BAGIKAN

inet

Ini kabar baik. Di tengah perbincangan politik yang makin mengerikan di media sosial, kabar tentang Festival Desa Teknologi Informasi dan Komunikasi atau Destika yang digelar di Papua memberi saya semangat lagi. Acara yang digelar di Danau Sentani, Kalkote, Jayapura, Papua bertujuan untuk memberikan kendali, akses, dan juga kesempatan bagi masyarakat di Papua untuk menikmati teknologi serta pemanfaatannya. Ini jelas kabar baik, bahwa di tengah riuh pembahasan yang melulu soal pusat, justru dari Papua perubahan dan kemajuan sedang dimulai.

Destika menjadi penting bagi saya karena banyak hal. Pertama ia memberikan akses internet kepada masyarakat di desa, kedua pemilihan Papua sebagai titik awal dimulainya program mengisyarakatkan bahwa kini program pemberdayaan tak lagi jawa sentris, dan yang ketiga ada inisiatif dari negara untuk memenuhi hak atas informasi melalui literasi digital. Terakhir melalui meleknya masyarakat terhadap teknologi informasi maka mereka bisa berpartisipasi dalam proses pengawasan pembangunan.

Budiman Sujatmiko, Ketua Panitia Festival Destika menyebut bahwa dengan teknologi ini masyarakat bisa turut serta mengawasi pemanfaatan anggaran yang lahir dari UU Desa. Ini hal yang penting, mengingat selama ini warga hanya jadi objek pembangunan tanpa bisa mengetahui dan mengawasi bagaimana aliran dana pembangunan itu mengalir. Dengan meleknya masyarakat terhadap teknologi informasi pengelolaan dana dari UU Desa misalnya, akan transparan dan akuntabel dan partisipatif. Bisa kita pastikan bersama-sama dananya akan diarahkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat.

Tapi tidak sekedar itu Destika menjadi penting. Fredric Paul dari Network World pernah menulis argumen panjang tentang hak untuk mengakses internet. Ini merupakan respon dari resolusi tidak mengingat PBB yang menyebut bahwa internet adalah hak asasi manusia. Fredric menyebut bahwa internet memberikan ruang bagi manusia untuk berekspresi, berpendapat, dan merdeka dalam bersikap.

Di banyak negara kemerdekaan berpendapat di internet merupakan kemewahan yang susah dimiliki. Fredric mencontohkan Rusia, Cina, Arab Saudi, dan Iran misalnya. Akses internet dibatasi atas nama stabilitas negara. Ia berpendapat terlepas individu, negara, atau perusahaan swasta yang berkelindang menguasai jasa akses internet, ruang demokrasi dalam internet penting bagi publik sebagai sarana pendewasaan.

Destika juga punya potensi hampir tidak terbatas. Masyarakat yang melek informasi dan teknologi bisa melakukan sinergi dan kerja sama. Budiman menyebut perniagaan, penjualan produksi-produksi desa ke kota lewat sarana ekonomi digital. Juga produksi kota bisa dikonsumsi desa dengan harga yang disepakati dan diketahui bersama bisa dilakukan. Artinya setiap desa bisa mengembangkan potensinya sendiri dan saling membantu untuk menjadi sukses bersama.

Chris V. Nicholson dari New York Times menuliskan bagaimana jaringan internet mempengaruhi Ensatopia sebuah desa kecil di provinsi Masai Kenya, 100 mil dari ibukota Nairobi. Ada 4.000 penduduk di sana, tak memiliki bank, kantor pos, dan sedikit sekali infrastruktur. Koran hanya datang setiap tiga atau empat minggu sekali, itupun berbundel-bundel sisa berita minggu yang sudah usai. Internet mengubah wajah desa kecil itu dan memberikan kesempatan warganya untuk bisa maju dan memahami kemanusiaan.

Di Ensatopia masyarakat masih dikuasai mitos dan kepercayaan. Misalnya, jika kamu terlahir dengan kaki bengkok akibat polio, kamu akan dikira pembawa bencana. Dengan adanya internet Julius Kasifu, warga setempat, melakukan edukasi dan pendidikan bahwa apa yang cacat yang dialami adalah hal wajar, masyarakat bisa diselamatkan dengan imunisasi polio dan menghentikan praktik pengasingan bagi penderita cacat di desa itu.

Di negara-negara lain seperti Nepal, akses internet di desa-desa terpencil digunakan sebagai sarana belajar. Mahabir Pun, pemberdaya asal Nepal yang memperoleh gelar doktor dari Amerika Serikat, datang kembali ke desanya untuk melakukan pemberdayaan. Mahabir membuat inisiatif Nepal Wireless Networking Project, untuk menyambungkan berbagai masyarakat di desa terpencil nepal dengan internet. Tujuannya untuk melakukan edukasi dan pemberdayaan. Masyarakat yang dulunya tertinggal kini bisa menggunakan internet untuk mengembangkan potensi mereka.

Dengan adanya teknologi informasi masyarakat desa bisa mengakses pengetahuan yang ada di internet. Lembaga pendidikan seperti universitas atau sekolah terbuka bisa memberikan e-learning. Di Nepal masyarakat bisa mengakses dokter untuk memahami simptom penyakit, mereka diajari merawat luka, penanganan pertama saat kecelakaan, mengenali sumber penyakit, tanaman obat, dan sanitasi untuk mencegah penyakit. Mahabir juga mengajarkan masyarakat dari berbagai desa untuk membuat perangkat sederhana agar bisa meniru teknologi yang ada. Tujuannya setiap desa terpencil di Nepal bisa membuat jaringan internetnya secara mandiri.

Itu mengapa potensi Destika ini sangat tidak terbatas. Dimulai dari Papua menyebar ke seluruh Indonesia. Jika setiap warga negara bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk pemberdayaan, maka bukan tidak mungkin mereka bisa berdaulat dan mandiri. Apalagi dengan kesadaran bahwa mereka bisa turut berpartisipasi dalam pengawasan anggaran Desa. Setiap warga bisa ambil bagian dalam proses demokrasi dengan mengontrol negara.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY