BAGIKAN

Kemarin saat jalan bersama pacar, kami berdua membahas ini, kenapa sih orang yang punya pacar kasar, suka mukul, suka morotin duit, suka nabok, suka ngomong kasar, tetap tinggal dalam hubungan tak sehat itu. Bukankah mereka punya pilihan untuk putus?

Ia seperti biasa, dengan kritis menjelaskan, bahwa kadang seseorang yang tetap tinggal di sebuah hubungan tak sehat punya alasan yang tak bisa dipahami oleh mereka yang tak pernah mengalami itu. Ada banyak alasan yang rumit, sepele, dan mungkin lebih dari sekedar “ga bisa pisah sama orang yang mukulin kita”

Ia juga bilang, kalau kamu lebih peduli dan lebih bingung kenapa ada orang (perempuan atau laki-laki) yang tinggal dalam hubungan abusive, ketimbang mikir kenapa ada orang yang dengan tega melakukan kekerasan dengan orang yang ia sayang, barangkali kamu bagian dari yang menyuburkan budaya kekerasan itu.

Ini penting, kamu bisa heran kok bisa ya ada orang yang digebukin diam saja, seolah-olah bahwa gebukin orang lain adalah hal yang wajar, sesuatu yang boleh dilakukan. Seolah yang aneh kalo dipukul diam saja, tapi tak pernah bertanya mengapa orang tega memukul? Ini memang ga menjawab, kenapa orang tetap tinggal dalam abusive relationship, tapi setidaknya kita tahu keberpihakan dimulai dari mana.

Bagi kebanyakan orang yang pernah atau sedang dalam abusive relationship, mereka hidup dalam kondisi di mana tak ada akses pengetahuan terhadap apa itu hubungan sehat. Bahwa kita kerap dibikin mabuk dengan ide kepemilikan. Bahwa aku punya kamu, kamu punya aku. Ini terdengar indah, tapi salah.

Ide bahwa seseorang memiliki yang lain mengindikasikan bahwa orang itu sedang dalam relasi kepemilikan bukan relasi setara antar dua orang yang sadar. “We love people we can’t have” seolah olah manusia bisa dimiliki seperti sepatu, seperti taplak meja, atau tisu toilet.

Saat seseorang memperlakukan pasangannya seperti benda, maka ia cenderung akan jadi sangat posesif, protektif, dan destruktif. Seperti bocah yang marah saat mainannya dirampas atau dimainkan orang lain. Ia juga akan merusak mainannya jika sudah bosan dan memperlakukan seenaknya.

Dalam masyarakat patriarkis laki-laki harus maskulin, ia mesti kuat, mesti dominan, mesti macho, bahwa kalau pasanganmu macem-macem, kasih tipis pukul saja, kalo ga mau nurut tempeleng aja, dan sebaliknya perempuan mesti tunduk, nurut, ngerti, patuh, jangan ngelawan, lemah lembut, ngerti posisi, tahu diri, dan introspeksi kalau dimarahin oleh pasangan.

Relasi semacam ini menyuburkan keberadaan rape culture dan dalam abusive relationship, ia memperparah kondisi pasangan yang rentan ditindas. Pasanganmu juga bisa jadi korban bukan karena ia ingin, tapi karena tak punya pilihan. Pasangannya adalah pihak dominan yang menutup segala akses hidup, pekerjaan, keluarga, dan membuat satu pihak bergantung pada yang lain.

Ada banyak kasus di mana suami meminta istrinya berhenti bekerja, ini tugas suami menafkahi, katanya, si perempuan diamputasi aksesnya untuk memperoleh penghasilan, ia dibuat bergantung sepenuhnya pada suami. Ia diminta menghapus pertemanan dengan laki-laki lain karena bukan muhrim, maka akses sosialnya dihabisi.

Si perempuan tak boleh bertemu dengan keluarganya, karena tanggung jawab suami untuk memenuhi kebutuhan, ia dibuat tak bisa mengubungi rekan terdekat. Maka saat terjadi kekerasan dalam rumah tangga, ia nyaris tak punya support system yang membantunya menghadapi masalah ini. Ia dibuat tak berdaya, tak mampu berdikari, sehingga terpaksa hidup dalam relasi tak sehat.

Ada pula kasus di mana pasangan pacar memiliki relasi yang timpang. Si lelaki (atau perempuan, dating violence bisa terjadi pada siapapun) dominan, si perempuan dibikin tunduk. Bahwa mukul itu karena dia cemburu, mukul karena dia sayang, mukul karena dia peduli, sehingga, kekerasan menjadi satu-satunya hal yang ia tahu bahwa seseorang peduli.

Si perempuan tak pernah menikmati hubungan yang setara. Di mana ia diperbolehkan mengkritik, berdebat, dan saling memberi masukan terhadap relasi pacaran. Si perempuan tidak pernah diajarkan bahwa rasa kecewa dan marah tidak perlu ditunjukkan dengan kekerasan dan sikap agresif. Bahwa memukul, memaki, dan mengintimidasi bukan hal yang sehat.

Kedua relasi ini ini menempatkan satu pihak sebagai subordinat, sementara yang lain sebagai patron. jelas tidak seimbang, maka satu pihak dieksploitasi sementara yang lain memonopoli. Rasa bersalah dan tak berdaya kerap kali dimaknai sebagai rasa sayang dan cinta. Ini tentu tidak sehat.

Kita perlu menyadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki kesadaran yang rendah akan relasi kuasa, ini semakin diperparah dengan kondisi masyarakat yang menguntungkan satu pihak saja. Masyarakat mengafirmasi dan mentolerir kekerasan sebagai jalan mengatasi masalah, dalam kasus kekerasan seksual, kerap kali korban yang mesti membuktikan dirinya benar, ketimbang pelaku membuktikan dirinya tak bersalah.

Akibat tidak adanya keberpihakan, psikologi korban yang rentan dan rapuh, semakin takut melapor. budaya maskulin yang mengakar membuat korban lagi lagi disalahkan. “Kok mau aja digituin?” “Kok, baru lapor sekarang?” “Kalau ga suka kok berkali-kali kejadiannya?”

Kekerasan dalam pacaran kerap kali terkubur, ini jarang dibicarakan. Banyak orang mengira masalah dalam pacaran adalah hal biasa, sesekali melakukan kekerasan adalah hal yang wajar. Ini yang kemudian membuat korban enggan bicara, dan kalau bicara, kadang tidak dianggap. Kekerasan dalam pacaran meniru pola kekerasan dalam rumah tangga.

Maka sebelum gencar ribut memaki, mengapa seseorang tetap tinggal padahal sudah jelas disakiti, barangkali ini karena kita tak pernah peduli dan tak pernah paham bagaimana mesti memulai hubungan yang baik.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY