Kenapa Diam?

3
1941

 

Aku pikir keadaan kita baik-baik saja. Aku pikir negara kita aman aman saja. Presiden yang terpilih kemarin berjanji akan menegakan hak asasi manusia. Presiden ini yang kemarin berjanji akan memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, serta penyelesaian secara berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia masa lalu.

Aku pikir ia adalah orang yang bisa diandalkan. Aku pikir ia adalah manusia yang memegang teguh kata-kata. Aku pikir ia adalah manusia yang bersetia dengan janjinya sendiri. Tapi bukankah aku juga manusia? Bukankah aku juga bisa salah. Tapi kenapa kita diam saja? Kenapa kalian diam saja? Kenapa aku diam saja? Kenapa kita tidak marah?

Kelompok minoritas diburu dan diperlakukan seperti binatang. Jemaat ahmadiyah diusir, dinistakan dan dibunuh seperti hama tengik yang demikian hina. Penganut Mazhab Syiah diusir, disesatkan, dikafirkan dan diancam berbagai macam hal seolah mereka kurang manusia. Apakah kalian punya sertifikat resmi pengelola surga sehingga merasa berhak menyakiti dan menista sesama manusia?

Anak anak yang dijagal di Paniai Papua itu baru saja masuk masa remaja. Harusnya mereka jatuh cinta, pacaran dan patah hati. Bukan dikubur di alun alun depan markas militer. Kenapa kalian diam saja? Kenapa kita tidak marah? Apakah karena mereka orang papua bukan orang melayu? Atau karena mereka separatis dan bukan republik? Mereka manusia, mereka punya nyawa, dan kita dengan brengseknya diam saja ketika mereka mati dijagal dengan peluru yang dibayar dengan uang pajak kita?

Kenapa kita diam saja ketika kebebasan berpendapat diberangus, ibu-ibu kamisan tak boleh lagi berkumpul di depan istana. Ibu-ibu itu, perempuan tua dan keluarga yang menuntut keadilan atas keluarga mereka yang dibunuh dan dihilangkan negara, kapan mereka ditemui oleh perwakilan negara ini? Pemerintah yang konon mengagungkan nawa cita dan berkomitmen terhadap penegakan hak asasi manusia?

Kenapa kalian tidak marah? Kenapa kita diam saja? Kenapa kita membiarkan orang-orang ini terus menerus menginjak-injak kemanusiaan kita? Kenapa kalian tidak marah? Kenapa kalian diam? Atau kalian merasa sudah cukup aman dan mapan? Tidakkah kalian tahu, kalian tak akan mengerti pentingnya hak asasi manusia sampai hak itu dirampas secara paksa. Kalian tidak akan mengerti makna solidaritas, sampai kalian dipaksa menghadapi sendirian penindasan atas kehidupan kalian?

Kenapa kalian diam saja? Kenapa kita tidak marah? Korban kejahatan kemanusiaan yang kalian sebut komunis itu juga manusia. Mereka punya perasaan. Mereka diperkosa, disiksa, dihina, dinista dan dibuat tidak lebih baik daripada tikus got. Perempuan yang ditelanjangi, perempuan yang dibakar kemaluannya, perempuan yang diperkosa masal itu tentu bukan ibu kalian, bukan nenek kalian, bukan bibi kalian, bukan saudara perempuan kalian, apakah kalian mesti menunggu hal ini terjadi pada saudara kalian sampai kalian peduli?

Mengapa kalian diam saja? Kenapa kita tidak marah? Orang-orang yang disebut sesat dan kafir itu hanya ingin beribadah dengan tuhannya. Mereka hanya ingin membangun rumah agar bisa khusyuk beribadah dengan tuhannya. Itupun dilarang karena takut pemurtadan. Iman macam apa yang demikian lemah sehingga bisa berubah di depan sebuah rumah ibadah? Mereka diusir, mereka dinistakan, mereka dihina, diancam, dan kalian diam saja? Kenapa kalian tidak marah?

Mengapa kalian diam saja? Kenapa kita tidak marah? Ibu-ibu di Rembang, Kulon Progo, Benoa, Urutsewu adalah manusia-manusia yang menolak ditundukan. Hak atas keberlangsungan hidup mereka diancam. Mereka dipaksa menerima orang asing yang akan merebut tanah hidup mereka, masa depan mereka, tanah kelahiran mereka. Mereka bukan ibumu, bukan keluargamu, tapi apa kalian mesti menunggu ibu kalian diusir baru mau peduli dan marah?

Mengapa kita diam saja? Mengapa kalian tidak marah? Para penghayat di Rembang itu semestinya dijamin kebebasanya berkeyakinan. Apa hak orang lain atau satu kelompok untuk mengatakan mereka tidak benar? Menyebut mereka penyembah yang salah? Apa keyakinan seseorang mesti dikekang? Kenapa mereka dilarang? Kenapa rumah ibadah mereka dihancurkan? Dan mengapa pemerintah kita diam saja?

Setiap hari tentu ada masalah. Di jalanan kita bertemu pengendara motor bajingan yang menerobos lampu merah dan hampir menabrakmu, di kantor bos memaksa kalian mengerjakan hal yang mustahil, dunia makin brengsek, gaji kurang, gaya hidup semakin mahal dan segala hal tampak tidak menunjukan tanda kebaikan. Lalu kalian berkata persetan politik, persetan agama, aku hanya ingin hidup tenang dan tidur nyenyak.

Hidup tenang macam apa yang lahir dari keabaian akan nasib yang lain? Tidur nyenyak macam apa yang meniadakan kepedulian terhadap sesama? Kalian bisa saja berkata, ah aku sudah menyumbang ini itu, aku sudah bekerja ini itu, jadi tolonglah jangan berkotbah, aku hanya ingin hidup tenang, persetan politik dan persetan agama. Tapi sampai kapan kalian akan diam? Sampai kapan kalian akan sabar?

Aku ingin kalian marah. Aku ingin kalian berteriak. Oh Sudahlah, Tolong jangan lagi membuat kami seperti orang tolol. Siapapun berhak berkeyakinan di negeri ini? Tafsirmu tidak membuatmu lebih sucir dari isi perut babi. Keadilan mesti ditegakkan meski pedih. Sampai kapan pemerintah kita akan dewasa? Sampai kapan mereka akan terus menerus mengelak menyelesaikan pelanggaran demi pelanggaran hak azasi dan kemanusiaan kita? Aku mau kita marah dan menunut mereka bekerja lebih keras. Menjamin siapapun mendapatkan keadilan dan menjalankan keyakinannya tanpa ketakutan.

Apa itu demikian susah? Apa kalian mesti menunggu hak kalian untuk bersenang senang dilarang? Hak kalian untuk hidup diinjak-injak? Kelak saat kalian memutuskan marah. Barangkali semuanya sudah terlambat. Barangkali kita sudah menghamba pada ketakutan.

3 COMMENTS

  1. Dhani lupa, bahwa tidak ada kebenaran yg hakiki. Melainkan kebenaran absolut dari pendapat mayoritas. Itulah mengapa, kasus-2 kekerasan terhadap ahmadiyah, syiah, ibu-2 di jepara, painai, dll tetap betlangsung. Secara hakikat, tidak ada yg salah dengan keyakinan, dengan keberagaman, dengan kemajemukan. Tidak ada yg salah. Namun kami kan mayoritas, trus kamu mau apa? Kalo kamu mau selamat, mau tempat ibadahnya gak disegel, mau beribadah gak diganggu, mau ndirikan tempat ibadah biar gampang? Ikut aja agamaku, keyakinanku! Kami ini mayoritas, trus kamu mau apa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here