BAGIKAN

Respon terhadap performance art bertajuk Makan Mayit yang digarap oleh Natasha Gabriella Tontey bagi saya menarik untuk dibaca secara kritis. Seni kerap mengganggu ruang nyaman masyarakat dan bagi saya seni yang berhasil adalah seni yang mengganggu dan membuat tidak nyaman nurani dan pikiran kita.

Seni semestinya mengganggu yang telah nyaman dan membuat nyaman mereka yang diganggu, Dalam hal ini mereka yang telah mapan seperti masyarakat yang tunduk pada norma, moral, agama, peraturan, dan identitas sosial tanpa sama sekali pernah mempertanyakan mengapa mereka mesti tunduk pada konsensus aturan tersebut.

Saya hendak menuduh bahwa pemahaman masyarakat kita sangat rendah terhadap seni, baik seni pertunjukkan maupun seni rupa, Makan Mayit, seperti yang disebutkan oleh senimannya sendiri, adalah usaha untuk memperbincangkan lagi apa itu norma, moral, dan segala hal yang berkelindan dengannya.

Bagi saya ada yang salah dengan cara pandang kita terhadap Makan Mayit. Jika anda merasa bahwa pertunjukkan seni yang menampilkan nuansa gore, dengan memakan fetus, atau makanan yang disajikan dalam boneka adalah salah dan kebablasan, maka di sini kita perlu kembali bertanya, apa yang dimaksud salah dan kebablasan? Apa yang salah dan kebablasan dalam praktik seni makan mayit?

Usaha kritis menjawab pertanyaan itu bisa membuat kita sadar bahwa sebenarnya kita ini bebal dan debil. Katakan saja bahwa fetus adalah satu entitas suci, kandungan, mahluk hidup yang semestinya dihargai, bukan malah dibuat seolah jadi makanan. Tapi benarkah fetus atau bayi adalah hal yang suci dan benar-benar entitas yang berharga buat kita?

Sebagai jurnalis, saya beberapa kali menulis tentang pernikahan dini, Apa kaitan pernikahan dini dengan fetus atau bayi?Masyarakat Indonesia mengijinkan perkawinan dini, masih banyak anak perempuan berusia 14-16 tahun yang diperbolehkan menikah. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang kesehatan reproduksi banyak anak kecil tadi hamil usai menikah, kehamilan di usia dini sangat beresiko, tidak hanya keguguran tapi juga bisa mengakibatkan kematian bagi ibu saat melahirkan.

Belum lagi kesadaran tentang keamanan saat melahirkan, banyak ibu yang melahirkan tanpa mendapatkan pendampingan medis yang memadai. Sejak 2007, Indonesia tercatat sebagai negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara (UNFPA, 2012) dengan 228 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Lima tahun kemudian, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia menunjukkan AKI di Indonesia berada pada angka 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Tapi makan mayit kan offensif? Mengganggu dan tidak memiliki empati terhadap mereka yang keguguran? Bagi yang tak punya anak atau tak bisa punya anak, melihat boneka bayi juga bisa sangat traumatis, lantas apakah kemudian memproduksi boneka jadi tidak berempati? Bagi yang menjual organ buat kepentingan material saat ada banyak orang butuh donor apa membuat mereka jadi amoral? Atau mengapa orang pesan banyak makanan, padahal tahu tidak akan habis dimakan, saat banyak orang lain kelaparan. Dilema moral dan dilema etis dalam seni memang semestinya membuat orang berpikir.

Jika kalian merasa lebih terganggu dengan performance art makan masakan dalam boneka bayi atau masakan berupa fetus ketimbang fakta bahwa pemerintah kita membiarkan pernikahan dini dan masih gagal mengurangi angka kematian ibu saat melahirkan, ada yang salah dengan kemanusiaan kalian. Jika tidak tersinggung dengan kematian ibu saat melahirkan, tapi tersinggung pada makanan berbentuk fetus maka prioritas moral kalian perlu diperbaiki.

Aliza Shvarts, mahasiswi Yale jurusan seni, membuat tugas akhir karya seninya dengan merekam dirinya saat melakukan aborsi. Aliza Shvarts membuat dirinya hamil, lantas mengkonsumsi obat-obatan yang bisa menggugurkan kandungan, ia lantas merekam proses di mana darah yang diduga janin keluar dari tubuhnya. Meski kemudian ia mengaku bahwa itu hanya performance art, Aliza Shvarts mendapatkan kritik karena dianggap mengganggu norma.

Apakah kanibalisme mengganggu? Jelas. Ia salah dalam banyak aspek. Namun sekali lagi, seni kerap kali merupakan respon dari masyarakat di mana seniman itu tinggal. Maka kanibalisme macam apa yang hendak kita tafsir dalam Makan Mayit? Ini pertanyaan penting dan esensial. Sejauh mana kanibalisme ini mengganggu nalar etis dan moral kita.

Tontey bukan yang pertama. Seniman asal Cina Zhu Yu membuat performance art yang bertajuk Eating People, karya ini berisi seri fotografi di mana Zhu Yu memasak dan memakan sesuatu yang diduga fetus. Seniman itu sendiri mengklaim bahwa ia menggunakan jenazah bayi yang dicuri dari sekolah medis setempat. Zhu Yu berusaha mengeksplorasi batasan antara moral, hukum, etika, dan juga kemanusiaan.

Zhu Yu dianggap cari muka, tidak menghargai kemanusiaan, tidak tahu apa-apa, dan dianggap orang gila ketimbang seniman. Hal serupa juga dilakukan kelompok agamawan ketika apa yang mereka sakral diganggu oleh seniman. Sesuatu yang sebenarnya nyaris mirip, kita terganggu saat apa yang kita anggap ajeg dan sempurna ditanyakan kembali melalui medium seni.

Makan Mayit tentu mengganggu. Saya juga tidak suka, tapi bukan berarti ini memberikan hak bagi saya untuk menghina penampilan fisik seniman pembuat karya ini. Lebih dari itu sebenarnya bagaimana mesti merespon sebuah karya seni? Apakah kita bisa dan boleh menggunakan subjektivitas kita untuk mengapresiasi?

Tentu saja boleh, tapi bagaimana kritik seharusnya diberikan. Saya teringat bagaimana seniman perempuan yang membuat erotik art dikritik karena dianggap membuat seni porno. Dengan komentar seperti “Sebagai perempuan muslim”, “sebagai seorang ibu”, “sebagai seorang istri”, dan sejenisnya. Identitas kita bisa jadi tak penting, yang penting adalah bagaimana anda membangun argumen terhadap seni tadi. Apresiasi dan juga narasi yang hendak disampaikan.

Menyebut karya Tontey sebagai karya yang ofensif tentu sah saja. Tapi membawa label diri sebagai otoritas tentu jadi sangat konyol. Misalnya “Sebagai seorang ibu yang memiliki anak bayi,” merasa karyanya sangat mengganggu itu sama konyolnya dengan berkata “Sebagai seorang perempuan muslim,” yang tersinggung ketika ada gambar porno. Identitas personal dan karya bisa jadi dua hal yang sama sekali berbeda dan tidak relevan dalam konteks ini.

(Semalam seseorang menjelaskan bahwa ini adalah mansplaining dan saya setuju. Saya tidak tahu rasaya keguguran dan mungkin tidak akan pernah tahu rasa trauma kehilangan anak. Untuk ini saya minta maaf. Namun jika berkenan anggap ini adalah bagian dari argumen yang hendak saya sampaikan perihal “interpertasi personal karya tanpa memahami konteks”)

Identitas personal bisa punya konteks bila ia punya relasi yang kuat. Misalnya seorang perempuan kulit hitam merasa bahwa satu karya seni fotografi menggambarkan white washing, di mana seorang perempuan kulit putih dipakaikan make up sehingga menjadi hitam legam, seraya bergaya foto untuk tema perbudakan. Ini jelas ofensif secara kultural, tema, dan juga personal. Tapi apakah ia sah sebagai karya seni? Tentu saja sah.

Di Indonesia bukan kali ini saja karya seni dianggap menyerang dan tidak pantas. Pada 2005 karya instalasi Agus Suwage-Davy Linggar yang berjudul “Pink Swing Park” tersebut berbentuk ruangan kubus yang ketiga sisinya ditempeli foto Anjas dan Abel telanjang (hampir) bulat. Karya ini dianggap menghina dan tidak pantas oleh FPI. Maka nilai siapa yang perlu diakomodiasi dan tidak boleh diganggu?

HB Jassin juga pernah diprotes karena menerjemahkan Al Qur’an sebagai puisi. Umat islam merasa tersinggung dan menganggap karya Jassin sebagai hal yang menghina agama mereka. Maka apa sebenarnya yang membedakan antara karya seni yang satu dan lainnya? Apa yang tak boleh direproduksi sebagai seni dan tema apa yang terlarang untuk dijadikan karya seni?

Seni memang harus mengganggu, karena dengan mengganggu ia akan melahirkan perdebatan. Maka perdebatan apa yang bisa muncul dari Makan Mayit? Sejauh ini perdebatan yang muncul adalah tentang ASI, Pro Choice/Pro Life tentang aborsi, etis-moral visual karya, dan juga yang kurang elegan bentuk fisik Tontey sebagai individu.

Maka jika Makan Mayit bisa melahirkan perdebatan sehat tentang bagaimana perempuan bisa mendapatkan hak Aborsi, anak mendapatkan ASI, dan etis-moral tentu ini hal yang baik. Sesuatu yang sebelumnya tabu, kini terbuka untuk diperdebatkan, dibicarakan, dan digali secara lebih dalam. Meski saya sendiri ragu Tontey punya perspektif politis dalam karyanya.

Tontey menggunakan boneka bayi sebagai tempat makan, membuat makanan dalam bentuk fetus, dan membuat kue dalam bentuk manusia. Perlu ada tafsir dan konteks untuk memahami apa yang hendak disampaikan. Tentu saja karya seni tidak pernah bebas nilai, maka ketimbang bergunjing, mengapa tidak bertanya secara langsung?

Pengaruh film horor Hausu karya Nobuhiko Obayashi (1977) jelas sangat mempengaruhi Tontey. Tidak hanya secara visual tetapi juga tema. Hausu berkisah tentang rumah yang memangsa penghuninya, serupa dengan itu Makan Mayit menghadirkan elemen yang sama. Ia berusaha mereproduksi ide, membuatnya menjadi sesuatu yang dekat dan dinikmati oleh penontonnya.

Pada 2015 Tontey juga memproduksi Little Shop of Horrors, proyek seni partisipatif yang berbentuk toko retail sebagai bagian dari proyeknya saat residensi di Yokohama, Jepang. Ia mengumpulkan cerita horor, rasa takut, dan nuansa seram dari lingkungan setempat dan mengubahnya menjadi pertunjukan dan menjadikan produk-produk jualannya sebagai medium. Maka tema horor bukan kali ini saja dibuat.

Saya mengenal Tontey nyaris delapan tahun sejak pertama kali bertemu di Ruang Rupa. Saat itu ia sudah mengeksplorasi tema horor dan anak-anak. Pengaruh Yayoi Kusama dan Nobuhiko Obayashi jelas sangat kental dalam dirinya. Jika anda menyebut bahwa ia kurang riset dalam karyanya, maka anda mesti membaca dan mencari lebih jauh daripada sekedar wawancara bersama Vice atau Whiteboard Journal.

Misalnya anda melihat portofolio karya-karyanya, rekam jejak pameran yang ia ikuti, tema yang ia buat, dan juga detil karya yang ia produksi. Dari situ kalaupun mau bikin penghakiman mungkin bisa sedikit lebih adil. Menuntut Tontey menjelaskan karyanya bagi saya konyol, seniman tak punya kewajiban menjelaskan karyanya. Sesederhana anda mengerti atau tidak. Ini nyaris sama konyolnya seperti meminta HB Jassin menjelaskan maksud Al Qur’an sebagai puisi, atau Agus Suwage dan Davy Linggar membuat Pink Swing Park.

Sebagai catatan ini ada beberapa pameran yang diikuti Tontey sejak 2008, Seperti: “Glosarium”, Galeri Foto Jurnalistik Antara (2008); “Body Festival”, Ruang Rupa (2013); “Pelicin”, Jakarta Biennale (2013); “Youth of Today”, Ruang Mes56. Juga beberapa residensi yang dilakukan untuk melakukan riset kesenian.

