BAGIKAN

Pernahkah anda menghitung ada berapa jenis soto di Indonesia? Mulai dari Soto Lamongan, Soto Banjar, Soto Betawi, dan soto-soto lainnya. Itu baru soto, belum kecap, sambal, terasi, sampai dengan jenis makanan pokok pengganti nasi seperti pisang, papeda, sagu, singkong, dan ubi. Kekayaan hasil alam Indonesia membuat masakan dan cita rasa makanan kita begitu beragam dari seluruh pelosok nusantara.

Ini tentu merupakan gambaran sederhana bagaimana kekayaan alam membuat setiap daerah memiliki ragam kuliner yang berbeda. Perbedaan citarasa menggambarkan karakter masyarakatnya sendiri, mereka yang tinggal di pegunungan tentu memiliki karakter rasa berbeda dengan mereka yang tinggal di pesisir. Namun perbedaan ini tidak membuat kita membenci satu sama lain bukan?

Sebagai penikmat sejarah dan juga seorang yang menggemari perbincangan, makanan dan minuman adalah salah satu alasan mengapa saya melalakukan perjalanan. Melancong adalah satu upaya membuka kazanah pemikiran dan menambah pengetahuan. Sejak 2005, usai lulus SMA saya menyempatkan diri untuk mencoba berbagai jenis makanan lokal di Jawa Timur.

Di perjalanan saya menemukan bahwa tradisi dan budaya masyarakat di Jawa Timur dipengaruhi dua kutub budaya dominan. Jawa dan Madura. Ketika saya sudah bekerja dan bisa memiliki penghasilan sendiri, saya memberanikan diri untuk mengeksplorasi ragam kuliner dan tradisi masyarakat di Jawa Timur.

Saya menikmati makanan, perbincangan, dan tentu saja minuman. Alkohol salah satunya. Kekayaan alam di Indonesia membuat Alkohol Tradisional punya ciri khas masing-masing di setiap daerah. Ambil contoh Arak Bali atau Moke dari Flores. Satu poin menarik adalah fakta dimana Alkohol Tradisional Indonesia semuanya terbuat dari bahan-bahan alami seperti buah-buahan dan tanam-tanaman yang dipanen lalu difermentasikan.

Alkohol Tradisional bahkan kadang menjadi identitas kedaerahan. Dalam sebuah artikel di Beritajatim disebutkan  alkohol tradisional jenis Arak di Tuban sudah dilakukan oleh sejumlah warga dari Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban secara turun temurun dari para sesepuhnya.

Menurut cerita dari sejumlah warga yang ada di wilayah Tuban menyebutkan bahwa pada jaman dulu sebenarnya minuman Arak tersebut di produksi untuk jamuan saat warga sedang menggelar acara hajatan, seperti nikahan atau tayuban. Arak sebagai suguhan penghormatan bagi para tamu yang hadir dalam suatu acara hajatan seperti pernikahan dan lain sebagainya dan bukan bertujuan untuk mabuk-mabukan.

Satu fakta menarik: Tradisional Alkohol adalah satu dari sekian banyak benang merah yang menghubungkan ragam suku dan budaya di Indonesia. Moke (Flores) and Arak (Bali) sebagai contoh, selain menggunakan bahan yang sama juga melalui proses fermentasi serupa yakni penyadapan air dari getah pohon enau. Tambahkan Kemangi setelah proses fermentasi dan jadilan Moke. Atau lakukan satu kali lagi distilasi usai fermentasi dan jadilah Arak Bali.

Cita rasa Alkohol Tradisional melahirkan pecintanya sendiri. Beberapa teman saya kemudian mengembangkan kecintaan ini sebagai sebuah obsesi. Mereka mengumpulkan berbagai Alkohol Tradisional ini, mencatatat proses pembuatannya, meneliti latar belakang sejarahnya, dan memeriksa kandungannya. Mengapa ini penting? Setiap Alkohol tradisional di Indonesia memiliki ceritanya sendiri, ia tidak sekedar hidangan, tapi juga menjadi arsip sejarah.

Di Batak misalanya, Tuak Lokal merupakan perwujudan dari saripati dari tanaman legenda bagot (nama lain: arenga pinnata) yang dianggap sebagai pohon mistis. Tetesan yang disadap dari pohon mistis inilah, yang konon dari sejarah peradaban Batak digunakan untuk menjadi tuak. Itulah mengapa Tuak dalam masyarakat Batak tidak sekedar minuman, tapi juga bagian identitas kebudayaan.

Ini bukan ekslusif milik masyarakat di Indonesia. Alkohol Tradisional cukup umum kita jumpai di negara-negara Timur Asia seperti Korea Selatan, Jepang maupun Cina. Di Korea Selatan contohnya, Alkohol Tradisional yang cukup dikenal adalah Soju. Yang menarik adalah, Soju ini dibuat dari Koji, sejenin Fungus yang umum ditemukan di Korea Selatan. Koji ini difermentasikan dengan air garam hingga menjadi Soju yang ramai dinikmati penduduk setempat. Proses pembuatan Soju sepenuhnya melalui proses yang natural.

Natural dan menggunakan bahan alami adalah kunci. Hidangan, entah makanan atau minuman, memiliki elemen penting dalam peradaban dan relasi sosial. Hidangan seperti kopi, makanan ringan, dan makanan berat berguna untuk diplomasi, komunikasi, lantas pada level tertentu bisa digunakan sebagai menunjukkan niatan.

Setiap daerah menawarkan makanan dan minuman sebagai simbol keramahtamahan. Alkohol di Korea dan Jepang digunakan untuk menjamu tamu, ia tak pernah hadir sendiri. Kerap kali datang bersama hidangan makanan yang lain dan pertunjukan yang menghibur. Alkohol tradisional kerap pula menjadi oleh-oleh yang digunakan untuk menandakan seseorang telah melewati satu daerah.

Alkohol Tradisional cukup umum kita jumpai di negara-negara Timur Asia seperti Korea Selatan, Jepang maupun Cina. Di Korea Selatan contohnya, Alkohol Tradisional yang cukup dikenal adalah Soju. Yang menarik adalah, Soju ini dibuat dari Koji, sejenin Fungus yang umum ditemukan di Korea Selatan. Koji ini difermentasikan dengan air garam hingga menjadi Soju yang ramai dinikmati penduduk setempat. Proses pembuatan Soju sepenuhnya melalui proses yang natural.

Di Jawa sendiri saya mengenal berbagai jenis minuman alkohol tradisional lokal seperti Ciu, Sari Leci, Berangkal dan Ciu Jogja. Minuman ini umum dikonsumsi oleh petani dan nelayan setempat. Namun karena peraturan yang ketat dan kadang tidak paham sejarah membuat industri alkohol tradisional menjadi terdesak dan memunculkan minuman oplosan yang berbahaya.

Padahal alkohol tradisional Indonesia terbuat dari tanam-tanaman dan buah-buahan yang asli segar tanpa bahan kimia sintetis. Kini jika minuman lokal dengan sejarah panjang ini tidak diselamatkan, bukan tak mungkin ia akan pundah dan hilang ditelan zaman.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY