Peduli

0
883

Bisakah kita mengadili pikiran? Bisakah kita menguji niat baik? Barangkali begini, mereka yang memakai avatar dengan bendera ingin menunjukan kepedulian, sekedar solidaritas. Karena, mungkin mereka sudah berdoa, mereka ingin membantu, tapi tidak bisa. Nah, dengan menggunakan avatar dengan bendera Prancis, mereka setidaknya berusaha menunjukan kepedulian kepada mereka yang kehilangan, kepada mereka yang bersedih bahwa saya peduli.

Anggap saja begini. Ketika kerabat atau orang yang anda kenal meninggal, lalu anda menemuinya. Anda berusaha menggunakan pakaian hitam sebagai bentuk duka, apakah ini ikut ikutan? Apakah ini cari perhatian? Saya kira tidak. Ini adalah simbol, saya peduli, saya berempati dan saya merasakan duka yang anda rasakan dan anda tidak peduli.

Apakah kepedulian dan tragedi punya strata? Saya tidak tahu. Tapi jika mengatakan bahwa, “Ah giliran Prancis aja sok solidaritas, pas orang Palestina dibantai kalian kemana? Pas anak anak sekolah Papua dibunuh kalian di mana?” itu adalah kebebalan. Apakah anda benar benar mengenal orang yang anda tuduhkan itu? Apakah anda benar benar mengerti isi pikiran dan niat dari orang itu? Mengadili seseorang berdasarkan prasangka adalah keburukan, saya juga sering begitu, ini tidak membuat saya lebih baik dari kalian.

Tapi sebut saja begini. Tentu kalian mengenal orang orang yang selalu bersikap setiap ada satu masalah. Sebut saja Tragedi di Palestina, di Syiria, di Afganistan, di Iraq, di Nigeria, di Lebanon dan di manapun itu. Ketika setiap tragedi direspon, akan ada orang orang yang berkomentar “Idih caper amat, semua semua di doakan, noh tetangga yang belom makan di doakan, noh kabut asab dibantu,” saya kira kita tak bisa memuaskan semua orang. Selalu ada satu sudut jelek yang akan dieksploitasi untuk menjatuhkan kepedulian kita. Apakah kita akan menyerah?

Tragedi yang terjadi di Paris itu terjadi setiap hari di Syiria, di Afganistan, di Papua, kemana kepedulian kalian. Apakah kepedulian mesti ditunjukan setiap saat, ditunjukan kepada semua orang, dan ditunjukan kepada beberapa orang tertentu agar terlepas dari stigma “Ah ikut ikutan doang, dasar aktivis jempol, bisanya mah,” jika begitu sebenarnya apa yang lebih penting dari solidaritas? Menunjukan bahwa kita peduli pada semua orang atau berusaha memahami bahwa tragedi itu mesti dicegah dan belajar jadi orang yang lebih baik lagi?

Berdoa itu bagus. Membantu nyata juga bagus. Ibu saya yang sudah sepuh, tidak bekerja, bukan aktivis dan mudah lelah tentu tidak bisa diminta untuk menyumbang atau ikut jadi relawan ke timur tengah. Ibu saya hanya bisa berdoa, lantas, jika dia berdoa apakah saya harus merendahkan dan menghinanya? atau saya berkata “Ah doa mulu, aksi dong, banyak bacot lo orang tua,” saya tidak bisa, demi tuhan saya idak bisa.

Yang meninggal didoakan, yang ditinggal hidup dikuatkan dengan menunjukan kepedulian dan solidaritas. Tidak harus percaya Tuhan untuk jadi orang baik. Tapi yang mempercayai Tuhan semestinya selalu berlaku baik. Menghakimi niat baik seseorang itu jahat, tapi sekedar ikut-ikutan peduli hitungannya adalah empati level satu. Itu sudah bagus. Pura pura peduli lebih baik daripada menyebar kebencian, fitnah, dan kebohongan. Solidaritas kemanusiaan mungkin bisa masuk dari pura pura peduli, sampai nanti akhirnya peduli beneran.

Pun mereka yang telah membantu, bekerja keras seperti Mer C, seperti para relawan dan juga pejuang yang turun ke lapangan, saya hanya mampu mendoakan, memberi hormat dan menyisihkan sedikit kembalian dari uang ngopi saya di starbucks. Karena saya tidak bisa turun ke lapangan seperti jadi relawan ke Palestina, saya tak punya kemampuan medis dan pengetahuan tentang kebencanaan, ngotot berangkat “jihad” dengan modal kepedulian bisa jadi celaka dan membebani mereka yang benar-benar profesional.

Nah setelah kalian ganti avatar dan menunjukan kepedulian dan solidaritas ada baiknya belajar untuk memahami kondisi bangsa sendiri. Jika saya tidak mampu membantu negeri yang jauh, apa yang bisa saya lakukan untuk saudara saudara saya di negeri sendiri? Mulai dari hal sederhana, membentuk jejaring solidaritas, dan mengangkat isu sosial bersama. Bukankah negeri ini gudangnya masalah? Mulai dari intoleransi, konflik agraria, kejahatan kemanusiaan, kejahatan seksual sampai rasisme. Tinggal pilih mana yang kamu sukai dan peduli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here