Tentang Kapan Nikah

1
6657
Photo by Ben Rosett on Unsplash
Photo by Ben Rosett on Unsplash

Belakangan saya kepikiran ibu, tentang bagaimana ia bertambah tua, bertambah ringkih, beberapa kali sakit tanpa memberi kabar, juga matanya yang semakin kelelahan. Apa yang lebih menggetarkan perasaan ketimbang rasa khawatir pada seseorang yang kamu cintai?

Seperti dua tahun sebelumnya, saya memutuskan untuk tidak merayakan idul fitri dan pulang ke Bondowoso. Barangkali saya merasa takut, takut jika kemudian saya pulang, memandang mata itu saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Kamu tahu? Dihantui rasa cinta menggebu untuk berbakti sebagai seorang anak dan menjadi seseorang yang bisa diandalkan orang tua.

Tapi saya tahu, ibu saya tidak akan membahas hal remeh semacam itu. Ibu mungkin akan sesegera mungkin mengusir saya kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja. Sambil sesekali mengingatkan untuk tidak pernah lupa berdoa dan sholat. Menegur agar menjaga pola makan dan diet tapi menitipkan berbagai panganan seperti dendeng ragi, abon, orek tempe dalam jumlah besar.

Pulang ke rumah saat lebaran tentu menyenangkan. Ini bukan soal libur, ini soal kembali menyigi akar. Menyesap kembali identitas sebagai “orang daerah”. Bagi saya mudik bukan soal lebaran, bukan soal merayakan ibadah, bagi saya mudik adalah perkara menemukan lagi hal remeh yang kamu rindukan tanpa sadar. Seperti teman, makanan, jalan, ruang, waktu, juga pemandangan.

Ini sesuatu yang mahal. Bukan, bukan soal jarak dan harga yang mesti dibayar melalui tiket. Kamu tidak bisa memberi harga pada pengalaman dan perasaan. Tapi kita tahu tidak semua hal sentimentil itu menyenangkan. Ia bisa jadi melukai, terutama, jika kamu mengingat hal yang membuatmu sedih. Kematian, perpisahan, juga jejak ingatan masa lalu.

Pulang ke rumah bagi saya bisa jadi upaya menghadapi yang belum selesai. Menjawab pertanyaan yang enggan saya jawab. Juga hal-hal yang menjadi beban. Belakangan ada yang berubah soal menghadapi beban. Terlebih ketika ibu bertanya tentang “kapan menikah?”, belakangan saya menganggapnya sebagai ungkapan sayang ketimbang tuntutan.

Ibu makin tua, ia menyadari bahwa mungkin tak akan lagi dapat mengurus anak-anaknya. Ibu saya, yang keriput, dan selalu menangis ketika berdoa itu, paling gemar merawat anak-anaknya. Ia akan memasak, mencuci, mempersiapkan pakaian untuk anaknya dengan suka cita. Mengomel? Tentu saja.

Pernah saya mencuci baju, tidak bersih benar, dengan muntab ibu mencuci ulang, menyetrikanya, mengomel dari pagi hingga siang. Ibu adalah penguasa rumah. Oh kau boleh mengaku feminis, mengaku mendukung emansipasi, mendukung kesetaraan gender, tapi bagi ibu pekerjaan-pekerjaan itu adalah hidupnya, cintanya, dan seluruh jagat kecil yang ia lakukan sejak kanak-kanak.

Ibu akan marah besar jika kami makan di luar. “Dikira aku tidak bisa masak apa?” begitu terus. Kami anak-anaknya pernah merasakan ini, jadi jika kami ingin makan sesuatu, mesti sembunyi-sembunyi. Bukan, bukan karena ibu galak, kukira karena saya dan kakak yang lain tak ingin ibu terluka.

“Kamu kapan nikah?” katanya lagi. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Ini bukan tuntutan, ini adalah pernyataan sayang. Pertanyaan ini kerap diikuti dengan kata-kata lain seperti. “Carilah istri yang bisa memasak, yang bisa mengurus anak, yang bisa anteng di rumah, yang bisa merawat kamu,” katanya.

Bu, aku sedang mencari istri, dan bukan pembantu, bahkan jika aku punya pembantu, tak akan aku suruh dia bekerja dengan beban berlebihan. Tapi tentu kalian tahu, saya tak mungkin menjawab demikian. Semua saya simpan dalam kepala saja. Saya tak tega mendebat ibu, ia sudah kepalang menderita sembilan bulan merawat saya untuk didebat dengan ilmu pengetahuan yang saya dapat atas biayanya.

Lain hari ibu menawarkan hal yang lain. “Carilah istri yang berjilbab, yang menjaga aurat, yang pintar mengaji, yang ahli ibadah dan bisa membawamu ke surga,” katanya.

Bagaimana pula saya mencari istri yang demikian baik? saya sholat saja kerap tidak, mengaji saja tersendat, bertato pulak. Mana ada perempuan demikian baik mau padaku? Jika ada pun tak mungkin sudi menengok, dilirik saja sudah bagus.

Ini juga tak saya utarakan. Ibu bahkan tak tahu saya punya tato.

Saya ingin pulang dan ditanyai kapan nikah. Saya mau ibuku, mungkin juga bu Supik, perempuan yang merawat saya sejak kecil bertanya tentang dengan siapa saya akan menikah. Perempuan hebat mana yang saya cintai. Mungkin saya akan menceritakan kamu, mungkin juga tidak. Mungkin saya hanya ingin memeluk ibu, Bu Supik dan juga keponakan-keponakan saya yang lain.

Saya terlalu bahagia dan rindu untuk dipusingkan negativitas, kepahitan, dan juga rasa marah untuk merespon pertanyaan kapan nikah dengan jawaban ketus. Mungkin dulu saya akan marah, tapi tidak sekarang, tidak hari ini. Saya tahu mereka mencintai saya, ibu, paman, juga saudara tua yang brengsek itu juga akan bertanya kapan menikah.

Dulu saya pikir pertanyaan-pertanyaan klise yang diajukan di ruang tengah ketika lebaran itu adalah bentuk invasi ruang privat. Tapi tahu apa ibu saya soal ruang privat? Paman dan bibi saya? Mereka orang-orang sederhana yang tidak paham konsep-konsep besar peradaban modern. Berdebat dengan isi kepala yang tinggi tidak berguna di hadapan orang-orang ini.

Bertahun lalu, ketika saya merasa gagah dengan isi kepala saya, saya pernah bedebat tentang banyak hal. Tentang bahwa orang tua tak punya hak pada anak, kami ini mahluk merdeka, bahwa kami ini berhak menentukan nasib sendiri, bahwa kami tak harus tunduk pada peraturan, tata krama, dan nilai-nilai mereka. Bukan merasa hebat, saya hanya menyakiti orang orang yang saya cintai.

Ibu menangis. Saya tak pernah merasa seburuk itu dalam hidup. Buat apa ilmu tinggi jika hanya untuk menyakiti?

Saat bertanya mereka mungkin hanya penasaran. Bibi saya mungkin akan sibuk bertanya mengapa saya tidak juga menikah, padahal sudah mapan. Paman saya mungkin akan bertanya ada pekerjaan apa di Jakarta buat anaknya yang baru lulus SMK. Mengapa mesti menyakiti mereka dengan kata-kata kasar? Kamu tidak pernah tua, tapi mereka pernah muda, kebijaksanaanmu barangkali tidak ada seujung jembut mereka.

Oh tentu ada saudara brengsek. Yang gemar bergunjing, menyindir, dan memaki. Kemudian yang jadi pertanyaan, perlukah berinteraksi dengan mereka? Jika tidak mengapa merusak hari raya dengan menghadapi kemurungan? Perlukah merusak hubungan hanya karena sebuah pertanyaan? Kalian punya pilihan, menjawab dengan baik, atau bahkan tidak perlu dibahas sama sekali.

Tapi saya tahu, ada orang-orang baik yang bertanya dengan perasaan kasih sayang tulus soal kapan saya menikah. Saya tidak perlu unjuk bagasi kepala dengan congkak hanya untuk menjawab itu. Untuk ibu, bu supik, adik, dan saudara-saudara yang saya sayang. Saya akan menjawab dengan pelukan. Sambil berbisik.

“Nanti, kalau sudah move on.”

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here