BAGIKAN

Sejak saya pindah ke Jogja beberapa kali saya mendengar kabar tuduhan yang tidak hanya lucu, tapi juga menggelikan. Misalnya tuduhan bahwa saya datang ke Jogja untuk mengencani mahasiswi dan menjadi buzzer Angkasa Pura yang tengah bersitegang dengan warga Kulon Progo. Tuduhan ini saya anggap bualan saja, toh saya ke Jogja untuk bekerja dan bukan menanggapi gosip semacam itu.

Saat menulis ini saya tengah berusaha keras untuk berpikir jernih dan tidak marah. Terlalu banyak hal konyol yang membuat saya kesal. Misalnya tuduhan-tuduhan yang masif kepada saya. Masalah semakin berkembang karena belakangan tuduhan yang ada jadi semakin jahat. Beberapa menyebut saya menerima uang dari Semen Rembang, yang lain menduh ibu saya dikejar debt collector.

Apakah ada bukti bahwa saya pernah menerima uang dari angkasa pura? Atau semen rembang? Ini lucu, mengapa saya harus membuktikan tuduhan yang saya tak tahu asalnya?

Pangkal masalah ini adalah Hans David yang selama beberapa minggu ini terus mengganggu tanpa henti. Beberapa kawan bertanya kepada saya, kenapa diam saja? Jelas saya diam, karena pertama saya tidak follow dia, kedua segala tuduhan itu tak bisa saya baca kecuali ada orang yang menunjukkan kepada saya.

Lalu mengapa diam saat dituduh terima uang dari angkasa pura dan semen rembang?

Pertama saya merasa tak perlu menjawab. Untuk apa? Tuduhan itu lebih mirip fiksi karena sekeras apapun mencari bukti mustahil ketemu karena itu tak pernah terjadi. Misal, saya menerima uang dari Angkasa Pura dan Semen Rembang, bagaimana caranya? Via apa? Untuk apa? Yang lain ibu saya dicari debt collector, itu benar, tapi untuk masalah apa dan bagaimana? Ini masalah keluarga saya yang hanya diketahui segelintir orang, menarik bagaimana Hans membawa ibu untuk masuk dalam narasinya.

Lalu orang bertanya, Hans kenapa sih kok benci sekali?

Saya juga tidak tahu. Selama ini saya merasa tak pernah mengganggu dia, beberapa kali menggoda dia mungkin benar. Dulu dia pernah menyebut kiri gembrot, saya tanggapi hal itu dengan guyonan. Lalu ejekan SJW, saya tanggapi dengan riang gembira. Belakangan tuduhan itu makin menjadi dan membawa orang-orang terdekat saya.

Saya juga ingin tahu ada masalah apa Hans sehingga ia bisa berhari-hari mengejek, menuduh, dan membahas kehidupan saya tanpa henti. Mulai dari mengambil cerita di instastory, tulisan di esai, sampai dengan yang mengarang cerita saya punya grup wasap penidur folower. Jika memang dia punya masalah yang ingin diselesaikan, saya bisa datangi dia, sebutkan tempat dan waktu. Saya tak pernah lari dari masalah dan selalu berupaya menghadapinya sendirian.

Saya tidak sempurna. Bahwa saya melakukan kesalahan di masa lalu itu benar. Saya belajar untuk memperbaiki diri dan berusaha untuk jadi orang yang lebih baik. Tentu saya pernah jadi pribadi yang genit menggoda orang di medsos, juga bahkan menjadi brengsek karena jalan dengan follower, tapi saya kira itu dalam batas consent dan wilayah yang jelas. Menuduh saya dengan fitnah dan menyebarkan berita bohong tak lagi bisa saya terima.

Saya mungkin munafik. Sebisa mungkin saya menyadari itu dan tidak membela diri. Jika memang ada orang yang saya lukai lantas melapor pada Hans, itu haknya. Saya sudah minta maaf dan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kesalahan yang saya buat. Tidak dengan terus menerus mengganggu orang di media sosial tanpa henti, selama berhari-hari. Jika Hans memang merasa saya bersalah, maka saya siap menghadapinya. Tapi jika tidak, dia harus memperbaiki apa yang ia buat.

Orang menganggap saya diam karena berpikir tuduhan Hans benar. Hans tidak benar, demikian juga mereka yang berasumsi demikian. Saya tak pernah sembunyi akun medsos saya tak dikunci, siapapun bisa datang dan bertanya. Orang-orang yang ingin tahu menghubungi saya dan menemui saya. Mereka bertanya dan saya menjawab, tidak sekedar menuduh di media sosial tanpa bukti.

Saya diam jika anda menyerang pribadi saya sebagai individu, tapi tuduhan terakhir bahwa saya punya grup wassap yang isinya mendekati perempuan untuk ditiduri itu keterlaluan. Apalagi sampai membawa teman diduga sebagai Lika dan Bhaga. Saya tidak akan diam untuk mereka yang mencoba menyakiti orang yang saya sayang.

Tulisan ini juga sebagai tawaran, jika Hans memang merasa punya masalah dengan saya, sebutkan tempat dan di mana kita bisa bertemu. Saya akan temui dan bicarakan masalah ini secara terbuka.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY