BAGIKAN

Respon terhadap performance art bertajuk Makan Mayit yang digarap oleh Natasha Gabriella Tontey bagi saya menarik untuk dibaca secara kritis. Seni kerap mengganggu ruang nyaman masyarakat dan bagi saya seni yang berhasil adalah seni yang mengganggu dan membuat tidak nyaman nurani dan pikiran kita.

Seni semestinya mengganggu yang telah nyaman dan membuat nyaman mereka yang diganggu, Dalam hal ini mereka yang telah mapan seperti masyarakat yang tunduk pada norma, moral, agama, peraturan, dan identitas sosial tanpa sama sekali pernah mempertanyakan mengapa mereka mesti tunduk pada konsensus aturan tersebut.

Saya hendak menuduh bahwa pemahaman masyarakat kita sangat rendah terhadap seni, baik seni pertunjukkan maupun seni rupa, Makan Mayit, seperti yang disebutkan oleh senimannya sendiri, adalah usaha untuk memperbincangkan lagi apa itu norma, moral, dan segala hal yang berkelindan dengannya.

Bagi saya ada yang salah dengan cara pandang kita terhadap Makan Mayit. Jika anda merasa bahwa pertunjukkan seni yang menampilkan nuansa gore, dengan memakan fetus, atau makanan yang disajikan dalam boneka adalah salah dan kebablasan, maka di sini kita perlu kembali bertanya, apa yang dimaksud salah dan kebablasan? Apa yang salah dan kebablasan dalam praktik seni makan mayit?

Usaha kritis menjawab pertanyaan itu bisa membuat kita sadar bahwa sebenarnya kita ini bebal dan debil. Katakan saja bahwa fetus adalah satu entitas suci, kandungan, mahluk hidup yang semestinya dihargai, bukan malah dibuat seolah jadi makanan. Tapi benarkah fetus atau bayi adalah hal yang suci dan benar-benar entitas yang berharga buat kita?

Sebagai jurnalis, saya beberapa kali menulis tentang pernikahan dini, Apa kaitan pernikahan dini dengan fetus atau bayi?Masyarakat Indonesia mengijinkan perkawinan dini, masih banyak anak perempuan berusia 14-16 tahun yang diperbolehkan menikah. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang kesehatan reproduksi banyak anak kecil tadi hamil usai menikah, kehamilan di usia dini sangat beresiko, tidak hanya keguguran tapi juga bisa mengakibatkan kematian bagi ibu saat melahirkan.

Belum lagi kesadaran tentang keamanan saat melahirkan, banyak ibu yang melahirkan tanpa mendapatkan pendampingan medis yang memadai. Sejak 2007, Indonesia tercatat sebagai negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara (UNFPA, 2012) dengan 228 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Lima tahun kemudian, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia menunjukkan AKI di Indonesia berada pada angka 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Tapi makan mayit kan offensif? Mengganggu dan tidak memiliki empati terhadap mereka yang keguguran? Bagi yang tak punya anak atau tak bisa punya anak, melihat boneka bayi juga bisa sangat traumatis, lantas apakah kemudian memproduksi boneka jadi tidak berempati? Bagi yang menjual organ buat kepentingan material saat ada banyak orang butuh donor apa membuat mereka jadi amoral? Atau mengapa orang pesan banyak makanan, padahal tahu tidak akan habis dimakan, saat banyak orang lain kelaparan. Dilema moral dan dilema etis dalam seni memang semestinya membuat orang berpikir.

Jika kalian merasa lebih terganggu dengan performance art makan masakan dalam boneka bayi atau masakan berupa fetus ketimbang fakta bahwa pemerintah kita membiarkan pernikahan dini dan masih gagal mengurangi angka kematian ibu saat melahirkan, ada yang salah dengan kemanusiaan kalian. Jika tidak tersinggung dengan kematian ibu saat melahirkan, tapi tersinggung pada makanan berbentuk fetus maka prioritas moral kalian perlu diperbaiki.

Aliza Shvarts, mahasiswi Yale jurusan seni, membuat tugas akhir karya seninya dengan merekam dirinya saat melakukan aborsi. Aliza Shvarts membuat dirinya hamil, lantas mengkonsumsi obat-obatan yang bisa menggugurkan kandungan, ia lantas merekam proses di mana darah yang diduga janin keluar dari tubuhnya. Meski kemudian ia mengaku bahwa itu hanya performance art, Aliza Shvarts mendapatkan kritik karena dianggap mengganggu norma.

Apakah kanibalisme mengganggu? Jelas. Ia salah dalam banyak aspek. Namun sekali lagi, seni kerap kali merupakan respon dari masyarakat di mana seniman itu tinggal. Maka kanibalisme macam apa yang hendak kita tafsir dalam Makan Mayit? Ini pertanyaan penting dan esensial. Sejauh mana kanibalisme ini mengganggu nalar etis dan moral kita.

Tontey bukan yang pertama. Seniman asal Cina Zhu Yu membuat performance art yang bertajuk Eating People, karya ini berisi seri fotografi di mana Zhu Yu memasak dan memakan sesuatu yang diduga fetus. Seniman itu sendiri mengklaim bahwa ia menggunakan jenazah bayi yang dicuri dari sekolah medis setempat. Zhu Yu berusaha mengeksplorasi batasan antara moral, hukum, etika, dan juga kemanusiaan.

Zhu Yu dianggap cari muka, tidak menghargai kemanusiaan, tidak tahu apa-apa, dan dianggap orang gila ketimbang seniman. Hal serupa juga dilakukan kelompok agamawan ketika apa yang mereka sakral diganggu oleh seniman. Sesuatu yang sebenarnya nyaris mirip, kita terganggu saat apa yang kita anggap ajeg dan sempurna ditanyakan kembali melalui medium seni.

Makan Mayit tentu mengganggu. Saya juga tidak suka, tapi bukan berarti ini memberikan hak bagi saya untuk menghina penampilan fisik seniman pembuat karya ini. Lebih dari itu sebenarnya bagaimana mesti merespon sebuah karya seni? Apakah kita bisa dan boleh menggunakan subjektivitas kita untuk mengapresiasi?

Tentu saja boleh, tapi bagaimana kritik seharusnya diberikan. Saya teringat bagaimana seniman perempuan yang membuat erotik art dikritik karena dianggap membuat seni porno. Dengan komentar seperti “Sebagai perempuan muslim”, “sebagai seorang ibu”, “sebagai seorang istri”, dan sejenisnya. Identitas kita bisa jadi tak penting, yang penting adalah bagaimana anda membangun argumen terhadap seni tadi. Apresiasi dan juga narasi yang hendak disampaikan.

Menyebut karya Tontey sebagai karya yang ofensif tentu sah saja. Tapi membawa label diri sebagai otoritas tentu jadi sangat konyol. Misalnya “Sebagai seorang ibu yang memiliki anak bayi,” merasa karyanya sangat mengganggu itu sama konyolnya dengan berkata “Sebagai seorang perempuan muslim,” yang tersinggung ketika ada gambar porno. Identitas personal dan karya bisa jadi dua hal yang sama sekali berbeda dan tidak relevan dalam konteks ini.

(Semalam seseorang menjelaskan bahwa ini adalah mansplaining dan saya setuju. Saya tidak tahu rasaya keguguran dan mungkin tidak akan pernah tahu rasa trauma kehilangan anak. Untuk ini saya minta maaf. Namun jika berkenan anggap ini adalah bagian dari argumen yang hendak saya sampaikan perihal “interpertasi personal karya tanpa memahami konteks”)

Identitas personal bisa punya konteks bila ia punya relasi yang kuat. Misalnya seorang perempuan kulit hitam merasa bahwa satu karya seni fotografi menggambarkan white washing, di mana seorang perempuan kulit putih dipakaikan make up sehingga menjadi hitam legam, seraya bergaya foto untuk tema perbudakan. Ini jelas ofensif secara kultural, tema, dan juga personal. Tapi apakah ia sah sebagai karya seni? Tentu saja sah.

Di Indonesia bukan kali ini saja karya seni dianggap menyerang dan tidak pantas. Pada 2005 karya instalasi Agus Suwage-Davy Linggar yang berjudul “Pink Swing Park” tersebut berbentuk ruangan kubus yang ketiga sisinya ditempeli foto Anjas dan Abel telanjang (hampir) bulat. Karya ini dianggap menghina dan tidak pantas oleh FPI. Maka nilai siapa yang perlu diakomodiasi dan tidak boleh diganggu?

HB Jassin juga pernah diprotes karena menerjemahkan Al Qur’an sebagai puisi. Umat islam merasa tersinggung dan menganggap karya Jassin sebagai hal yang menghina agama mereka. Maka apa sebenarnya yang membedakan antara karya seni yang satu dan lainnya? Apa yang tak boleh direproduksi sebagai seni dan tema apa yang terlarang untuk dijadikan karya seni?

Seni memang harus mengganggu, karena dengan mengganggu ia akan melahirkan perdebatan. Maka perdebatan apa yang bisa muncul dari Makan Mayit? Sejauh ini perdebatan yang muncul adalah tentang ASI, Pro Choice/Pro Life tentang aborsi, etis-moral visual karya, dan juga yang kurang elegan bentuk fisik Tontey sebagai individu.

Maka jika Makan Mayit bisa melahirkan perdebatan sehat tentang bagaimana perempuan bisa mendapatkan hak Aborsi, anak mendapatkan ASI, dan etis-moral tentu ini hal yang baik. Sesuatu yang sebelumnya tabu, kini terbuka untuk diperdebatkan, dibicarakan, dan digali secara lebih dalam. Meski saya sendiri ragu Tontey punya perspektif politis dalam karyanya.

Tontey menggunakan boneka bayi sebagai tempat makan, membuat makanan dalam bentuk fetus, dan membuat kue dalam bentuk manusia. Perlu ada tafsir dan konteks untuk memahami apa yang hendak disampaikan. Tentu saja karya seni tidak pernah bebas nilai, maka ketimbang bergunjing, mengapa tidak bertanya secara langsung?

Pengaruh film horor Hausu karya Nobuhiko Obayashi (1977) jelas sangat mempengaruhi Tontey. Tidak hanya secara visual tetapi juga tema. Hausu berkisah tentang rumah yang memangsa penghuninya, serupa dengan itu Makan Mayit menghadirkan elemen yang sama. Ia berusaha mereproduksi ide, membuatnya menjadi sesuatu yang dekat dan dinikmati oleh penontonnya.

Pada 2015 Tontey juga memproduksi Little Shop of Horrors, proyek seni partisipatif yang berbentuk toko retail sebagai bagian dari proyeknya saat residensi di Yokohama, Jepang. Ia mengumpulkan cerita horor, rasa takut, dan nuansa seram dari lingkungan setempat dan mengubahnya menjadi pertunjukan dan menjadikan produk-produk jualannya sebagai medium. Maka tema horor bukan kali ini saja dibuat.

Saya mengenal Tontey nyaris delapan tahun sejak pertama kali bertemu di Ruang Rupa. Saat itu ia sudah mengeksplorasi tema horor dan anak-anak. Pengaruh Yayoi Kusama dan Nobuhiko Obayashi jelas sangat kental dalam dirinya. Jika anda menyebut bahwa ia kurang riset dalam karyanya, maka anda mesti membaca dan mencari lebih jauh daripada sekedar wawancara bersama Vice atau Whiteboard Journal.

Misalnya anda melihat portofolio karya-karyanya, rekam jejak pameran yang ia ikuti, tema yang ia buat, dan juga detil karya yang ia produksi. Dari situ kalaupun mau bikin penghakiman mungkin bisa sedikit lebih adil. Menuntut Tontey menjelaskan karyanya bagi saya konyol, seniman tak punya kewajiban menjelaskan karyanya. Sesederhana anda mengerti atau tidak. Ini nyaris sama konyolnya seperti meminta HB Jassin menjelaskan maksud Al Qur’an sebagai puisi, atau Agus Suwage dan Davy Linggar membuat Pink Swing Park.

Sebagai catatan ini ada beberapa pameran yang diikuti Tontey sejak 2008, Seperti: “Glosarium”, Galeri Foto Jurnalistik Antara (2008); “Body Festival”, Ruang Rupa (2013); “Pelicin”, Jakarta Biennale (2013); “Youth of Today”, Ruang Mes56. Juga beberapa residensi yang dilakukan untuk melakukan riset kesenian.

Moralitas dan nalar religius yang digunakan untuk menyebut makan mayit salah bagi saya menggelikan. Jika anda merasa pertunjukan ini mengganggu dan salah secara agama, bagaimana menyikapi hukum rajam terhadap bayi dan ibu yang jadi korban perkosaan di Pakistan? Di Lahore seorang gadis yang hamil dirajam sampai mati oleh ayah dan kakaknya karena dianggap berzina.

Pada 2013 sekitar 1.100 bayi di Pakistan dibunuh atau dibuang di tempat sampah karena diduga hasil perzinahan. Sementara yang lain otoritas agama setempat memerintahkan membunuh bayi yang baru dilahirkan hasil zina. Bayi itu dibakar, digantung, atau dibunuh begitu saja. Pola pikir barbar mengerikan ini jauh lebih mengganggu dan semestinya mengganggu manusia waras, ketimbang seni pertunjukan.

Di Jakarta pada 2012 setiap tiga hari ada satu bayi yang dibuang. Pada 2012 tercatat 129 bayi ditemukan tak bernyawa sementara data statistik resmi pemerintah Cile menunjukkan sekitar 10 bayi ditemukan meninggal di penimbunan sampah tiap tahun. Jika ini tidak mengganggu anda maka sebenarnya kita tak punya masalah moral, kita punya masalah empati.

Seni semestinya mengganggu empati dan cara pikir anda dan membuat anda berpikir kritis. Makan Mayit sukses menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat kita lebih mudah terganggun dengan hal-hal yang banal ketimbang yang substansial. Dalam hal ini lebih terganggu dengan tampilan visual ketimbang realitas sosial yang ada.

Kita bisa mentolerir makanan ringan yang mengadopsi bentuk tahi manusia, atau permen dengan bentuk tenis, makan bakso di atas jamban. Tapi kaget dengan makanan berbentuk fetus dan disajikan di boneka bayi? Maka standar etis, moral, dan norma sebenarnya hanya masalah kesepakatan belaka, bukan sesuatu yang ajeg dan tunggal. Anda tentu boleh tidak setuju dengan ini, seperti juga saya tidak harus sepakat pada nilai yang diajukan Tontey.

Tontey jelas bukan yang pertama dan terakhir. Di Instagram seni erotika juga kerap dianggap amoral, merusak generasi muda, mengganggu, dan salah. Banyak ilustrator perempuan yang dihujat dan dihina karena menggambar kegiatan sensual atau erotis. Seolah standar moral adalah satu hal ajeg yang tak bisa dikonstruksi ulang.

Jika seni hanya sekedar gambar moii dan menghadirkan kenyamanan ia akan membuat nalar dan empati tumpul. Ini mengapa Makan Mayit penting. Membuat anda yang merasa superior secara moral terganggu dan tergerak untuk berbuat sesuatu. Berkomentar adalah salah satunya, atau anda bisa bicara tentang karya ini secara serius sembari membahas konteks politis, etis, moral, dan sosial di belakangnya.

Ini tanggapannya, dear Natasha Gabriella Tontey.

*ada beberapa tambahan dan revisi sejak tulisan ini terbit.

1 KOMENTAR

  1. Cukup sepakat sama poin tulisan ini. Terutama bahwa masyarakat kita masih lbh terganggu pada yg banal, bukan substansial. Dan bahwa norma etika dll memang bukan hal ajeg yg selalu bisa direkonstruksi ulang.

    Tapi sedihnya, mereka yg saya lihat ikutan event ini lalu posting2 di instagram, mereka samasekali tidak menunjukkan mereka punya nilai tsb. Saya sih liatnya banyak yg cuma pengen bikin rame (lalu gamau bertanggung jawab dgn keramaian tersebut serta ngatain org yg ga paham sebagai bodoh dan kurang piknik padahal mereka juga ga ngejelasin apa apa) dan pengen keliatan keren dan sok artsy aja. Jadi sama aja. S a m p a h.

LEAVE A REPLY