Moralitas dan nalar religius yang digunakan untuk menyebut makan mayit salah bagi saya menggelikan. Jika anda merasa pertunjukan ini mengganggu dan salah secara agama, bagaimana menyikapi hukum rajam terhadap bayi dan ibu yang jadi korban perkosaan di Pakistan? Di Lahore seorang gadis yang hamil dirajam sampai mati oleh ayah dan kakaknya karena dianggap berzina.

Pada 2013 sekitar 1.100 bayi di Pakistan dibunuh atau dibuang di tempat sampah karena diduga hasil perzinahan. Sementara yang lain otoritas agama setempat memerintahkan membunuh bayi yang baru dilahirkan hasil zina. Bayi itu dibakar, digantung, atau dibunuh begitu saja. Pola pikir barbar mengerikan ini jauh lebih mengganggu dan semestinya mengganggu manusia waras, ketimbang seni pertunjukan.

Di Jakarta pada 2012 setiap tiga hari ada satu bayi yang dibuang. Pada 2012 tercatat 129 bayi ditemukan tak bernyawa sementara data statistik resmi pemerintah Cile menunjukkan sekitar 10 bayi ditemukan meninggal di penimbunan sampah tiap tahun. Jika ini tidak mengganggu anda maka sebenarnya kita tak punya masalah moral, kita punya masalah empati.

Seni semestinya mengganggu empati dan cara pikir anda dan membuat anda berpikir kritis. Makan Mayit sukses menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat kita lebih mudah terganggun dengan hal-hal yang banal ketimbang yang substansial. Dalam hal ini lebih terganggu dengan tampilan visual ketimbang realitas sosial yang ada.

Kita bisa mentolerir makanan ringan yang mengadopsi bentuk tahi manusia, atau permen dengan bentuk tenis, makan bakso di atas jamban. Tapi kaget dengan makanan berbentuk fetus dan disajikan di boneka bayi? Maka standar etis, moral, dan norma sebenarnya hanya masalah kesepakatan belaka, bukan sesuatu yang ajeg dan tunggal. Anda tentu boleh tidak setuju dengan ini, seperti juga saya tidak harus sepakat pada nilai yang diajukan Tontey.

Tontey jelas bukan yang pertama dan terakhir. Di Instagram seni erotika juga kerap dianggap amoral, merusak generasi muda, mengganggu, dan salah. Banyak ilustrator perempuan yang dihujat dan dihina karena menggambar kegiatan sensual atau erotis. Seolah standar moral adalah satu hal ajeg yang tak bisa dikonstruksi ulang.

Jika seni hanya sekedar gambar moii dan menghadirkan kenyamanan ia akan membuat nalar dan empati tumpul. Ini mengapa Makan Mayit penting. Membuat anda yang merasa superior secara moral terganggu dan tergerak untuk berbuat sesuatu. Berkomentar adalah salah satunya, atau anda bisa bicara tentang karya ini secara serius sembari membahas konteks politis, etis, moral, dan sosial di belakangnya.

Ini tanggapannya, dear Natasha Gabriella Tontey.

*ada beberapa tambahan dan revisi sejak tulisan ini terbit.

14 KOMENTAR

  1. Cukup sepakat sama poin tulisan ini. Terutama bahwa masyarakat kita masih lbh terganggu pada yg banal, bukan substansial. Dan bahwa norma etika dll memang bukan hal ajeg yg selalu bisa direkonstruksi ulang.

    Tapi sedihnya, mereka yg saya lihat ikutan event ini lalu posting2 di instagram, mereka samasekali tidak menunjukkan mereka punya nilai tsb. Saya sih liatnya banyak yg cuma pengen bikin rame (lalu gamau bertanggung jawab dgn keramaian tersebut serta ngatain org yg ga paham sebagai bodoh dan kurang piknik padahal mereka juga ga ngejelasin apa apa) dan pengen keliatan keren dan sok artsy aja. Jadi sama aja. S a m p a h.

    • @Fatimah
      Setuju. saya ragu mereka yang ikutan acara ini apakah berangkat dari pemikiran yang sama keren dan diluar kotak sama yang nulis artikel ini, atau seenggaknya paham apa sih sebenernya yang ingin disampaikan Tontey? dan apa mereka (partisipan) dalam acara itu bener2 ngobrolin batas-batas, norma, etika. ga yakin sih… hehe…

  2. “Jika kalian merasa lebih terganggu dengan performance art makan masakan dalam boneka bayi atau masakan berupa fetus ketimbang fakta bahwa pemerintah kita membiarkan pernikahan dini dan masih gagal mengurangi angka kematian ibu saat melahirkan, ada yang salah dengan kemanusiaan kalian.”

    Its’s apple and orange.dua benda yang tidak nyambung menurut saya. kenapa penulis langsung berasumsi bahawa kalau KAMI yang berasa jijik dengan makan mayit ini juga mendukung pemerintah membiarkan pernikahan dini /gagal mengurangi angka kematian ibu saat melahirkan??? Idea yang sangat disturbing ini sebaiknya jangan berlindung di balik yg namanya “seni”. Ini suda jelas advocating CANNIBALISM.

  3. “Seni semestinya mengganggu yang telah nyaman dan membuat nyaman mereka yang diganggu”

    cuma karena terdengar bagus bukan berarti bener :D, banyak seni seni yang tidak menggangu dan bisa dinikmati banyak orang, kalo seniman tersebut ingin memberikan awareness soal aborsi ada banyak cara yang lebih kreatif, buat saya seniman ini cuma cari sensasi

    just because you use confusing sentence and words it doesnt make it right.

    kanibalism dan aborsi 😀 that’s two different fucking thing i dont see any correlation between them.

    i dont even know why i waste my time in this comment section…

    Zzzzzz

  4. Tontey sukses dalam membuat masyarakat mempertanyakan apa yang moral atau amoral. Tapi yang saya kurang setuju di wawancara dengan beritagar (https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/natasha-tontey-makan-mayit-bukan-bercanda) ketika ditanya apa makanan dibuat dengan ASI atau tidak Tontey jawab ‘Menanggap soal ASI, beneran atau enggak. Jawaban iya atau tidak yah efeknya (kritik) mungkin akan sama saja’. Ini seperti self-censorship, jadi salah satu yang membuat misinterpretasi masyarakat terhadap karyanya dia yah dia sendiri. Pertanyaan di masyarakat kan apakah ini exercise persepsi terhadap kanibalisme atau memang kanibalisme.

  5. Tak semua orang mengecam karya Tontey karena “tidak beretika” atau “psikopat” saja. Mayoritas, benar, namun tidak seluruhnya. Buat saya, ada hal mendasar yang belum disentuh oleh hal ini, termasuk seluruh elemennya (ehem, hadirin).

    Saya hanya ingin mempertanyakan, dari sekian banyak alasan yang ditampilkan oleh sang seniman, mulai dari masa kelam Koganecho hingga G30S/PKI, bagian manakah yang hendak dijelaskan lewat pertunjukan ini? Inginnya jadi platform diskusi, ingin mengkonfrontasi salah satu ketakutan manusia lewat tema kanibalisme, lalu pencapaiannya apa? Relasinya bagaimana? Di New York pernah ada keju yang terbuat dari ASI, yang mana dianggap sebagai rekayasa “panen” bagian manusia. Tak nyaman, benar. Namun saya dapat memahami korelasinya, bagaimana sebuah karya seni mencerminkan kenyataan maupun isu yang hendak diprotes. Kembali lagi, setelah pertunjukan ini, kesimpulannya tiap manusia memiliki sifat kanibalisme yang tersembunyi atau tidak? Kalau iya akibatnya apa, dan kalau tidak mengapa?

    Sama seperti komentar sebelumnya. Hadirin pertunjukan ini nampaknya tidak menjadikan pengalaman mereka sebagai platform diskusi, setidaknya secara publik, meskipun berbekal akun Instagram dan hashtag. Komentarnya hanya sebatas bagaimana mereka menikmati kehadirannya, atau bahkan berterimakasih atas pelajaran kanibalisme yang mereka dapatkan.

    Ketika mendapat komentar tajam, bukannya malah bertindak sebagai manusia terpelajar dan berusaha menjelaskan, malah memaki yang katanya tak paham seni, hingga orang tua yang terlalu kaku dan menggelepar melihat makanan dalam boneka bayi. Ingin bebas berekspresi, namun semua orang wajib memahami ekspresi mereka? Hei, siapakah kalian?

    Anda menyebutkan bahwa Tontey tak perlu menjelaskan karyanya pada siapapun. Namun di sisi lain, Tontey berharap karya seninya dapat mengganggu dan membuat hadirin berpikir ulang mengenai kanibalisme. Dua hal ini sungguh berlawanan. Atau sebaiknya kita ambil jalan tengah saja. Buat pertunjukan ini sebagai pertunjukan kalangan sendiri. Toh para hadirin akan tetap menyaksikan pertunjukan yang sama, maka dari itu platform diskusi yang dimaksud akan tetap ada, bukan begitu?

  6. Konsepnya sebenarnya keren, namun kenyataannya kebanyakan anggota masyarakat di Indonesia memang dibesarkan dan hidup dengan norma yang lebih emosional dan bukan nalar, yang dianut oleh kedua belah pihak : pemrotes maupun tamu acara tersebut.

    Pemrotes : “Sadistik / Ga manusiawi / Perempuan bukan sih / Pernah lihat orang meregang nyawa ga sih!” berdasarkan pengalaman emosional dan norma yang sudah mengkristal di benak mereka.
    Tamu acara : “Gue edgy! Karena gue keren banget dan elo semua harus menganggap gue keren!” berdasarkan aspirasi dan ego mereka.

    Sampai kapanpun akan selalu berbeda.

  7. gw sih bukan orang yang mengerti tentang seni ato art bgtuan ya…cm salah aj ya klo didadain di indo.dan seniman ini kan prnh tinggal dijepang mendingan bikin dsana aj deh…

  8. Nice post, bisa dipahami secara runtut. Natasha gabriella tontey seniman berbakat, saya pun suka dengan portofolio nya sebelum karya #makanmayit. Tapi entah kali ini rasanya tidak pas (menurut saya pribadi) , terlalu mencolok, terlalu berani, karena mengingat indonesia negara beradab.Benar Saya pun ragu apakah dia punya perspektif politis dalam karya itu. Yg paling diperdebatkan adalah penggunaan ASI sebagai media, lantas apa korelasi ASI dengan karya seni makanmayit nya? Who knows? Hanya dia kan?. Sudah terlanjur terpublikasi tapi sampai detik ini si seniman memilih menutup diri (mengunci akun & memblock org2 yg kontra). Berani berbuat harus berani bertanggung jawab bukan? Sangat disayangkan, karena KPPAI juga sudah mengambil jalur hukum

  9. Aduh, untuk Arman, teman-teman, dan pendukung buta Tontey, tolong stop gunakan “Seni semestinya mengganggu yang telah nyaman dan membuat nyaman mereka yang diganggu” atau verwi englishnya “Art should comfort the disturbed and disturb the comfortable.” untuk menjustifikasi karya Makan Mayit. Quote itu baru cocok ketika dimasukkan ke dalam konteks karya yang berbicara tentang ketimpangan kelas sosial, ketidak-adilan sebuah sistem, atau masalah humanitas, dll. Kalo Makan Mayit itu maksudnya mau “membuat nyaman” atau “comforting” siapa?? Tamu-tamu yang membayar 500.000 rupiah untuk ikut “platform dialog” yang tujuannya “memantik diskusi”? Atau comfort disini maksudnya adalah rasa nyaman untuk senimannya dalam kebebasan berekspresi? Halo, apakah sementok itu seniman KONTEMPORER Jakarta dalam berkarya?

    “Saya hendak menuduh bahwa pemahaman masyarakat kita sangat rendah terhadap seni, baik seni pertunjukkan maupun seni rupa, Makan Mayit, seperti yang disebutkan oleh senimannya sendiri, adalah usaha untuk memperbincangkan lagi apa itu norma, moral, dan segala hal yang berkelindan dengannya.”
    Usaha memperbincangkan yang dimana pesertanya harus membayar sebesar 500.000 rupiah, ujung-ujungnya ketawa ketiwi ketakutan, post foto dengan filter di instagram, perbicangan selesai sampai disitu. Hal yang sebenarnya esensinya simple: memberi pengalaman mencekam dalam dinner, kenapa jadi usaha memperbincangkan norma, moral, dan segala hal yang berkelindan dengannya?

    Kemudian hubungan ASI dan kanibalisme ini apa ya? Jaka Sembung bawa Golok banget. Tahu gak kalo ASI itu hanya keluar ketika dibutuhkan saja? Dia hanya terproduksi ketika seorang ibu melahirkan. Dan keberadaan ASI sangat ditentukan berbagai macam faktor. Hormon, gizi, emosi, dll. Kanibalisme, atau makan daging sesama TIDAK BISA disamakan dengan makan/minum ASI. Coba dipikirkan dengan jernih deh, gimana bisa disamakan memotong tangan manusia untuk dimakan, dengan air ASI yang jelas hanya keluar/terproduksi ketika bayi lahir, dan memiliki tenggat waktu masing-masing untuk selesai berproduksi dan kemudian hilang?

    “Sejauh ini perdebatan yang muncul adalah tentang ASI, Pro Choice/Pro Life tentang aborsi, etis-moral visual karya, dan juga yang kurang elegan bentuk fisik Tontey sebagai individu.” – Saya setuju untuk poin anda yang ini, perdebatannya seperti kurang nyambung, tapi disini saya juga melihat Tontey tidak melakukan riset dengan baik. Lalu adakah teman-teman dan pendukungnya yang mempermasalahkan etika dan moral Tontey mencatut nama AIMI sembarangan? Kredibilitasnya sebagai seniman dimana? Ini banyak dianggap lalu oleh banyak orang, tapi fatal sekali melihat seniman yang memiliki mental seperti ini, pertanggungjawabannya sebagai seniman kontemporer dimana?

    “Saya mengenal Tontey nyaris delapan tahun sejak pertama kali bertemu di Ruang Rupa. Saat itu ia sudah mengeksplorasi tema horor dan anak-anak.” – Wah kalau kamu sudah berkenalan dengan Tontey dari jaman pameran di Ruang Rupa “Body Festival” tentu kamu juga paham dan sadar, bagaimana Tontey memiliki tendensi untuk mencaplok mentah-mentah bentuk-bentuk karya dari Yayoi Kusama dan Nobuhiko Obayashi. Karya di acara “Body Festival” dengan tip-x totol-totol putih itu jelas karya Yayoi KW4. Yah tak perlu lihat karyanya jauh-jauh, dari cara dia mempresentasikan diri, pakaian, selfie, dll rasanya sudah cukup jelas, tendensinya untuk “kelihatan” horor, “kelihatan” unik, “kelihatan” kelainan jiwa.

    Saya percaya kita tidak boleh sembarangan mengucap atau menghujat karya hanya karena kita tidak mengerti, tidak menyukai, atau melukai perasaan seseorang. Tapi ayolah, karya Makan Mayit ini jelas sekali tidak memiliki riset yang cukup baik, meng-glamor-kan kanibalisme, rasa takut, satanisme, dan sudah jelas tujuannya: mencari sensasi lewat bungkus kulit luar saja.

    Akhir kata saya rasa perlu mengutip kata-kata pak Jim, karena Tontey menganggap dirinya sebagai seniman kontemporer: “Karya Tontey itu negatif dan hanya mencari sensasi berlebihan. Namanya seniman punya batas dalam melihat keetisan. Karya seni itu sebuah ungkapan yang sebaiknya memperhatikan masyarakat, sementara Tontey tidak,”

    Ya tentu tidak memperhatikan masyarakat, karena yang diperhatikan adalah keresahan diri sendiri, ketakutan personal, obsesinya pada kultur horor Jepang, dll. Apa ini masih pantas dibilang seniman kontemporer? Tontey sangat ingin dilihat sebagai manusia psikopat, memiliki kelainan jiwa, dan unik. Well, she’s a high functioning psikopat indeed.

    Terima kasih.

    PS: Saya fans tulisan-tulisan anda Arman. Semoga suatu hari bisa bertemu.

    Salam

  10. Pembelaan macam apa ini?. Rasanya penyimpangan moral makan mayit memang harus dihukum secara tegas bila ada pelanggaran hukumnya. Bila terjadi pembiaran dan aksi mendukung makan mayit sama saja mendukung pergeseran moral, dan kedepannya hal-hal seperti ini akan dianggap lumrah bila tidak ada perlawanan sekarang. Sama sekali aksi makan mayit bukan bertujuan menyadarkan masyarakat tentang pernikahan dini, tingginya tingkat kematian ibu melahirkan, dll.

  11. Saya pernah membaca klarifikasi Tontey soal karya seninya. Dan apabila yang dia katakan memang benar adanya, maka menurut saya, Tontey tidak sedikit pun punya maksud untuk mendukung kanibalisme ataupun menjadi psikopat, seperti yang ramai dibicarakan netter. Ini adalah sebuah propaganda untuk membuka suatu hal esensial yang selama ini dipendam dalam masyarakat, karena dianggap tabu, untuk diperbincangkan sehingga nilai ke-esensial-an nya tidak hilang ditelan zaman yang terus maju. Tanggapan, baik itu positif maupun negatif adalah bukti bahwa masyarakat akhirnya terbuka untuk membicarakan apa yang selama ini tidak pernah dibicarakan.

    Namun bagi saya, kurang tepat perbuatan orang yang terlibat dalam event ini (yang beberapa diantaranya adalah public figure). Memposting sesuatu yang tidak lebih dahulu dipahami masyarakat secara menyeluruh tentu akan mendatangkan komentar yang ‘setengah’, dalam arti tidak semua nilai yang terkandung dalam karya seni itu dijadikan pertimbangan masyarakat untuk memberi komentar. Sebaiknya hal yang begitu dikeep saja untuk masing-masing. Bila tujuannya agar karya seni ini dilihat banyak orang dan ditanggapi, mungkin lebih baik dibuat secara terbuka dari awal, bukannya untuk beberapa orang saja.

  12. Kebanyakan orang kontra dengan yang dilakukan Natasha Tontey, saya pribadi pun ingin mengetahui secara detail dan bertanya langsung. Tapi disini saya mau menjelaskan bahwa adanya ketakutan masyarakat untuk mau membuka pikirannya, ketakutan orang untuk mengevaluasi apakah yang mereka yakini atau nilai nilai yang mereka ketahui selama ini adalah kebenaran yang sudah benar atau kurang benar atau malah salah total. Nilai nilai dalam bentuk warisan, nilai nilai yang mentah dan diterima dengan mentah mentah juga. Ada rasa takut kalau kalau yang selama ini yg mereka anggap betul ternyata keliru, takut kalau kalau ternyata bener lagi salah. “The fear to rethinking” suatu phobia yang dimiliki masyarakat kebanyakan tapi tidak disadari, atau disadari tapi tidak mau mengakui, atau dia sedang ngeles sama dirinya sendiri kalo dia gak takut tapi dia menutup pikirannya, sama aja boong.
    Seperti yang dikatakan diatas seorang pekerja seni tidak punya kewajiban untuk menjelaskan karyanya, dan pekerja seni memberi kebebasan setiap orang untuk menlai atau menangkapnya seperti apa, entah itu dianggap mengritik moral masyarakat, nilai nilai di masyrakat, norma norma yg berlaku, atau mungkin nilai agama di masyarakat, atau kebiasaan di masyarakat, atau mungkin ada nilai politik juga. Setiap orang mendapatkan pesannya masing masing, tergantung melihat dari sudut pandng yang mana. Indahnya seni

  13. Kalau saya baca artikel diatas, memang tidak ada yg salah dengan pameran makan mayit. Karena semuanya itu ditujukan hanya sebagai bentuk seni dengan segala macam emosi yg ingin ditimbulkan oleh karya itu sendiri.

    Tapi buat saya makan mayit justru merupakan salah satu kasus kecil akan suatu hal yg lebih besar. Bolehkan segala hal didobrak demi “seni”?

    Saya rasa argumen ini selalu ada dari dulu. Haruskah seni dibatasi oleh kode etika dan moral? Dan seandainyapun harus dibatasi kode etika dan moral. Siapa yg menerapkan kode etika dan moral? Societykah? Pemerintahkah?

    Kembali ke karya makan mayit sndiri, orang boleh menilai apapun, boleh menghujat, ataupun memuji, tapi saya rasa ada baiknya jika seniman lebih sensitif dan empatik terhadap karya yg dilemparkan ke publik terlepas sengaja ataupun tidak disengaja.

    Saya ingat perkataan dosen saya yg menurut saya cukup berbekas di hati saya waktu itu…. (waktu ada kasus Pink Swing Park) A great artist is the one who can play in between the boundaries.

    Ya semoga dengan pengalaman yg ada, ms Natsha bisa menjadi seniman yg lebih baik lagi dari skrg.

LEAVE A REPLY