Hijrah

0
1514

Ibu saya memutuskan memakai jilbab ketika saya kuliah. Dia bilang sudah waktunya menjalani agama dengan total dan benar. Sebelumnya, ibu bekerja nyaris sendirian untuk membiayai kuliah saya dan saudara-saudar. Akibatnya, ia kerap melalaikan ibadah, termasuk tidak memakai jilbab. Setelah kakak saya mapan, ibu mulai fokus belajar agama lagi lantas memutuskan dengan total memakai jilbab.

Ibu mulai ikut pengajian, aktif mendaras quran tiap sore, dan melakukan sholat subuh berjamaah. Ia menjadi orang yang nyaris sama sekali berbeda. Ibu juga mulai membaca buku soal kajian islam, yang ringan-ringan tentu saja, kadang ia smsan dengan sesama ibu komplek tentang ayat Qur’an. Tujuannya sederhana, menyampaikan ayat untuk meningkatkan iman.

Barangkali apa yang dilakukan Ibu saya banyak disebut sebagai Hijrah. Yaitu ketika orang yang dahulu fokus ke dunia, tiba-tiba secara total meninggalkan gaya hidup itu, dan fokus kepada agama. Ibu jelas sangat masuk kriteria itu. Wong pakaiannya uda kaya ukhti-ukhti, hanya, ibu saya ga suka ngomong mendadak ala ala arab. Dia jawa yang besar di bima dan hidup di lingkungan madura. Ngomong ana, ukhti dan sejenisnya mungkin bikin dia geli.

Menariknya. Ibu saya tidak menyatakan diri sedang hijrah. Dalam bahasanya ibu bilang sedang naik kelas. Setiap kelas punya ilmu dan pelajarannya masing masing. Ia toh tidak menganggap yang belum berjilban sebagai yang bukan temannya, atau mereka yang selalu pake jilbab selalu suci. Ibu, seingat saya, selalu berada di antara.

Kita kerap menemukan hal yang seperti ini. Orang-orang yang moderat dan berada di antara, mereka tak bisa dikelompokkan, dan tak perlu dikelompokkan. Misal orang itu melakukan tahlilan, tapi kadang ya percaya kalau maulid itu bid’ah. Toleran dengan dan bersahabat dengan orang katolik, tapi ya ga mau punya mantu katolik.

Seperti ibu saya percaya iman itu punya jenjang dan pelajarannya sendiri. Kamu gak bisa mengejek anak TK yang belum paham aljabar, pun ga bisa menilai hermeneutika itu cabang sesat padahal belum mempelajarinya. Sesederhana karena kita pernah menjadi orang yang belajar, maka tak perlu menghina yang sedang belajar. Karena kita belum mempelajari sesuatu, bukan berarti ia 100% salah dan tidak bisa diterima kebenarannya.

Saya selalu geli dan agak keberatan dengan pemaknaan hijrah belakangan ini. Orang-orang yang mendadak santun, religius dan memuja kesusilaan. Saya tak ada masalah dengan orang santun, religius dan memuja kesusilaan, saya bermasalah dengan sikap ujub. Merasa diri lebih baik daripada orang lain karena pernah jadi bedebah lantas bertobat. Manusia macam ini agaknya lebih tengik dari ketiak babi.

Sebelumnya mari kita sepakati, menutup aurat bagi umat muslim, tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki, adalah kewajiban. Maka ketika perempuan tidak memakai jilbab, sikap saya jelas, ia salah menurut standar agama, tapi sebagai manusia saya menghormati haknya untuk tidak memaki jilbab. Seperti juga tak ada orang yang boleh melarang seseorang memakai jilbab.

Tidak memakai jilbab itu dosa, sama dosanya dengan laki-laki yang menikmati aurat itu. Maka perkara menutup aurat saya kira berlaku dua arah. Ia kewajiban semua umat muslim. Bagi perempuan ada area yang mesti ditutup bagi lelaki juga. Maka pada satu titik saya menyepakati sikap Prof Quraish Shihab soal jilbab, jika tidak mampu berjilbab, baiknya menutup aurat dengan standar kepatutan.

Saya kerap menemui kepongahan beragama, mereka yang merasa lebih baik dari yang lain. Kerap pula saya menemukan perempuan yang direndahkan karena ia tidak memakai jilbab, ada pula sesama perempuan yang menghakimi perempuan yang lain karena belum berjilbab. Jika berjilbab adalah soal hidayah, semestinya itu hak Allah, sesama muslim memang wajib mengingatkan bukan wajib menghakimi.

Ujub, seperti juga riya, itu serupa bara api yang membakar batang kayu amalan. Anda merasa lebih baik, lebih sholeh, lebih beragama, dan lebih suci daripada yang lain. Merasa bahwa praktik ibadah anda lebih baik dari yang lain. Ini adalah bencana yang mengerikan. Ia digambarkan sempurna oleh AA Navis dalam Robohnya Surau Kami. Ujub, seperti juga riya’, itu susah dirasakan tapi mudah dikenali.

Saya dan anda bisa mengalami ini. Saya ujub karena merasa lebih pintar, riya’ karena memamerkan pengetahuan, dan juga takabur karena merasa benar. Maka hijrah apa yang hendak anda lakukan? Hijrah seperti apa yang hendak kita definisikan? Ia menjadi penting untuk perbaikan diri.

Hijrah adalah kepindahan. Tapi menyebut bahwa peristiwa hijrah adalah perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, tanpa ada kesadaran kritis tentang makna kebaikan itu sendiri adalah kebebalan. Apa yang buruk? Dan apa yang baik? Buat beberapa orang musik itu buruk, maka ia mesti ditinggalkan. Lantas ia membakar alat musik miliknya, seolah ia adalah tindakan benar dan berpahala. Masalahnya apakah makna buruk itu monolit dan tunggal?

Ada orang yang mengaku mesti menyatukan ukhuwah islamiyah. Bahwa semua muslim besti bersatu. Tapi pada sisi lain ia menyerukan kebencian terhadap muslim yang tidak sepaham dengan dirinya. Ia menunjukkan kebencian itu secara terbuka, seolah itu adalah hal yang baik dan berpahala. Lantas apa makna ukhuwah yang ia sampaikan? Yang bukan golongan saya tak boleh ambil bagian?

Bagi beberapa orang, mereka yang di luar kelompoknya adalah sesat menyesatkan, maka perlu mengajak mereka ke jalan kebenaran dengan atau tanpa pentungan. Bagi beberapa yang lain, kebaikan adalah menyebarkan cinta kasih, merawat toleransi, menerima perbedaan, dan merayakan keberagaman. Saya percaya baik dan buruk itu sangat tergantung dengan siapa anda bergaul, belajar dan berinteraksi.

Jika hijrah adalah perkara ahli membid’ahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan orang lain, saya menolak untuk hijrah. Saya memutuskan untuk tinggal saja. Jika hijrah adalah perkara berjihad ke tanah asing, membunuh orang yang tidak bersalah, menyembelih manusia yang tidak sepaham, dan menegakkan agama dengan darah. Saya memutuskan untuk diam saja.

Hijrah kanjeng nabi saya adalah hijrah untuk merayakan cinta, keberagaman, dan juga rasa aman. Kanjeng nabi saya mempersaudarakan muhajirin dan anshar, bukan membuat mereka saling bertikai satu sama lain. Ketika Hijrah kanjeng nabi saya juga menyusun piagam Madinah yang isinya toleransi, bukan seruan kebencian terhadap satu golongan.

Jadi jika anda mengaku hijrah, tapi masih menyerukan kebencian, anda itu niru hijrahnya siapa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here