BAGIKAN

Perempuan itu berubah sejak terakhir saya menemuinya bertahun lalu. Ia bukan lagi perempuan riang yang gemar melemparkan lelucon sembari terbahak. Ia nampak lebih kurus, ia kurus sebelumnya, tapi malam itu ia tampak lebih kurus, lebih muram dan lebih berantakan.

Sebatang rokok di tangannya sama sekali membuat saya asing. Siapa perempuan ini? Diakah yang dahulu kerap menggoda saya dengan berbagai lelucon sambil bergosip tentang zodiak-zodiak yang saya benci isinya itu? Saya tak mengenali perempuan itu, tapi saya tahu sorot mata perempuan itu, sorot mata seorang penyintas yang dibakar amarah sendirian.

Kami bertemu, bicara tentang masa silam, tentang tragedi yang ia alami. Dalam pertemuan yang dua jam di malam itu, ia berusaha tegar, ia tidak menangis. Bahkan masih sempat tersenyum. “Aku masih belum percaya padamu,” katanya. Saya juga tak percaya pada diri saya sendiri, saya bahkan masih belum bisa percaya apa yang terjadi padanya.

Ia dilecehkan secara seksual. Diperkosa.

Perempuan itu masih menolak menangis. Beberapa kali perjumpaan yang kami lalui masih berkutat tentang kronologi. Saya membantunya untuk mempersiapkan diri. Ia tak sedang meminta pertanggungjawaban,atau hendak menuntut pemerkosanya diadili. “Aku ingin sembuh,” kata perempuan itu. Masih tak ada tangis. Ia masih tersenyum,

Mata perempuan itu sayu, ada garis yang mulai hitam di bawah kantung matanya. Saya tahu ia hanya tidur beberapa jam saja tiap malam. Peristiwa pelecehan seksual yang ia alami kerap datang lagi. Itu sebabnya ia jarang tidur, bukan tak mau, ia tak bisa dan tak ingin. Perempuan itu pelan-pelan kehilangan semangat hidup, berulang kali ia tanpa sengaja ingin mengakhiri hidup.

Kukira kita tak akan pernah bisa benar-benar memahami rasanya jadi penderitaan sebelum menjadi korban itu sendiri. Saya tahu sekedar menghibur bahwa “Semua akan baik baik saja,” atau “Waktu akan menyembuhkan segalanya,” adalah penyepelean terhadap masalah. Ia lebih buruk daripada ini, seseorang yang masih bingung ingin memutuskan hidup atau mati.

Suatu hari Perempuan itu meminta saya menemaninya untuk konsultasi. Sekedar berupaya menjadi sembuh. Pagi itu ia terlihat lebih segar, semalam ia bisa tidur lebih lama dari biasanya. Ia berusaha tersenyum, tapi yang ada malah wajah yang berantakan. Kamu tahu? Memaksakan senyum itu seperti menemui bangkai tikus, ekspresinya mengerikan.

Dalam perjalanan tubuh perempuan itu menggigil. Saya tahu ia gugup dan cemas. Bagaimana jika ia dihakimi? Perempuan itu memakai jilbab, ia muslim yang taat, atau saya kira ia demikian. Barangkali ia takut dihakimi, perempuan berjilbab kok diperkosa, memang ngapain aja? Saya mencoba menggenggam tangannya, ia berusaha tegar dan masih mencoba tersenyum. Ia tak juga menangis, tidak sejak perjumpaan kita beberapa hari lalu, tidak juga pagi ini.

Kami sampai di tempat konseling menjelang siang. Ia gugup, badannya gemetar, ia menunduk, seperti ada bogem yang mendarat di ulu hatinya. Saya mencoba menenangkannya. Saya tak tahu harus berbuat apa. Saya tak pernah menjadi korban. Sementara perempuan itu mesti menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk berdiri, untuk tidak terlihat kacau di hadapan orang-orang asing di tempat konseling itu.

Perempuan itu akhirnya menemui seorang psikolog muda. Perempuan itu mulai bicara. Apa yang terjadi padanya, bagaimana ia diperkosa, dilecehkan, dan kemudian dibungkam. Perempuan itu mengaku tak tahu bahwa ia diperkosa, ia sadar perkosaan itu beberapa bulan kemudian. Ia menuntut pelaku untuk mengakuinya, si pelaku tak sadar bahwa ia memperkosa, si pelaku mengaku tak paham apa itu consent. Ia pikir jika seorang perempuan diam ketika aktivitas seksual terjadi berarti si perempuan mau.

Perempuan itu akhirnya menangis. Ia menunduk, tubuhnya bergetar hebat, psikolog muda itu memeluknya. Ia menangis, tidak bersuara. Ia menangis dan menangis, hingga kemudian ia tertawa lagi. “Mungkin ini salah saya,” katanya. Ia kemudian bercerita jika si pelaku melakukan hal serupa pada beberapa perempuan lain. Ia menduduh pemerkosanya melakukan manipulasi. Ia tak mau ada korban lagi. “Aku hanya ingin dia mengaku,” katanya.

Perempuan itu bertekad untuk sembuh. Tidak untuk membalas dendam, tidak juga untuk melupakan tragedi yang menimpanya. Ia ingin sembuh untuk dirinya sendiri. Ia ingin menulis lagi, menyelesaikan kuliah, dan barangkali melanjutkan hidup dengan pasangan barunya. Pertemuan dengan psikolog hari itu membantunya membentuk tekad baru. Kesembuhan dan hal yang layak diperjuangkan. Ia tahu menuntut keadilan kepada orang yang tak mengaku bersalah adalah kesia-siaan.

Perempuan itu juga tahu bahwa si pelaku berlindung di balik kawan-kawannya yang baik. Ia tidak menyalahkan kawan-kawan si pelaku. Ia hanya kecewa pada diam yang dibuat mereka. Saya tahu ini. Karena saya juga diam. Saya tak bisa membayangkan menjadi perempuan itu. Ia mesti menderita karena tubuhnya dilecehkan, ia menderita karena kini kondisi psikologisnya tidak stabil, sementara ketika ia meminta keadilan ia diminta sabar dan memaafkan. “Maafkan pelaku, dia korban juga,” kata beberapa orang.

Tragedi kerap membuat kita memutuskan tentang pilihan-pilihan yang memuakkan. Kepada siapa rasa kasihan diberikan? Kepada pelaku atau kepada korban? Ini tidak semudah memilih hitam dan putih, seringkali ini perkara menyadari apa yang kamu ketahui. Kasihan kepada pelaku kejahatan karena dia depresi dan stress, lantas bagaimana dengan korban? Bagaimana dengan korban yang mesti memikul salib trauma seumur hidupnya? Bagaimana dengan korban yang mesti berulang kali menemui psikolog hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa hidup lebih baik daripada mati?

Saya ingat kasus perkosaan terhadap perempuan yang dilakukan oleh seorang atlet renang dari Stanford University. Si pelaku kemudian dipermalukan, dihina, dan dirisak oleh banyak orang. Sang ayah lantas menulis surat panjang, mengatakan bahwa Brock Turner, si pelaku perkosaan itu menderita. Ia mengalami depresi dan stress karena pemberitaan buruk. Brock Turner adalah laki-laki manis, atlit harapan, karir dan hidupnya hancur “hanya” karena satu kesalahan kecil: memperkosa.

Negeri ini tak pernah ramah pada korban kekerasan seksual. Ketika kejahatan itu menimpa teman saya, ia membuka mata lebih lebar. Ada yang salah dengan cara kita memandang dan memperlakukan korban. Perempuan itu mengaku sudah lelah, Ia ingin menyerah, tapi ia tak ingin ada korban perkosaan lagi. Ia diminta bersabar dan memaafkan, ia diminta mengkasihani pelaku. Seolah ia baik-baik saja, bahwa perkosaan itu seperti luka lecet akibat jatuh dari sepeda.

Perempuan itu mencoba menuliskan penderitaannya. Terbata-bata dan kecewa ia mengutuk dunia yang memintanya bersabar. Kenapa hanya sedikit yang mengutuk pelaku dan mendiamkan tragedi itu? “Apakah karena si pelaku adalah pendiam? Apakah karena si pemerkosa itu teman baik kalian sehingga kalian memutuskan bungkam?” saya hanya bisa menemaninya, saya tak mampu menjawab itu. Belakangan saya tahu teman-teman si pelaku memperlakukan kasus ini “sebagai ujian”.

Kemana korban mesti meminta keadilan? Keadilan tidak diberi, keadilan diperjuangkan. Saya kira perempuan itu tahu dan menyadari bahwa ia tak bisa berharap untuk dikasihani. Menjadi korban kekerasan seksual di negeri ini artinya kamu harus melawan lagi, melawan sistem yang menindas, melawan pelaku yang dilindungi oleh “niat baik” kawan-kawannya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY