BAGIKAN

 
Bagaimana cara warga Amerika Serikat menghentikan Donald Trump bicara? Tidak bisa, ia betapapun bodohnya, dijamin oleh konstitusi negara untuk bicara dan berpendapat. Meski kerapkali pendapat dan ucapannya tidak lebih baik dari sekedar gonggongan anjing kudis yang dua hari belum makan.a
 
Tapi bukan sekedar pendapat yang Trump ucapkan, ia kerap kali membuat pernyataan yang tak berdasar atau sama sekali tak benar. Misalnya ketika ia mengatakan bahwa pendapatan rata-rata keluarga di Amerika saat ini kurang dari 4.000 dolar. Trump tak salah, hanya saja pernyataan itu benar jika diucapkan 16 tahun lalu.
 
Sebuah pernyataan yang diikuti klaim mesti memiliki data yang valid, setidaknya jika hendak mengutip statistik. Di acara Detroit Economic Club pada 8 Agustus lalu Trump membuat klaim bahwa hari ini di Amerika Serikat, 58 persen anak muda keturunan afrika-amerika tidak bekerja atau sedang menganggur. Pernyataan ini jauh dari kebenaran, berdasarkan sensus resmi AS, data 58 persen itu merujuk pada usia 16-24 tahun yang saat ini sedang sekolah, jadi merupakan kewajaran jika mereka tidak bekerja.
 
Cara kita membaca data merupakan cerminan isi kepala kita. Jika memang sudah amburadul dan sumbing, agak susah meluruskan nalar kita menerjemahkan sebuah data. Gejala ini mencerminkan ukuran garasi dan cara pandang kita terhadap sebuah masalah. Oh jangan salah, banyak kok yang mengalami bengkok nalar membaca data. Bahkan media-media dengan nama besar pernah mengalami salah baca data.
 
Time contohnya pernah menulis tentang artikel yang berjudul “Scientist Say Smelling Farts might Prevent Cancer”. Judul itu jelas melakukan pengabaian pemberian konteks dan memburamkan fakta. Dalam riset tersebut yang sebenarnya terjadi adalah, ada kandungan dalam kentut yang berguna sebagai alat belajar untuk menganalisa senyawa yang bisa mengurangi resiko kancer.
 
Perdebatan paling sia-sia di dunia adalah meminta seorang gemini untuk move on dari mantan pacarnya. Perdebatan paling sia-sia ke dua adalah mendebat kelompok moralis religius dengan data dan fakta terhadap sebuah fenomena sosial. Misalnya ketika didebat seseorang yang membuat klaim bahwa alkohol adalah penyebab mutlak kekerasan seksual. Kamu mendebat bahwa kondisi mental manusia adalah penyebab utamanya. Alkohol hanya menjadi pendorong kondisi mental seseorang, jika ia berjiwa kriminal maka kriminallah perilakunya.
 
Tentu kamu bisa memberikan data dan argumen bahwa rata-rata tiap malam warga Korea Selatan mengkonsumsi sembilan juta botol Soju dengan kandungan alkohol 20 persen, namun negara itu memiliki angka kekekrasan seksual yang rendah dibanding Indonesia yang tak jelas berapa botol alhokol yang dikonsumsi. Lantas lawan debatmu membalas data dan argumenmu dengan potongan ayat suci. Perdebatan macam ini lebih baik diakhiri, daripada hanya melukai…
 
Lantas jika kemudian lawan debatmu berevolusi dengan argumen yang menyertakan data-data, maka kewajibanmu untuk menguji validitas data tersebut. Misalnya jika ada yang membuat klaim bahwa ada peningkatan konsumsi miras di kalangan remaja Indonesia naik drastis tujuh tahun terakhir. Misalnya, jika ia menyebut bahwa berdasarkan riset kesehatan dasar Departemen Kesehatan, jumlah pengkonsumsi miras remaja di angka 4,9 %. Dan tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 2014, berdasarkan hasil survei naik mencapai angka 23 %. Tingginya konsumsi miras ini karena miras mudah didapat.
Konsumsi Minol Resmi
 
Maka pertanyakan kembali bagaimana data itu bisa diperoleh? Karena merujuk pada data dari WHO pada 2014, Konsumsi alkohol tidak tercatat (unrecorded/ilegal) di Indonesia jumlahnya lima kali lebih besar dari pada minuman beralkohol pabrikan. 80% konsumsi alkohol adalah alkohol unrecorded. Artinya alkohol ilegal yang bukan diproduksi oleh pabrik legal yang membayar pajak.
 
Lantas angka 23 persen remaja yang mengkonsumsi alkohol itu dari mana? Alkohol jenis apa? Bir? Wine? Kita mesti paham bahwa minuman soda, yang dicampur autan dan alkohol medis 70% bukan minuman beralkohol. Itu racun. Tape Ketan atau cairan yang lahir dari fermentasi tape ketan juga mengandung alkohol delapan persen, jauh lebih tinggi daripada alkohol yang dikandung bir. Maka perlu diperjelas 23 persen itu dari mana?
 
Usia Legal
Maka yang perlu dipahami adalah pengawasan praktik jual beli alkohol di lapangan. Regulasi tentang alkohol legal di Indonesia sudah ada dan banyak. Pemerintah Indonesia melarang alkohol dijual bagi remaja karena usia minimal konsumsi alkohol adalah 21 tahun. Lantas jika ada pelanggaran maka pengetatan aturan yang perlu dilakukan, bukan membuat regulasi baru berdasarkan data yang amburadul.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY