BAGIKAN

Bagaimana kamu yakin, perempuan yang kamu ajak ngobrol di Tinder itu benar-benar perempuan dan dia adalah dia yang kamu bayangkan. Pertanyaan ini muncul ketika saya mengikuti perbincangan tentang tanda tangan digital yang diselenggarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Kota Kasablanka pada Kamis (1/12) lalu.

Pertanyaan ini penting, mengingat, pencurian identitas merupakan sebuah peristiwa yang banyak terjadi. Tapi sebagai generasi yang menikmati dan kerap kali bergantung pada teknologi internet, verifikasi akan identitas seseorang itu penting. Berulang kali di twitter saya bertengkar atau berdebat dengan akun anonim, seseorang yang tak jelas identitasnya.

Perdebatan dengan akun anonim jelas tak menyenangkan, namun saya percaya identitas yang jelas di dunia digital itu perlahan penting. Bukan hanya sebagai tolok ukur itikad baik dalam berkomunikasi, tapi juga sebagai penanda bahwa individu yang memakai akun tertentu seperti A atau B memang benar-benar ada dan ia hidup. Bukan mesin apalagi penipu.

Kominfo melalui seminar di Kota Kasablanka itu berusaha menawarkan konsep tentang tanda tangan digital. Mengapa ini penting? Selama ini, dalam peradaban manusia, tandatangan atau stempel fisik menjadi bukti pertanggungjawaban dalam suatu dokumen. Dokumen menjadi legal dan bisa dipercaya karena adanya tanda tangan dan stempel.

Sebuah memorabilia, baik buku atau foto, punya nilai tambah berkali lipat jika ada tanda tangan atau penanda bahwa itu milik satu bintang idola. Tapi dengan berkembangnya teknologi apakah tanda tangan fisik masih relevan dan bisa dipakai? Inisiatif Kominfo untuk mendorong penggunaan tanda tangan digital sebenarnya baik dan memudahkan.

Dengan adanya tanda tangan digital yang terverifikasi dan terjamin keasliannya, setiap pengguna internet bisa dimudahkan dan memangkas birokrasi di banyak transaksi digital yang terjadi saat ini. Selain itu penggunaan tandatangan digital juga bisa menjadi identitas seseorang di ranah digital.

Secara sederhana tandatangan digital teknologi pengganti sebagai bukti identitas seseorang di ranah digital. Jadi seperti KTP, namun untuk ranah digital. Riki Arif Funawan, Kasubdit Teknologi Keamanan Informasi Kominfo, dalam acara kemarin, menyebut dengan adanya  tandatangan digital seseorang bisa dipercaya integritasnya di dunia digital.

Kita tahu di dunia digital, seseorang secara kasat mata susah dikenali dan diidentifikasi sebagai satu individu yang partikular.  Verifikasi di dunia digital penting. Ia digunakan sebagai satu tolok ukur integritas identitas seseorang Di dunia nyata bentuk kesepakatan legalitas digunakan melalui tandatangan. Jika tanda tangan asli maka ia legal.

Dalam dokumen dunia nyata tandatangan basah penting jadi bukan sekedar scan foto tandatangan yang diprint. Tanda tangan merupakan ciri individu, sebagai identitas satu individu yang memiliki jaminan hukum. Maka untuk itu Kominfo mendorong kita untuk memiliki Tandatangan Digital, bahwa satu orang individu yang unik punya identitas yang jelas, terjamin, dan berintegritas di dunia digital.

Mengapa kita perlu identitas digital dalam dunia digital? Karena di internet kita tak bisa memastikan siapa yang merespon komunikasi yang kita lakukan. Seperti yang sebelumnya disebutkan, banyak kasus di Indonesia di mana sebuah akun dari bintang terkenal ternyata dikelola oleh orang lain, atau bahkan digunakan untuk penipuan.

Lantas bagaimana kita bisa percaya melalui tandatangan digital seseorang tak lagi bisa menipu? Kominfo menjamin bahwa tandatangan digital akan dibuat dengan ketat dan prosesnya melalui verifikasi secara akurat tatap muka dan setiap individu hanya satu dipastikan keaslian identitasnya.

Setiap identitas akan diverifikasi dan diuji integritasnya baik lembaga perbankan atau pemerintahan, untuk kemudian dipakai dalam transaksi digital Kenapa kita butuh identitas digital? Pemerintah ingin mengembangkan teknologi mandiri yang tak bergantung pada asing. Selain itu pemerintah melalui Kominfo ingin agar seluruh masyarakat ikut ambil bagian dalam kampanye tanda tangan digital ini agar terintegrasi dengan teknologi di masa depan.

Tanda tangan digital membuat dokumen dan transaksi elektronik punya nilai hukum. Sehingga transaksi elektronik bisa dimudahkan. Tanda tangan digital mencegah bocornya data pribadi masyarakat pada aplikasi layanan online. Dr, Edmon Makarim, Skom, SH, LLM, Dosen Hukum Telematika FH-UI, menyebut identitas dan penanda digital penting sebagai kartu pengenal seseorang di ruang digital.

Tanda tangan elektronik hanya satu dari berbagai alat untuk mengenali seseorang di ruang digital. Dasar hukum dari tandatangan digital bisa dilihat pada beberapa aturan pemerintah seperti

UU 28 tahun 2007 tentang perubahan ketiga atas undang undang nomor 6 tahun 1993 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan terdapat 1 pasal, UU 11 2008 tentang informasi dan traksasi elektronik terdapat 7 pasal, UU 2 tentang transfer dana terdapat 2 pasal. Dasar hukum ini penting agar kita bisa dijamin dan dilindungi undang undang.

Pemerintah mesti menyediakan kepastian hukum dan menjamin seseorang telah diverifikasi dan bertanggung jawab terhadap data yang diberikan. Identitas kita kelak perlu dijamin kebenarannya untuk perkembangan zaman karena saat ini saat ini ada penyedia 21 jasa keuangan yang ada, setiap entitas perlu membuat kita memasukan data ulang.

Keuntungan tandatangan digital atau boleh juga dibilang sebagai digital signature, bagi konsumen awam adalah memangkas perulangan birokrasi tiap kali berpindah-pindah layanan e-commerce. Bukan hal aneh kalau pengguna harus melengkapi isian biodata tiap kali baru mengakses sebuah layanan e-commerce.

Alhasil, semakin banyak layanan e-commerce yang diakses, semakin banyak pula data pribadi yang tersebar. Selain tak efektif, hal tersebut juga memberikan kerentanan terhadap keamanan data pengguna.

Masalahnya dengan tanda tangan digital kita hanya perlu satukali melakukan regirstasi, kelak tak perlu melakukan transaksi sehingga sekali verifikasi digital signature bisa digunakan untuk transaksi yang lain. Agar kelak dengan adanya data yang telah dijamin melalui tandatangan digital tak akan ada lagi repudiation atau penyangkalan.

Penggunaan tandatangan digital pun nanti akan ada lembaga yang mengaturnya. Kalau KTP ditangani dinas kependudukan, tandatangan digital rencananya akan dipegang oleh Kominfo sebagai pembuat aturannya nanti. Singkatnya, siapapun yang ingin membuat tandatangan digital maka harus mengurusnya ke Kominfo.

“Metode pembuatan identitas (tandatangan-red) digital akan mirip seperti paspor. Bedanya semua berjalan secara digital, tak ada (manusia) yang melakukan pengecekan (verifikasi data-red), melainkan aplikasi,” kata Riki Arif Gunawan seperti yang dikutip via Detik.

Di sinilah peran tandatangan atau identitas digital dibutuhkan. Nantinya konsumen hanya perlu memiliki satu identitas digital untuk mengakses berbagai layanan. Selain itu pihak penjual dan pembeli juga akan merasa nyaman karena identitas digital mewakili identitas asli yang terverifikasi. Tidak seperti saat ini di mana penjual dan pembeli kerap waspada tiap kali melakukan transaksi online.

 

1 KOMENTAR

  1. Konsepnya bagus sekali. Harapannya sih kalo benar direalisasi maka keamanan data nomor satu ya. Harus benar benar dijaga.

LEAVE A REPLY