunya mati, maka anda dianggap membela dan mendukung terorisme.

Seolah dunia dibagi hitam dan putih, seolah tidak ada prosedur jelas tentang bagaimana menghadapi krisis apabila tersangka yang hendak ditangkap melakukan perlawanan. Sejauh mana polisi bisa bertindak? Siapa yang mengontrol polisi? Dan bagaimana kinerja mereka bisa dievaluasi?

Setelah Ahmadiyah, Syiah, Pendukung Kilafah, kini kelompok yang paling mengalami represi dan penindasan paling keji adalah kelompok yang diduga sebagai simpatisan Gafatar. Rumah mereka di Mempawah dibakar, dituduh bukan lagi islam, sementara di Desa Karya Jaya, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara mereka dipaksa bersyahadat, dituduh pengikut nabi palsu, semua hanya berdasar katanya, menurut cerita, dan dugaan. Seberapa besar dari kita yang benar-benar mau mencari tahu?

Kebengisan ini membuat saya ngeri. Negeri yang katanya ramah dan penuh tepa selira ini rupanya munafik. Mereka adalah satu kesatuan predator purba yang bergerak berdasar prasangka, membenarkan kekerasan berdasarkan kecurigaan, dan tunduk pada otoritas selama mereka menghabisi kelompok yang dibencinya.

Beberapa kali saya membaca status dan cuitan yang mendukung kerja polisi untuk bertindak agresif. Mereka yang dituduh, catat dituduh dan belum terbukti menjadi teroris, baiknya ditangkap saja, kalo perlu ditembak dan dibunuh. Alasannya mencegah terorisme tumbuh. Jika ini dilakukan, apa bedanya kita dengan para jagal fasis nazi dan orba yang membunuh jutaan manusia dengan alasan stabilitas?

Hal serupa bisa ditemukan pada kelompok intoleran. Mereka merasa syiah dan ahmadiyah baiknya dibunuh saja, agar agama tetap terjaga. Kelompok ultra nasionalis merasa kelompok simpatisan OPM baiknya dibunuh saja, agar NKRI tetap terjaga. Para orang tua merasa pengedar atau yang ikutan dengan industri narkoba dihukum mati saja, agar anak anak mereka tidak terjangkiti kecanduan obat terlarang.

Those who criticize our generation forget who raised it. Terorisme, fasisme, intoleransi, dan kecanduan obat-obatan terlarang terjadi tidak sekedar karena silogisme Karena A maka B. Ide tak bisa dilawan dengan kekerasan atau hukuman mati. Kekerasan hanya akan membuat idiologi menjadi laten. Semakin keras menghabisi musuh yang anda anggap tak terselamatkan, makin berlipat ganda mereka.

Bertolt Brecht pernah berkata “first bread, then morality”. Kira-kira dalam konteks hari ini, tembak dulu, mikir belakangan. Yang penting kalau mereka bukan kelompok saya, atau saya tidak suka dengan mereka, ya habisi saja. Moralitas dan empati hanya bekerja parsial, yaitu berdasar sentimen pribadi. Jika musuh, mesti dihabisi, jika kerabat sendiri mesti adil dan terukur.

1 COMMENT

  1. tulisan keren brader…
    Agama dipercayai karna keindahan pembawa ajarannya dan kemutakhiran konsepnya, bukan karna kebenarannya. Mempertahankan agama dengan memaksa kebenarannya diterima semua orang, sama dengan menggunakan barang yang bukan miliknya dengan cara yang tidak disukai pemiliknya. silahkan mampir ke lapak saya bang..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here