Hari Libur

0
1055

Sudah beberapa hari ini rumah saya di kampung ramai. Ibu bilang, anak anak kakak saya setiap hari bermain di rumah. Mereka main seharian. Saya protes, kok kurang ajar, kakak saya membiarkan ibu jadi baby sitter. Tapi ibu bilang itu dia yang minta. Sejak saya dan kakak bekerja di Jakarta rumah praktis sepi. Jadi ketika ada ponakan yang main ia justru senang sekali.

Tahun lalu Maulid Nabi Muhammad dan Natal memberikan kebahagiaan bagi ibu saya. Ia bisa berkumpul dengan cucu-cucunya. Mengajak mereka bermain, bercerita dan melakukan kegiatan macam macam. Setiap sore, sekitar pukul 3, masjid depan rumah menyelenggarakan pengajian. Ibu dan cucu-cucunya biasanya bermain di pelataran masjid. Yang sudah agak besar belajar menghapal doa dan surat pendek. Kegiatan ini buat ibu saya adalah kegiatan yang demikian menyenangkan.

Ibu saya konservatif, dalam banyak hal ia percaya bahwa mengucapkan natal itu haram, syiah itu sesat, ahmadiyah itu kafir dan sebagainya. Tapi dalam kehidupan masyarakat ibu saya sangat toleran. Ia punya kawan katolik yang setiap natal toh ya bakal dikirimin makanan. Saya dan ibu sepakat, syariat mesti dijalankan, bukan didebat atau ditolak.

Sebagai muslim, ibu dan saya percaya bahwa setiap muslim pasti dan mau menjalankan hukum islam. Pertanyaannya bukan menolak atau menerima hukum islam, tapi bagaimana kita, saya dan anda menginterpertasikan hukum islam. Apakah kaku, apakah fleksibel, apakah tekstual, apakah kontekstual dan lainnya. Mematuhi hukum agama itu syarat mutlak, nah menerjemahkannya adalah bentuk toleransi.

Menyebut hukum islam sebagai hukum yang kolot dan ketinggalan zaman, berarti menyebutnya sebagai hukum yang secara terberi buruk. Sehingga perlu interpertasi dan kontekstualitas. Untuk hal ini saya belajar pada ibu saya. Jika mengucapkan natal itu haram, ya udah, gak usah mengucapkan. Tapi ya kita ga salah kalau pas hari itu ngasih hadiah berupa makanan, namanya tetangga kan boleh silaturahmi dan saling memberi. Membahagiakan orang itu kan banyak cara, tak perlu dengan ikut merayakan ajaran agamanya.

Dua hari libur ini tidak membuat ibu jadi pusing. Jauh dari perdebatan halal haram merayakan maulid, apalagi halal haram mengucapkan selamat natal, ibu saya hanya memandang dua hari ini sebagai hari libur. Artinya ia punya dua hari penuh untuk bertemu dengan cucunya. Kebahagiaan ini tak perlu direcoki dengan tafsir, apalagi klaim kebenaran. Saya yakin banyak ibu atau orang yang merayakan dua hari ini sebagai berkah untuk mengambil jeda istirahat.

Saya kira ini persoalan hanya kita memandang masalah. Ibu tak pernah memandang Maulid dan Natal dari perspektif teologi. Maka ia dengan santai dan riang gembira merayakan dua hari libur ini sebagai momen bahagia. Bagi seorang nenek, yang rumahnya sepi karena anak-anaknya sudah bekerja, kehadiran cucu di rumah adalah berkah. Ini tak perlu anda jelaskan hukumnya, mau halal atau haram, yang jelas ibu bahagia.

Dalam kerinduan terhadap rumah, kakak memfoto satu lemari buku saya. Ada sekitar seribuan buku yang saya punya di rumah. Beberapa di antaranya kajian tentang syiah dan katolik. Sempat degdegan. Apakah ibu marah? Atau kakak saya yang fundamentalis garis keras itu akan marah karena ada buku syiah. Tapi toh ternyata aman. Buku saya disimpan dengan rapi.

Ibu jelas tahu, tapi ia toh tidak ribet dengan memperingatkan saya ini itu, bilang soal syiah sesat, atau hamdiyah sesat, atau katolik kafir. Ia bilang bukunya sudah ditata rapi dan banyak tetangga mau pinjam. Belakangan rumah di kampung sepertinya ramai, ibu memajang buku saya di ruang tengah. Seperti tropi, dia bilang buku bisa jadi pajangan bagus ketimbang porselen atau alat makan.

Nah di sela-sela itu ibu bilang kalau tahun baru mau cucu-cucu mau menginap di rumah. Dia bilang mau bikin perayaan kecil. Saya tak sampai hati mau bilang hukumnya haram atau apa. Wong ibu mau bersenang-senang dengan keluarganya kok. Mau beli petasan, terompet dan mungkin masak sedikit kudapan. Lha apa iya mau bilang kalau itu perilaku kafir dan kalo niru langsung otomatis kafir. Umat kok secetek itu imannya.

Tahun baru masih beberapa hari lagi. Ibu sudah mempersiapkan diri. Jelas tidak akan ada alkohol, apalagi seks bebas, yang jelas akan ada anak-anak kecil, yang teriak teriak, petasan, kembang api dan rumah yang berantakan. Apakah ibu saya takut imannya runtuh? Tidak, malah kayanya dia takut kalo malam tahun baru hujan dan gak bisa main kembang api.

Saya beruntung ibu tak punya media sosial. Karena saya yakin, kesehariannya barangkali akan diisi dengan membagi status kesesatan syiah, kutipan ayat, atau broadcast BBM yang isinya soal konspirasi yahudi di Indonesia. Lagipula ibu saya tak butuh media sosial untuk menjadi muslim yang taat. Ibadahnya cukup tuhan dan saya yang tahu.

Media sosial hanya akan membuat ibu saya merasa dihakimi. Jilbabnya kurang syar’i, sholatnya gak bener, dan tiap hari diteror soal standar kebenaran beribadah. Seolah-olah dalam beragama itu monolit, tunggal, dan tak punya beragam interpertasi. Saya lebih suka ibu menjalankan imannya secara mandiri, merdeka dan biar Tuhan saja yang menilai, apakah ia layak disebut muslim atau cuma bigot yang insecure akan iman.

Beberapa hari lagi akan ada perayaan Imlek. Kawan keluarga kami, seorang tionghoa, masih merayakan Imlek. Biasanya ia akan membawakan kue dan beberapa hadiah. Tapi bukan soal kue dan hadiah itu yang menjadikan hari itu istimewa, ini tentang bagaimana kami menghadapi perbedaan dan bagaimana orang lain merespon sikap keluarga kami.

Jika anda baik terhadap perbedaan, toleran dan menjadikan itu sebagai sebuah hal yang biasa. Maka kebaikan akan kembali pada anda, sesederhana itu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here